kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Gembok Perdagangan Spekulatif, Bank Sentral India Perketat Aturan Pinjaman Sekuritas


Minggu, 15 Februari 2026 / 15:17 WIB
Gembok Perdagangan Spekulatif, Bank Sentral India Perketat Aturan Pinjaman Sekuritas
ILUSTRASI. Bank Sentral India (RBI) perketat aturan pendanaan bagi sekuritas (REUTERS/Francis Mascarenhas)


Sumber: Bloomberg | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Sekuritas di India bakal makin sulit mencari pinjaman dari bank. Bank sentral India memperketat aturan pemberian pinjaman yang bisa diambil oleh perusahaan yang melakukan perdagangan saham dan komoditas secara mandiri serta menawarkan leverage kepada klien.

Bloomberg melaporkan, Minggu (15/2/2026), mengutip pengumuman di situs Reserve Bank of India (RBI) yang dipublikasikan Jumat (13/2/2026) malam, semua fasilitas kredit untuk perusahaan sekuritas harus didukung oleh jaminan. Sementara pinjaman untuk perdagangan atas rekening sendiri atau investasi oleh pialang akan dilarang.

Aturan yang disebut sebagai aturan kehati-hatian untuk perantara pasar modal seperti pialang saham dan komoditas akan berlaku mulai 1 April, kata bank sentral. Langkah ini diambil untuk mengurangi aktivitas pasar spekulatif di negara Asia Selatan tersebut.

Baca Juga: Air India Didenda US$ 110.350 karena Menerbangkan Airbus Tanpa Izin Kelaikan Udara

Langkah-langkah yang lebih ketat akan meningkatkan beban dalam pemenuhan modal bagi perusahaan perdagangan mandiri. Dus, kebijakan ini berpotensi menekan keuntungan.

Bank-bank India secara tradisional memang tidak secara langsung membiayai perdagangan mandiri. Tapi selama ini, pialang kerap mengalihkan sementara pinjaman modal kerja jangka pendek untuk modal trading. Kebijakan baru RBI menutup celah ini.

Perusahaan perdagangan mandiri menyumbang lebih dari 50% dari perputaran opsi saham di National Stock Exchange of India Ltd. (NSE) di tahun lalu. Dalam perdagangan saham tunai, pangsa pasar proprietary trading mencapai level tertinggi dalam 21 tahun di NSE, yakni sekitar 30%.

Baca Juga: Bank Sentral India Usulkan Koneksi Mata Uang Digital BRICS

Langkah terbaru ini diumumkan hanya beberapa hari setelah India secara tajam menaikkan pajak transaksi atas perdagangan derivatif saham tunggal dan indeks dalam upaya untuk mengurangi perdagangan spekulatif. Dikombinasikan dengan aturan baru bank sentral, pelaku pasar khawatir aturan tersebut akan membuat volume perdagangan berkurang.

RBI juga meminta bank untuk menuntut agar jaminan yang diberikan bank atas nama pialang untuk perdagangan milik sendiri dijamin sepenuhnya. 50% jaminan harus berupa uang tunai dan sisanya dengan instrumen setara uang tunai dan surat berharga pemerintah.

Jadi, aturan baru ini mempersempit jenis efek yang dapat ditawarkan oleh perusahaan perdagangan sebagai jaminan kepada bank.

Baca Juga: Skandal McDonald's India Pakai Minyak Tak Layak dan Tomat Busuk

Bank sentral juga memperketat aturan pinjaman untuk fasilitas perdagangan margin, di mana pialang saham menawarkan leverage kepada klien mereka. Pinjaman yang diberikan oleh bank untuk produk tersebut harus dijamin sepenuhnya dengan uang tunai dan instrumen efek likuid lainnya.

Nilai saham yang ditawarkan sebagai jaminan oleh pialang akan dihitung dengan diskon valuasi 40%.

Fasilitas perdagangan margin telah berkembang pesat menjadi pasar senilai lebih dari 1 triliun rupee, atau sekitar Rp 185,9 triliun, bagi pialang saham. Klien dapat memperoleh leverage hingga lima kali lipat dari modal.

Selanjutnya: Bahlil Pastikan Akan Maju Sebagai Caleg DPR RI pada Pemilu 2029

Menarik Dibaca: HP Android Bebas Iklan 2026: Rasakan Nyaman Tanpa Gangguan!




TERBARU

[X]
×