Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak kembali menguat pada Selasa (11/8/2026), setelah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait kesepakatan damai serta pembukaan kembali Selat Hormuz menemui jalan buntu.
Kondisi tersebut turut membuat pergerakan saham Asia cenderung terbatas karena investor masih mencermati ketidakpastian inflasi global.
Baca Juga: Jeff Bezos Incar Saham Liverpool, Seberapa Besar Kekayaan Pendiri Amazon?
Kontrak berjangka Brent naik hingga menyentuh US$88 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$82,45 per barel. Keduanya merupakan level tertinggi sejak 31 Juli.
Kenaikan tersebut melanjutkan reli sekitar 5% pada perdagangan Senin (10/8).
Presiden AS Donald Trump pada Senin merespons persyaratan Iran untuk mencapai kesepakatan damai dengan tuntutannya sendiri.
Trump meminta Iran membayar kompensasi atas orang-orang yang tewas dalam perang, serangan, dan aksi protes.
Sikap tersebut dinilai berpotensi semakin mempersulit upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan minyak global.
"Kita sekarang berada dalam situasi kebuntuan, dalam hal siapa yang akan berkedip lebih dulu," kata Tony Sycamore, analis pasar di IG.
Menurut dia, situasi tersebut berpotensi berubah menjadi perang urat saraf. Pasar minyak diperkirakan bergerak dalam kisaran US$75-US$95 per barel sembari menunggu pihak mana yang lebih dahulu mengambil langkah.
Baca Juga: Aktivitas Bisnis Australia Membaik, Tapi Kepercayaan Pengusaha Masih Rapuh
Inflasi AS Jadi Perhatian
Kenaikan harga bahan bakar turut meningkatkan perhatian investor terhadap data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis Rabu (12/8).
Data indeks harga konsumen (CPI) AS Juli diperkirakan menunjukkan kenaikan 0,1% secara bulanan untuk inflasi umum dan 0,2% untuk inflasi inti.
Jika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan depan berpotensi kembali menguat. Saat ini, peluang kenaikan suku bunga Fed pada September masih berada di kisaran 50%.
"Kami melihat risiko lebih condong terhadap angka inflasi yang lebih tinggi, yang kemungkinan akan mendorong kenaikan kembali ekspektasi suku bunga dan berpotensi memicu kekhawatiran stagflasi," ujar Jonas Goltermann, kepala ekonom pasar di Capital Economics.
Menurut dia, ekonomi AS masih tumbuh sedikit lebih kuat dibandingkan kondisi ideal atau Goldilocks. Hal tersebut mengarah pada kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi.
Baca Juga: Yen Stabil Selasa (11/8), Pasar Tunggu Keputusan RBA dan Data Inflasi AS
Bursa Asia Bergerak Terbatas
Di pasar saham, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang bergerak antara zona positif dan negatif sebelum terakhir tercatat naik 0,2%. Indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,3%.
Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq naik 0,28%, sedangkan S&P 500 futures bertambah 0,1% setelah Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin.
Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun 0,05%, sedangkan FTSE dan DAX futures relatif datar.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh kabar Nvidia yang menggandeng enam institusi keuangan besar untuk membangun platform pembiayaan komputasi.
Inisiatif tersebut ditargetkan mampu menghimpun lebih dari US$500 miliar modal pihak ketiga untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Tony Sycamore menilai perkembangan tersebut menunjukkan besarnya investasi yang mengalir ke sektor AI.
Baca Juga: Terungkap! Trump Diam-diam Kabur dari Turki Pakai Pesawat Militer, Ada Ancaman Iran
Yen Kembali Tertekan
Di pasar valuta asing, yen kembali menjadi perhatian setelah bergerak di atas 159 yen per dolar AS.
Posisi tersebut masih jauh dari level 155,20 per dolar yang dicapai pekan lalu setelah serangkaian intervensi, termasuk intervensi bersama Jepang dan AS.
Analis Nomura menilai pasar masih mewaspadai kemungkinan intervensi pembelian yen oleh kedua negara. Karena itu, USD/JPY diperkirakan belum mudah menembus level 160 dalam waktu dekat.
Di sisi lain, dolar AS sedikit menguat seiring kenaikan harga minyak. Euro berada di sekitar US$1,1546, sementara poundsterling turun dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada Senin dan diperdagangkan di US$1,3512.
Sementara itu, harga emas spot naik 0,5% menjadi US$4.409,81 per ons.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
