Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Dolar AS tertahan di dekat level terendah dalam beberapa bulan pada Senin (24/8/2026) di tengah pasar yang gelisah akibat janji Departemen Keuangan AS untuk membeli kembali lebih banyak obligasi jangka panjang. Sementara para pedagang menantikan rincian sanksi terhadap Iran serta pidato kebijakan minggu ini di AS dan Jepang.
Mengutip Reuters, Dolar Kanada melemah 0,3% dalam perdagangan di Asia menjadi US$ 1,3807 per dolar, setelah perundingan perdagangan dengan AS gagal dan Washington memberlakukan tarif 50% atas barang-barang Kanada, yang dibalas dengan tindakan serupa oleh Kanada.
Dolar Australia dan Selandia Baru diperdagangkan tepat di bawah level tertinggi tiga bulan, masing-masing di angka US$ 0,7166 dan US$ 0,5972.
Baca Juga: AS Batalkan Latihan Gabungan Marinir dengan Korsel, Terkendala Pengerahan Pasukan
Euro bertahan dengan nyaman di atas level US$ 1,16 pada angka US$ 1,1680, sementara yen tetap berada di posisi kuat di bawah level 159 per dolar.
Data hari Jumat yang menunjukkan pertumbuhan sektor jasa AS terkuat dalam hampir dua tahun pada bulan Agustus sempat menahan aksi jual dolar, namun tidak cukup memicu lonjakan nilai mata uang tersebut.
Dolar mencatat penurunan mingguan terbesar terhadap bitcoin dalam hampir 3,5 tahun pada hari Minggu dan merosot tajam terhadap emas akibat kekhawatiran yang muncul kembali bahwa mata uang tersebut akan melemah jika AS berupaya menekan imbal hasil obligasi.
Imbal hasil obligasi jangka panjang terus meningkat secara global akibat kombinasi dari prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, ekspektasi inflasi yang meningkat, dan kekhawatiran mengenai utang negara yang membengkak.
Pekan lalu, setelah imbal hasil obligasi tenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang menjadi US$ 4 miliar per operasi.
Angka tersebut tergolong kecil di pasar yang bernilai US$ 32 triliun, namun sinyal intervensi itu membuat para pedagang khawatir dan menekan nilai dolar.
"Dengan berupaya menahan penurunan harga sekuritas berdurasi panjang, dolar menjadi satu-satunya saluran penyesuaian yang tersisa untuk mendorong arus masuk modal asing guna membiayai transaksi berjalan AS," ungkap analis Goldman Sachs dalam sebuah catatan.
Baca Juga: Topan Narra Sebabkan Kekacauan di China dan Vietnam, Picu Hujan dan Banjir
Mata uang poundsterling bertahan kuat di level US$ 1,3650 pada perdagangan pagi, sementara yuan—yang mencatat kenaikan mingguan selama delapan pekan berturut-turut pekan lalu—bergerak di dekat level tertinggi dalam 3,5 tahun di angka 6,7232 per dolar.
Sanksi dan Warsh
Pada hari Senin pukul 18.00 GMT, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan mengadakan konferensi pers setelah mengancam akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran; pasar pun menyoroti apakah ia juga akan menargetkan China.
Menteri Luar Negeri Iran telah menepis ancaman sanksi baru AS tersebut sebagai tanda "keputusasaan".
Pelaku pasar juga menantikan kejelasan mengenai prospek suku bunga AS saat Ketua Federal Reserve Kevin Warsh berbicara di Jackson Hole, Wyoming, pada hari Jumat.
Baca Juga: Harga Emas Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan Menjelang Rilis Data Inflasi AS
Ia dipastikan akan menghadapi pertanyaan seputar langkah pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan.
"Komentar apa pun mengenai neraca keuangan, pasokan durasi, atau premi jangka waktu (term premium) dapat lebih mempengaruhi pergerakan obligasi jangka panjang dibandingkan data itu sendiri. Namun, mengingat gaya bicara Warsh yang biasanya hati-hati dan terukur, kami tidak terlalu berharap banyak akan adanya kejutan besar," ujar ahli strategi BNY, Geoff Yu.
Penampilan Deputi Gubernur Bank of Japan (BOJ), Ryozo Himino, pada hari Kamis juga akan dicermati sebagai pembuka jalan menuju pertemuan kebijakan bulan depan. Secara khusus, investor akan memantau apakah ia akan menepis ekspektasi pasar yang memperkirakan laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat.
"Himino mungkin akan memberi sinyal bahwa BOJ semakin dekat untuk kembali menaikkan suku bunga," kata ahli strategi Commonwealth Bank of Australia, Joe Capurso.
Namun, komentar bernada hawkish kemungkinan hanya akan memberikan tekanan penurunan yang terbatas pada USD/JPY. Perkembangan di pasar obligasi AS merupakan faktor pendorong yang lebih penting bagi USD/JPY.














