kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga Minyak Mahal Akibat Konflik AS-Iran, Impor China dari Saudi Turun Tajam


Selasa, 12 Mei 2026 / 10:21 WIB
Harga Minyak Mahal Akibat Konflik AS-Iran, Impor China dari Saudi Turun Tajam
ILUSTRASI. Negara Penghasil Minyak Bumi Terbesar di Dunia - Arab Saudi (DOK/sawteljamahir.com)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

​KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Ekspor minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan kembali turun pada Juni 2026 setelah para pembeli memangkas permintaan akibat tingginya harga minyak yang dipicu konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Melansir Reuters Selasa (12/5/2026), sumber perdagangan menyebut perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, diperkirakan hanya akan mengirim sekitar 10 juta barel minyak ke pelanggan di China pada bulan depan atau setara sekitar 333.333 barel per hari (bph).

Baca Juga: Pertemuan Xi-Trump Berpotensi Hasilkan Kesepakatan Pertanian

Volume tersebut diperkirakan menjadi level terendah sepanjang pencatatan data Kpler dan Reuters.

Angka itu juga jauh di bawah rata-rata ekspor Arab Saudi ke China sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 1,39 juta bph.

Beberapa kilang besar China seperti Sinopec, Sinochem, dan Rongsheng Petrochemical dilaporkan telah mengurangi alokasi pembelian minyak untuk Juni.

Saudi Aramco belum memberikan komentar terkait alokasi pengiriman minyak ke China pada Juni. Sementara perusahaan-perusahaan China tersebut juga belum menanggapi permintaan komentar.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Selasa (12/5), di Tengah Rapuhnya Negosiasi Damai AS-Iran

Pekan lalu, Arab Saudi menetapkan harga jual resmi (official selling price/OSP) minyak Arab Light untuk pasar Asia pada Juni dengan premi sebesar US$ 15,50 per barel.

Angka ini memang turun dari premi rekor US$ 19,50 per barel pada bulan sebelumnya.

Namun demikian, penurunan harga tersebut dinilai masih lebih kecil dibanding harapan pembeli di China sehingga minyak Saudi tetap tergolong mahal.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, ekspor minyak Arab Saudi mengalami tekanan seiring terganggunya jalur distribusi melalui Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia.

Pada April lalu, sejumlah perusahaan minyak milik negara China juga memangkas tingkat operasi kilang karena arus distribusi minyak dari kawasan Teluk masih terganggu akibat kondisi Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup.

Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 17.495 per Dolar AS Selasa (12/5), Jadi Mata Uang Asia Terlemah

Untuk menjaga pengiriman ekspor, Arab Saudi mengalihkan sebagian pasokan minyaknya menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah melalui jaringan pipa East-West Pipeline.

Analis Energy Aspects menilai turunnya volume ekspor Saudi ke China justru dapat menjadi keuntungan bagi pembeli lain di kawasan Asia Timur Laut.

Mereka memperkirakan sebagian tambahan pasokan minyak Saudi nantinya akan dialihkan ke negara-negara lain di kawasan tersebut.




TERBARU

[X]
×