Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga bergerak dalam rentang sempit pada perdagangan Selasa (20/1/2026), seiring investor masih menunggu katalis baru yang mampu mendorong harga menembus arah tertentu.
Melansir Reuters, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) naik 0,35% ke level 101.000 yuan per metrik ton atau setara US$14.509,62 pada pukul 03.30 GMT.
Sementara itu, harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) justru turun 0,50% ke US$12.901 per ton, masih bertahan di bawah level psikologis US$13.000.
Baca Juga: Aneh Tapi Nyata! Kota Emas Malaysia Kini Jadi Sentra Durian
Penguatan harga tembaga di bursa London pada Senin sebelumnya mulai kehilangan momentum.
Investor cenderung bersikap hati-hati di tengah meningkatnya risiko geopolitik global, sehingga lebih memilih aset lindung nilai seperti emas yang saat ini masih bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa.
Kenaikan harga tembaga pada awal pekan sempat didukung oleh melemahnya dolar AS, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan sebagai bagian dari upayanya mengambil alih Greenland.
Selain itu, data ekonomi menunjukkan ketahanan ekonomi China yang berhasil mencapai target pertumbuhan pada 2025.
Baca Juga: Takaichi Pangkas Pajak, Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Jepang Melonjak
Sepanjang tahun lalu, tembaga menjadi logam dasar dengan kinerja terbaik. Harga tembaga melonjak lebih dari 41% di LME dan 33% di SHFE, mencatat reli tahunan tertinggi sepanjang sejarah.
Di pasar logam dasar lainnya, kebijakan nikel Indonesia kembali menjadi sorotan. PT Vale Indonesia menyampaikan bahwa kuota produksi tambang yang diterimanya diperkirakan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan smelter yang masuk dalam rencana pengembangan perusahaan tahun ini.
Pernyataan tersebut muncul setelah pemerintah Indonesia pekan lalu mengindikasikan akan menyetujui kuota produksi bijih nikel sekitar 260 juta ton pada 2026.
Angka ini dinilai lebih rendah dibandingkan kuota 2025 dan berpotensi tidak mampu memenuhi permintaan industri pengolahan.
Kontrak nikel yang paling aktif sempat terkoreksi setelah sebelumnya melonjak 2,36% ke 144.180 yuan per ton, dan kini hanya mencatat kenaikan tipis 0,08%. Sementara harga nikel acuan tiga bulan di LME turun 1,45% ke US$17.870 per ton.
Baca Juga: Bank of Japan Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga, Yen dan Politik Picu Risiko Inflasi
Di antara logam dasar lainnya di SHFE, harga aluminium turun 0,31%, seng melemah 0,45%, timbal terkoreksi 0,32%, sementara timah melonjak 2,26%.
Adapun di LME, aluminium turun 0,78%, seng turun tipis 0,14%, timbal melemah 0,27%, dan timah bergerak relatif stabil.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
