Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pejabat Federal Reserve (The Fed) mengatakan pada Rabu (6/5/2026) bahwa perang yang didukung Amerika Serikat melawan Iran meningkatkan risiko terjadinya guncangan inflasi yang berkepanjangan. Kondisi ini didorong oleh harga minyak yang tetap tinggi serta kekhawatiran baru mengenai gangguan rantai pasok global.
Mengutip Reuters, Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan para eksekutif bisnis menyampaikan kepadanya tak lama setelah konflik pecah pada 28 Februari bahwa kenaikan harga minyak dalam jangka pendek tidak akan menjadi masalah besar. Namun, jika harga minyak tinggi berlangsung berbulan-bulan, tekanan rantai pasok akan semakin berat, mirip dengan kondisi yang mendorong lonjakan inflasi saat pandemi Covid-19.
“Kalau ini terjadi bulan demi bulan dengan harga minyak tinggi yang berkepanjangan, mereka akan mulai merasakan tekanan yang cukup intens pada rantai pasok,” kata Goolsbee dalam panggilan video dengan jurnalis setelah menghadiri konferensi Milken Institute di Los Angeles.
Goolsbee mengatakan, tanda-tanda masalah tersebut mulai muncul. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar gangguan yang akan terjadi karena perusahaan mulai menghabiskan stok bahan baku yang mereka miliki, termasuk bahan kimia industri dan input lainnya yang distribusinya terganggu. Selain itu, harga bahan bakar yang tinggi terus mendorong kenaikan biaya pengiriman dan biaya logistik lain.
Meski sempat ada kekhawatiran perang akan menekan pertumbuhan lapangan kerja dan permintaan AS sekaligus menaikkan harga, menurut Goolsbee, dampaknya belum mengarah ke stagflasi.
“Ini belum menjadi guncangan yang bersifat stagflasi. Ini baru menjadi guncangan inflasi. Dan semakin lama kondisi ini berlangsung, semakin membuat saya gelisah,” ujarnya.
Baca Juga: Iran Tinjau Proposal Baru AS, Sinyal Kesepakatan Akhiri Konflik Teluk Menguat
Dengan inflasi masih bertahan sekitar satu poin persentase di atas target The Fed sebesar 2%, serta ekspektasi inflasi yang bisa naik lagi, investor kini melihat peluang kecil The Fed memangkas suku bunga setidaknya selama satu tahun ke depan atau lebih.
Secara terpisah, Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan risiko kebijakan moneter kini bergeser ke arah inflasi yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat membuat suku bunga bertahan di level tinggi “untuk beberapa waktu”, bahkan mungkin perlu dinaikkan.
“Inflasi berjalan jauh di atas target kita,” kata Musalem dalam acara Mississippi Bankers Association di Fairhope, Alabama. Ia menyebut risiko kini muncul baik dari sisi tenaga kerja maupun inflasi, tetapi menurutnya kecenderungan risiko lebih condong ke arah inflasi. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed setidaknya akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Musalem mengatakan masih ada skenario masuk akal di mana The Fed dapat memangkas suku bunga, misalnya jika permintaan melemah dan pengangguran naik. Namun pada saat yang sama, ia menilai ada kemungkinan pula bank sentral harus menaikkan biaya pinjaman.
“Ada banyak ketidakpastian saat ini, dan penting untuk melihat bagaimana situasi berkembang,” kata Musalem. Ia menambahkan tekanan inflasi mulai meluas melampaui dampak tarif dan harga minyak tinggi akibat perang Timur Tengah.
Di Internal The Fed, Muncul Pembahasan Kemungkinan Kenaikan Suku Bunga
Harga minyak bergerak volatil, naik turun seiring laporan mengenai kemajuan atau kegagalan upaya mengakhiri konflik. Harga minyak acuan global sempat turun tajam semalam setelah muncul kabar potensi kesepakatan, namun kemudian kembali naik ke atas US$ 100 per barel.
Harga rata-rata bensin di AS naik dari sekitar US$ 3 menjadi lebih dari US$ 4,50 per galon, menurut kelompok advokasi pengendara AAA.
Sementara itu, indikator tekanan rantai pasok global milik The Fed New York melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2022, ketika rantai manufaktur masih terganggu akibat pandemi dan dunia menghadapi lonjakan inflasi sistemik.
“Ini juga merupakan inflasi inti yang harus kita khawatirkan,” kata Musalem. Ia menambahkan bahwa pelaku usaha menyampaikan kenaikan harga aluminium, helium, solar, serta input industri lain akan bersifat mengganggu. Ada pula efek psikologis yang dapat menekan perekrutan tenaga kerja meskipun risiko kenaikan harga tetap meningkat.
Baca Juga: Iran Kaji Proposal Baru AS, Sinyal Kesepakatan Akhiri Konflik Kian Menguat
Bagi The Fed, dampaknya dapat berupa jeda panjang dalam perubahan kebijakan suku bunga yang saat ini berada pada kisaran 3,50%-3,75% sejak Desember. Hal ini menghentikan ekspektasi pelonggaran moneter lanjutan, sekaligus menyulitkan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, untuk menurunkan suku bunga seperti yang diharapkan Presiden Donald Trump.
Meski Musalem dan Goolsbee saat ini bukan anggota pemungutan suara di komite kebijakan suku bunga, komentar mereka menunjukkan adanya pergeseran pemikiran di “pusat” The Fed menuju kemungkinan bahwa kenaikan suku bunga bisa diperlukan untuk meredam risiko inflasi, sebagaimana disampaikan Ketua The Fed Jerome Powell.
Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi acuan target inflasi The Fed, naik menjadi 3,5% pada Maret dari 2,8% pada bulan sebelumnya. Sementara inflasi inti (core) naik menjadi 3,2% dari 3,0% pada Februari.
Indeks harga konsumen (CPI) untuk April yang akan dirilis pekan depan diperkirakan menunjukkan percepatan lebih lanjut.
Laporan ketenagakerjaan AS untuk April yang dijadwalkan rilis Jumat diperkirakan menunjukkan tingkat pengangguran tetap 4,3%, berdasarkan konsensus ekonom dalam survei Reuters.
Tabel 2: Faktor Pemicu Kekhawatiran Inflasi AS Menurut The Fed
| Pemicu | Dampak | Penjelasan |
|---|---|---|
| Harga minyak tinggi & volatil | Inflasi naik | Menaikkan biaya energi, logistik, pengiriman |
| Gangguan rantai pasok global | Inflasi naik | Distribusi bahan kimia industri & input terganggu |
| Biaya input industri naik | Inflasi naik | Aluminium, helium, diesel meningkat |
| Efek psikologis dunia usaha | Campuran | Bisa tekan perekrutan, tapi harga tetap naik |
| Konflik berkepanjangan | Inflasi makin bandel | Risiko berbulan-bulan seperti saat pandemi |
Tonton: Rupiah Tembus Rp 17.400 BI Turun Tangan Stabilkan Pasar
Tabel 3: Arah Kebijakan The Fed (Menurut Pernyataan Pejabat)
| Kebijakan The Fed | Peluang | Pemicu |
|---|---|---|
| Suku bunga tetap (hold) | Tinggi | Inflasi masih jauh di atas target |
| Pemangkasan suku bunga | Rendah | Butuh demand melemah & pengangguran naik |
| Kenaikan suku bunga | Mulai dibahas | Jika inflasi makin persisten |












