kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Dolar Bergerak Terbatas Rabu (7/1) Pagi, Pelaku Pasar Menanti Data Ekonomi AS


Rabu, 07 Januari 2026 / 08:54 WIB
Dolar Bergerak Terbatas Rabu (7/1) Pagi, Pelaku Pasar Menanti Data Ekonomi AS
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Gary Cameron)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak dalam rentang sempit pada perdagangan Rabu (7/1/2026) pagi, seiring pelaku pasar menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting AS yang diperkirakan akan menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Para pelaku pasar menilai, prospek kebijakan moneter AS saat ini jauh lebih berpengaruh terhadap pergerakan mata uang global dibandingkan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Hal ini terlihat dari pasar keuangan yang relatif tenang, dengan saham global menguat, sementara mata uang dan obligasi nyaris tidak bereaksi terhadap intervensi AS di Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat Rabu (7/1), Sektor Pertambangan Memimpin Reli

Selain itu, pasar juga mencermati langkah China yang pada Selasa (6/1) melarang ekspor barang dual-use ke Jepang yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer.

Kebijakan tersebut merupakan respons terbaru Beijing terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan pada awal November lalu. Namun, kebijakan itu juga tidak banyak memengaruhi pasar valuta asing.

“Saya melihat masih banyak ketidakpastian terkait apakah akan terjadi perubahan rezim di Venezuela dan dampaknya terhadap pasokan minyak. Untuk saat ini, pasar cenderung mengambil pandangan optimistis dan lebih fokus pada data ekonomi AS,” ujar Carol Kong, analis mata uang Commonwealth Bank of Australia.

Menurutnya, tambahan pembatasan ekspor China terhadap Jepang juga belum cukup kuat untuk menggoyang pasar valuta asing global.

Pada perdagangan awal Asia, pergerakan mata uang relatif terbatas. Dolar Australia sempat menjadi perhatian setelah turun 0,3% ke level terendah sesi di US$0,6717 menyusul data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan, meski kemudian berhasil memangkas pelemahan tersebut.

Baca Juga: Neymar Perpanjang Kontrak Bersama Santos hingga 2026, Bidik Kembali ke Piala Dunia

Pound sterling tercatat stagnan di US$1,3502, sementara yen Jepang menguat tipis ke level 156,63 per dolar AS.

Euro naik tipis 0,03% ke US$1,1692, setelah pada sesi sebelumnya melemah 0,3% akibat data inflasi di sejumlah negara besar zona euro yang melambat lebih cepat dari perkiraan.

Pelaku pasar saat ini berada dalam mode wait and see menjelang rilis serangkaian data ketenagakerjaan AS, termasuk data penggajian sektor swasta dan lowongan pekerjaan yang akan dirilis Rabu, sebelum laporan nonfarm payrolls yang sangat dinantikan pada Jumat mendatang.

Indeks dolar tercatat nyaris tidak berubah di level 98,58, sementara dolar Selandia Baru diperdagangkan di kisaran US$0,5784.

“Rilis paling berdampak adalah laporan tenaga kerja bulanan ADP, karena potensi kenaikan tingkat pengangguran menjadi salah satu risiko utama di awal tahun ini,” kata Jose Torres, ekonom senior Interactive Brokers.

Ia menambahkan, selain risiko pasar tenaga kerja, investor juga mewaspadai kemungkinan investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI) gagal memberikan imbal hasil spektakuler seperti yang diharapkan.

Baca Juga: Bayer Gugat Produsen Vaksin COVID-19 Terkait Teknologi mRNA

Investor masih kesulitan membaca kondisi ekonomi AS secara akurat setelah penutupan pemerintahan AS yang berkepanjangan tahun lalu menghambat pengumpulan dan publikasi data ekonomi penting.

Meski demikian, pasar tetap meyakini The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali lagi tahun ini.

Ekspektasi tersebut terus menekan dolar AS, di tengah meningkatnya perbedaan pandangan di internal The Fed serta ketidakpastian terkait calon Ketua The Fed berikutnya yang akan dipilih Presiden Donald Trump.

Selanjutnya: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Rabu (7/1)

Menarik Dibaca: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Ini Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Rabu (7/1)




TERBARU

[X]
×