kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Gempa Myanmar Tewaskan Lebih 1.600 Orang, Junta Izinkan Tim Penyelamat Asing Masuk


Sabtu, 29 Maret 2025 / 23:39 WIB
Gempa Myanmar Tewaskan Lebih 1.600 Orang, Junta Izinkan Tim Penyelamat Asing Masuk
ILUSTRASI. Rescue personnel work at the site of a building that collapsed, following a strong earthquake, in Bangkok, Thailand, March 29, 2025. REUTERS/Patipat Janthong 


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Pemerintah militer Myanmar akhirnya mengizinkan ratusan tim penyelamat asing masuk ke negara tersebut pada Sabtu (29/3), setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo menewaskan lebih dari 1.600 orang.

Bencana ini menjadi yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di negara yang tengah dilanda konflik dan krisis ekonomi.

Gempa dahsyat yang terjadi pada Jumat (28/3) siang itu menghancurkan bandara, jembatan, serta jalan raya, memperburuk situasi di negara yang telah lama terpuruk akibat perang saudara.

Baca Juga: Gempa Myanmar Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang, Upaya Penyelamatan Terus Dilakukan

Menurut laporan BBC Burmese, jumlah korban tewas di Myanmar telah mencapai 1.644 orang pada Sabtu (29/3).

Sementara itu, di negara tetangga Thailand, gempa ini juga menyebabkan gedung-gedung bergetar dan meruntuhkan sebuah gedung pencakar langit yang sedang dibangun di Bangkok, menewaskan sedikitnya sembilan orang.

Di kota Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, para penyintas berusaha menggali reruntuhan dengan tangan kosong demi menyelamatkan mereka yang masih terjebak, tanpa bantuan alat berat dan dengan minimnya kehadiran otoritas setempat.

Sementara itu, di Bangkok, upaya penyelamatan terus berlanjut di lokasi runtuhnya gedung 33 lantai.

Sebanyak 47 orang masih hilang atau terperangkap di bawah puing-puing, termasuk pekerja asal Myanmar.

Menurut perkiraan U.S. Geological Service, jumlah korban tewas di Myanmar bisa melebihi 10.000 orang, sementara kerugian ekonomi diperkirakan melampaui total produk domestik bruto (PDB) tahunan negara tersebut.

Baca Juga: UPDATE Korban Gempa Dahsyat Magnitudo 7,7 di Myanmar, Junta Sebut 144 orang Meninggal

Junta Myanmar Minta Bantuan Internasional

Sehari setelah meminta bantuan internasional, pemimpin junta Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, mengunjungi Mandalay, daerah yang terkena dampak paling parah.

"Ketua Dewan Administrasi Negara menginstruksikan pihak berwenang untuk mempercepat upaya pencarian dan penyelamatan serta memenuhi kebutuhan mendesak para korban," kata junta dalam pernyataan yang disiarkan di media pemerintah.

Menurut laporan awal dari Pemerintahan Persatuan Nasional (NUG) – kelompok oposisi yang mencakup anggota pemerintahan sipil yang digulingkan oleh junta pada 2021 – setidaknya 2.900 bangunan, 30 jalan, dan tujuh jembatan mengalami kerusakan akibat gempa.

"Karena kerusakan yang signifikan, bandara internasional di Naypyitaw dan Mandalay untuk sementara ditutup," ungkap NUG dalam pernyataannya.

Menara kontrol di bandara Naypyitaw dilaporkan runtuh, membuat bandara tersebut tidak dapat beroperasi.

Pihak junta Myanmar belum memberikan tanggapan atas laporan ini.

Baca Juga: Gempa Bumi Myanmar Rusak Bangunan, Ada Kekhawatiran Kondisi Bendungan Besar

Bantuan Internasional Mulai Berdatangan

Sebuah tim penyelamat dari China telah tiba di bandara Yangon, kota terbesar di Myanmar, sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah terdampak dengan bus, menurut media pemerintah.

Presiden China Xi Jinping berbicara langsung dengan Min Aung Hlaing dan berjanji memberikan bantuan senilai US$ 13,77 juta, termasuk tenda, selimut, dan peralatan medis darurat.

Amerika Serikat, yang memiliki hubungan tegang dengan militer Myanmar dan telah menjatuhkan sanksi terhadap pejabat junta, termasuk Min Aung Hlaing, juga menyatakan akan memberikan bantuan.

Sementara itu, India telah mengirimkan pesawat militer yang membawa bantuan kemanusiaan, termasuk 40 ton barang bantuan, dan berencana mengirim kapal dengan lebih banyak persediaan.

Negara lain seperti Rusia, Malaysia, dan Singapura juga mengirimkan bantuan berupa pasokan darurat dan tenaga medis.

Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN), yang mencakup Myanmar, menyatakan siap memberikan dukungan kemanusiaan.

"ASEAN siap membantu upaya pemulihan dan bantuan kemanusiaan," kata organisasi itu dalam pernyataan resminya.

Korea Selatan juga berjanji memberikan bantuan awal senilai US$ 2 juta melalui organisasi internasional.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 7,7 Mengguncang, Myanmar Umumkan Keadaan Darurat

Situasi Kritis di Lokasi Bencana

Di daerah yang terdampak paling parah, warga setempat sangat membutuhkan pertolongan.

Gempa yang terjadi pada siang hari itu mengguncang sebagian besar wilayah Myanmar, mulai dari dataran tengah di sekitar Mandalay hingga perbukitan Shan di timur, yang sebagian besar tidak berada di bawah kendali penuh junta.

Seorang warga di Mandalay mengatakan bahwa upaya penyelamatan tidak sebanding dengan skala bencana yang terjadi.

"Banyak orang masih terjebak, tapi tidak ada bantuan yang datang karena tidak cukup tenaga, alat berat, atau kendaraan," katanya melalui telepon, meminta agar identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.

Baca Juga: Pemimpin Junta Myanmar Umumkan Pemilihan Umum pada Desember 2025 atau Januari 2026

Thailand Juga Terkena Dampak

Di Bangkok, sekitar 1.000 km dari pusat gempa, tim penyelamat terus mencari pekerja konstruksi yang tertimbun reruntuhan gedung yang runtuh.

Mereka menggunakan ekskavator, drone, dan anjing pelacak untuk menemukan korban.

Wakil Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengatakan bahwa semua sumber daya telah dikerahkan untuk menemukan korban selamat dan mengevakuasi jenazah.

"Kami masih berharap menemukan orang yang selamat," katanya kepada wartawan. "Kami bekerja tanpa henti."

Seorang warga bernama Chanpen Kaewnoi, 39 tahun, bergegas ke lokasi reruntuhan setelah melihat laporan berita tentang gedung tempat ibu dan adiknya bekerja runtuh.

"Saya mencoba menelepon adik saya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban," katanya, setelah semalaman tidak tidur di lokasi kejadian.

"Saya ingin tetap di sini sampai ibu dan adik saya ditemukan. Saya ingin melihat wajah mereka lagi," tambahnya dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga: Junta Myanmar Perpanjang Keadaan Darurat untuk Amankan Persiapan Pemilu

Di Bangkok, ribuan bangunan lainnya juga diduga mengalami kerusakan akibat gempa. Dewan Insinyur Thailand mengatakan ada kemungkinan hingga 5.000 bangunan mengalami dampak struktural, termasuk menara perumahan.

"Kami sedang meninjau ratusan kasus," kata Anek Siripanichgorn, anggota dewan.

"Jika kami menemukan bangunan yang berpotensi berbahaya, kami akan segera mengirim insinyur untuk menilai kerusakannya."


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×