Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur Jepang mencatat ekspansi tercepat dalam empat tahun pada April 2026. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan produksi perusahaan yang mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Melansir Reuters, Survei sektor swasta yang dirilis oleh S&P Global pada Kamis (23/4) menunjukkan, indeks awal (flash) Japan Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) naik ke level 54,9 pada April.
Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Januari 2022, sekaligus meningkat dari posisi 51,6 pada Maret.
Baca Juga: Pendiri Telegram Diburu Rusia, Pavel Durov: “Bangga Dinyatakan Bersalah!”
Sebagai catatan, indeks PMI di atas 50 menandakan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menunjukkan kontraksi.
Salah satu pendorong utama kenaikan ini adalah subindeks output pabrik yang mencatat pertumbuhan paling kuat sejak Februari 2014.
Lonjakan produksi tersebut dipicu kekhawatiran pelaku industri terhadap potensi kekurangan pasokan di masa depan, seiring meningkatnya risiko gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah.
Associate Director Economics di S&P Global Market Intelligence Annabel Fiddes menyebutkan bahwa sejumlah perusahaan manufaktur meningkatkan output sebagai respons terhadap ketidakpastian yang dipicu konflik tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis Rabu (23/4) Pagi: Brent ke US$ 101,76 & WTI ke US$ 92,82
“Beberapa perusahaan melaporkan peningkatan produksi karena kekhawatiran dan ketidakpastian terkait perang di Timur Tengah serta potensi gangguan lanjutan pada rantai pasok,” ujarnya.
Di sisi lain, sektor jasa Jepang justru mengalami perlambatan. PMI jasa turun ke level 51,2 pada April, dari 53,4 pada Maret. Ini menjadi laju pertumbuhan paling lambat dalam 11 bulan terakhir.
Tekanan harga juga semakin meningkat di seluruh sektor swasta Jepang. Biaya input naik dengan laju tercepat sejak Januari 2023, sementara harga jual output mencatat kenaikan paling tinggi sejak data gabungan pertama kali tersedia pada akhir 2007.
Sementara itu, tingkat kepercayaan pelaku usaha melemah untuk bulan kedua berturut-turut dan jatuh ke level terendah sejak Agustus 2020, saat pandemi COVID-19 masih berlangsung.
Baca Juga: Heboh Merger Transatlantik: Deutsche Telekom & T-Mobile Bisa Jadi Raja Telekom Dunia
Secara keseluruhan, PMI komposit Jepang yang menggabungkan sektor manufaktur dan jasa turun menjadi 52,4 pada April, dari 53,0 pada Maret.
Penurunan ini mencerminkan perlambatan di sektor jasa yang mengimbangi kinerja kuat sektor manufaktur.













