Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (16/1/2026) setelah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan mendorong penguatan dolar dan mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan Federal Reserve dalam waktu dekat.
Meredanya ketegangan geopolitik juga turut menekan permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,2% ke level US$4.604,29 per ons pada pukul 07.33 GMT. Meski demikian, emas masih berpeluang mencatatkan kenaikan mingguan sekitar 2% setelah menembus rekor tertinggi sepanjang masa di US$4.642,72 per ons pada Rabu lalu.
Baca Juga: Regulator China Setujui Akuisisi Dowlais oleh American Axle
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari melemah 0,3% ke US$4.608,90 per ons.
Analis Capital.com Kyle Rodda menjelaskan, pelemahan emas dipicu oleh dua faktor utama, yakni meredanya risiko intervensi militer AS di Iran serta rilis data ekonomi AS yang menunjukkan belum adanya urgensi bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga.
“Data AS yang masuk mengindikasikan tidak ada tekanan kuat bagi The Fed untuk segera menurunkan suku bunga,” ujarnya.
Dari sisi makro, dolar AS berada di jalur penguatan mingguan ketiga berturut-turut setelah data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun 9.000 menjadi 198.000, lebih rendah dari estimasi 215.000 berdasarkan survei Reuters.
Penguatan dolar membuat komoditas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Baca Juga: UPDATE Jumat (16/1): Harga Minyak Naik Tipis, Brent ke US$63,81 & WTI ke US$59,27
Selain itu, emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) cenderung diuntungkan saat suku bunga rendah karena biaya peluang memegang emas menjadi lebih kecil.
Dari sisi geopolitik, sumber di Iran yang dihubungi Reuters menyebutkan bahwa aksi protes tampak mereda sejak awal pekan.
Presiden AS Donald Trump juga melunakkan sikapnya terkait kemungkinan intervensi militer, sehingga mengurangi dorongan permintaan emas sebagai aset aman.
Sementara itu, SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, mencatatkan kenaikan kepemilikan sebesar 0,05% menjadi 1.074,80 ton pada Kamis, level tertinggi dalam lebih dari tiga setengah tahun.
Di pasar fisik, permintaan emas di India masih lesu akibat harga yang kembali mencetak rekor, sehingga menekan minat beli ritel.
Baca Juga: Serangan Rusia Hancurkan Fasilitas Energi Kharkiv, Krisis Listrik Ukraina Kian Parah
Sebaliknya, emas diperdagangkan dengan premi di China karena permintaan tetap stabil menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot anjlok 1,8% ke US$90,66 per ons troi, meski masih mencatatkan kenaikan mingguan lebih dari 13% setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$93,57 per ons troi.
Laporan Vanda Research menyebut perak kini menjadi komoditas yang paling “padat posisi” di pasar karena aksi beli agresif investor ritel.
Harga platinum spot turun 2,1% ke US$2.358,95 per ons troi, sementara palladium merosot 2,9% ke US$1.748,50 per ons troi setelah sempat menyentuh level terendah lebih dari sepekan.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
