Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang baru saja berlaku dilaporkan langsung menghadapi pelanggaran di lapangan.
Militer Lebanon menyatakan bahwa Israel melakukan sejumlah pelanggaran sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Jumat (17/4/2026) dini hari, termasuk penembakan sporadis ke beberapa desa di wilayah selatan Lebanon.
Dalam pernyataannya dilansir Reuters, militer Lebanon meminta warga untuk menunda kembali ke wilayah selatan yang terdampak konflik. Hingga saat ini, pihak militer Israel belum memberikan tanggapan resmi.
Baca Juga: Australia Amankan Impor Pupuk dari Indonesia, Redam Risiko Kekurangan Pasokan
Gencatan senjata selama 10 hari sebelumnya disepakati antara Israel dan Lebanon, di tengah upaya meredakan ketegangan kawasan yang lebih luas, termasuk konflik yang melibatkan Iran.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran semakin terbuka.
Ia bahkan menyebut konflik tersebut “hampir berakhir” dan negosiasi lanjutan kemungkinan digelar akhir pekan depan.
Trump juga mengklaim Iran bersedia untuk tidak memiliki senjata nuklir dalam jangka panjang, meski isu tersebut masih menjadi poin krusial dalam perundingan sebelumnya.
Baca Juga: G7 Desak Perdamaian Timur Tengah, Waspadai Dampak Ekonomi Perang
Dampak Global Masih Membayangi
Konflik yang dimulai sejak akhir Februari tersebut telah menelan ribuan korban jiwa dan memicu lonjakan harga energi global, terutama minyak, yang berdampak pada inflasi dan stabilitas ekonomi dunia.
Jika gencatan senjata di Lebanon mampu membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih luas dengan Iran, hal ini akan menjadi capaian penting bagi pemerintah AS, terutama dalam upaya menstabilkan jalur energi global seperti Selat Hormuz.
Namun demikian, situasi di lapangan masih rapuh. Laporan pelanggaran gencatan senjata menunjukkan bahwa risiko eskalasi tetap tinggi.
Kelompok Hezbollah, yang didukung Iran, juga dilaporkan masih aktif hingga menjelang diberlakukannya gencatan senjata, dengan serangan terakhir terjadi hanya beberapa menit sebelum kesepakatan berlaku.
Trump pun secara terbuka mendesak Hezbollah untuk mematuhi kesepakatan tersebut.
“Saya harap Hezbollah bertindak baik selama periode penting ini. Tidak boleh ada lagi pembunuhan. Harus ada perdamaian,” ujarnya.
Baca Juga: Menhan AS Hegseth Serang Media, Samakan Jurnalis Anti-Trump dengan Musuh Yesus
Peluang Negosiasi Lanjutan
Ke depan, pembicaraan lanjutan antara Israel dan Lebanon direncanakan akan terus dilakukan. Trump mengungkapkan telah melakukan komunikasi intensif dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Ia bahkan berencana mengundang kedua pemimpin tersebut ke Gedung Putih dalam waktu dekat untuk membahas langkah menuju perdamaian yang lebih permanen.
Selain itu, AS juga mengerahkan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri, untuk mempercepat proses diplomasi di kawasan.
Sementara itu, Iran menyambut baik gencatan senjata di Lebanon dan menyebutnya sebagai bagian dari kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan.
Meski peluang perdamaian mulai terbuka, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa stabilitas kawasan masih jauh dari kata aman.













