Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan bursa saham Asia melemah dari level tertinggi sepanjang masa pada Kamis (23/4), seiring lonjakan harga minyak akibat meningkatnya gangguan pelayaran di kawasan Teluk. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang rapuh di tengah belum tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Sementara itu, pasar saham Eropa diperkirakan dibuka lebih rendah, dengan kontrak berjangka indeks kawasan turun 1,1%. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq juga terkoreksi masing-masing sekitar 0,5% pada sesi perdagangan Asia.
Padahal sebelumnya, Wall Street mencatat kinerja positif. Indeks S&P 500 naik 1% dan Nasdaq melonjak 1,6% ke level penutupan tertinggi baru, didorong oleh awal musim laporan keuangan yang kuat. Hal ini sempat meredakan kekhawatiran terhadap daya beli konsumen AS meski harga energi meningkat akibat konflik Iran.
Baca Juga: Bank Sentral Swiss Rugi US$634,15 Juta, Kenaikan Emas Tak Mampu Menutup Kerugian
Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang yang dirilis MSCI sempat mencetak rekor di 831,56 poin sebelum akhirnya berbalik turun 0,5%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 sempat menyentuh rekor tertinggi untuk hari kedua berturut-turut sebelum turun 0,9%. Pasar saham Taiwan dan Korea Selatan juga mengalami pola serupa—naik ke rekor baru lalu terkoreksi.
Di China, indeks blue chip CSI 300 turun 0,8%, sementara indeks Hang Seng melemah 1,1%.
Lonjakan Harga Minyak Picu Tekanan
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor utama pelemahan pasar. Harga minyak mentah Brent crude naik 1,4% ke level US$103,3 per barel, setelah melonjak 3,5% pada sesi sebelumnya hingga kembali menembus US$100 per barel.
Lonjakan ini dipicu oleh langkah Iran yang menangkap dua kapal kontainer yang hendak keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz. Aksi tersebut memperketat kendali Iran atas jalur pelayaran vital yang menjadi arteri utama distribusi energi global.
Analis Saxo, Charu Chanana, menyebut pasar saat ini berada dalam kondisi “sangat waspada”. Ia menilai situasi “tanpa perang, tanpa damai” membuat pasar rentan terhadap gejolak, bahkan hanya dari kekhawatiran eskalasi yang belum terverifikasi.
Baca Juga: Konflik Iran Dorong Laba Logistik Eropa, Prospek Jangka Panjang Tertekan
Kinerja Saham Global Beragam
Di Wall Street, sejumlah saham mencatat kenaikan signifikan. Saham GE Vernova melonjak 13,75% setelah menaikkan proyeksi pendapatan tahunan, didorong oleh booming kecerdasan buatan (AI). Sementara Boeing naik lebih dari 5% setelah melaporkan kerugian kuartalan yang lebih kecil dari perkiraan.
Di sisi lain, saham Tesla turun 2% setelah pasar merespons skeptis rencana peningkatan belanja besar untuk AI dan robotika, meskipun perusahaan mencatat arus kas bebas positif pada kuartal pertama.
Imbal Hasil Obligasi dan Mata Uang
Kenaikan harga minyak juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor dua tahun naik menjadi 3,8106%, sementara yield obligasi 10 tahun meningkat ke 4,3214%.
Di pasar valuta asing, pergerakan relatif stabil. Euro bertahan di level US$1,17, sementara dolar Australia yang sensitif terhadap risiko melemah 0,2% ke US$0,7147.
Strategis investasi global dari Nuveen, Laura Cooper, menilai pasar sejauh ini cukup tangguh dalam menghadapi berbagai risiko. Namun, ia mengingatkan bahwa daftar risiko terus bertambah, sementara solusi belum terlihat.












