kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Hubungan memanas, penjualan mobil Jepang di Korea Selatan anjlok


Senin, 05 Agustus 2019 / 20:00 WIB


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Hubungan bilateral antara Jepang dan Korea Selatan kian memanas. Hal ini menyebabkan Korea Selatan membatasi impor mobil merek Jepang sejak Juli 2019 lalu.

Akibatnya penjualan kendaraan Jepang merosot. Mengutip data industri Korea Selatan, sampai Juli 2019, penjualan Toyota Motor turun hingga 32%, sedangkan Honda merosot 34%.

Baca Juga: Mata uang China anjlok ke level terendah dalam satu dekade, siap perang mata uang?

Produsen mobil menilai faktor utama penurunan karena penjualan mobil bulan lalu lesu. Data Asosiasi Pemasok dan Distributor Mobil Korea (KAIDA) menunjukkan bahwa penjualan mobil Lexus, yang merupakan merek impor terbesar ketiga di Korea Selatan setelah Mercedes dan BMW juga mengalami penurunan penjualan sebanyak 25% dari bulan sebelumnya meski masih naik 33% dari tahun sebelumnya.

Tapi pelaku industri otomotif memperkirakan aksi boikot produk Jepang yang intensif akan mengurangi permintaan mobil ke depan seiring peningkatan ketegangan antara kedua negara.

“Kunjungan ke showroom menurun sementara konsumen juga menunda penandatanganan kontrak,” kata seorang pejabat Honda, dilansir dari Reuters, Selasa (5/8).

Baca Juga: Makin panas, BUMN China diminta untuk menangguhkan impor pertanian dari AS

Perwakilan Korea Selatan untuk Honda dan Toyota tidak mau berkomentar tentang tren maupun penurunan penjualan tersebut. Namun pengamat industri menilai sentimen publik menjadi penyebab merosotnya penjualan mobil Jepang.

“Publik Korea Selatan marah dengan Jepang. Maka itu menjadi sesuatu yang tabu apabila mengendarai mobil asal Jepang di Korea,” terang Profesor Teknik Otomotif di Universitas Daelim Kim Pil-Soo.




TERBARU

[X]
×