Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – DUBAI/TEL AVIV/WASHINGTON. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan tersebut.
Terbaru, Iran dilaporkan membakar dua kapal tanker di perairan Irak, sekaligus memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel.
Konflik yang dipicu oleh serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran hampir dua pekan lalu ini telah menewaskan sekitar 2.000 orang serta memicu kekacauan pada pasar energi dan transportasi global.
Serangan tersebut juga memicu eskalasi konflik di berbagai wilayah Timur Tengah. Negara-negara konsumen energi kini mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah besar guna meredam guncangan harga energi yang disebut sebagai salah satu yang terburuk sejak krisis minyak pada 1970-an.
Badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, melaporkan bahwa lebih dari 1.100 anak telah tewas atau terluka sejak konflik dimulai.
Baca Juga: Harga Emas Stabil, Penguatan Dolar Mengimbangi Kekhawatiran Inflasi AS
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa Amerika Serikat telah memenangkan perang tersebut. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah rapat umum bergaya kampanye di Kentucky menjelang pemilu paruh waktu November, ketika Partai Republik disebut tertinggal dalam sejumlah survei.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak ingin meninggalkan konflik terlalu cepat. “Kami tidak ingin pergi terlalu cepat, bukan? Kami harus menyelesaikan pekerjaan ini,” ujarnya pada Rabu (12/3/2026).
Harga minyak melonjak
Pasar energi global langsung bereaksi terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan produsen minyak utama tersebut. Harga minyak yang sempat melonjak mendekati US$120 per barel pada awal pekan, sempat turun ke kisaran US$90 per barel sebelum kembali naik hampir 5% pada perdagangan Rabu.
Kenaikan harga juga berlanjut pada perdagangan Asia pada Kamis (13/3), dipicu kekhawatiran baru terhadap gangguan pasokan minyak global. Dampak ketidakpastian ini juga terasa di pasar keuangan, di mana indeks saham utama Wall Street turun dan diikuti oleh pelemahan pasar saham Asia.
Iran secara terbuka menyatakan bahwa pihaknya siap memberikan guncangan ekonomi berkepanjangan. Juru bicara komando militer Iran mengatakan kepada Amerika Serikat agar bersiap menghadapi harga minyak yang jauh lebih tinggi.
“Bersiaplah menghadapi harga minyak US$200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan kawasan, yang telah Anda destabilisasikan,” ujarnya.
Serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas energi
Sejumlah pejabat pelabuhan serta perusahaan keamanan maritim melaporkan bahwa kapal-kapal bermuatan bahan peledak milik Iran diduga menyerang dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak hingga terbakar. Serangan tersebut menewaskan satu awak kapal.
Selain itu, proyektil juga dilaporkan menghantam tiga kapal dagang di perairan Teluk.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai serangan tersebut merupakan respons langsung Iran terhadap keputusan negara-negara konsumen energi untuk melepas cadangan minyak strategis dalam skala besar.
Baca Juga: Krisis LPG di India: Teh hingga Makanan Panas Mulai Hilang dari Menu
Iran juga menargetkan tangki penyimpanan bahan bakar di fasilitas energi di Muharraq, Bahrain, menurut keterangan kementerian dalam negeri negara tersebut.
Pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah
Sebagai respons terhadap potensi krisis energi global, International Energy Agency (IEA) merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global.
Langkah ini dinilai sebagai intervensi terbesar dalam sejarah pasar minyak dan bertujuan meredam lonjakan harga akibat konflik.
Trump mengatakan keputusan tersebut akan membantu menurunkan harga minyak secara signifikan.
Sementara itu, Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan Trump telah mengizinkan pelepasan 172 juta barel minyak dari cadangan strategis Amerika Serikat mulai pekan depan.
Selat Hormuz diblokade
Situasi semakin rumit setelah jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz dilaporkan tidak dapat dilalui dengan aman.
Selat yang berada di sepanjang pesisir Iran tersebut merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Juru bicara militer Iran mengatakan bahwa selat tersebut “tanpa diragukan” berada di bawah kendali Iran.
Menanggapi situasi ini, kelompok negara maju Group of Seven (G7) yang terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Italia, Inggris, Jerman, dan Prancis sedang mempertimbangkan opsi pengawalan kapal agar dapat melintas dengan aman di kawasan Teluk.
Trump juga mengklaim bahwa pasukan Amerika Serikat telah menghancurkan 58 kapal angkatan laut Iran dan menyebut Iran kini “hampir mencapai batas kemampuannya”.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Turun, Terseret Kenaikan Harga Minyak dan Perang Berkepanjangan
Meski demikian, sejumlah sumber menyebut Iran telah menempatkan sekitar selusin ranjau laut di jalur pelayaran tersebut, sehingga memperumit upaya membuka blokade.
Ancaman meluas
Laporan dari ABC News menyebutkan bahwa Federal Bureau of Investigation (FBI) telah memperingatkan potensi serangan drone Iran terhadap wilayah Pantai Barat Amerika Serikat.
Namun Trump mengatakan dirinya tidak khawatir Iran akan menyerang wilayah AS.
Di sisi lain, U.S. Department of State memperingatkan bahwa Iran dan milisi sekutunya kemungkinan akan menargetkan infrastruktur minyak dan energi milik Amerika Serikat di Irak.
Pejabat Amerika Serikat dan Israel menyatakan tujuan operasi militer mereka adalah mengakhiri kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan militer di luar wilayahnya serta menghancurkan program nuklir negara tersebut.
Seorang pejabat militer Israel mengatakan pihaknya masih memiliki daftar panjang target di Iran, termasuk fasilitas rudal balistik dan instalasi terkait program nuklir.
Di tengah lonjakan harga bahan bakar di tingkat konsumen, harga minyak kini menjadi faktor penting dalam kalkulasi strategis di balik konflik yang terus memanas di Timur Tengah tersebut.













