Inflasi Turki Meroket ke Level 85,51%, Harga Makanan Terbang 99%!

Jumat, 04 November 2022 | 05:29 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Inflasi Turki Meroket ke Level 85,51%, Harga Makanan Terbang 99%!

ILUSTRASI. Inflasi di Turki kembali melesat mencapai level 85,5% pada Oktober. Presidential Press Office/Handout via REUTERS


KONTAN.CO.ID - ANKARA. Inflasi di Turki kembali melesat mencapai level 85,5% pada Oktober. Ini merupakan level tertinggi sejak Juni 1998. Mengutip Euronews, rekor inflasi tahunan sebelumnya (85,67%) terjadi pada tahun 1997. Dengan demikian, lonjakan inflasi ini sudah terjadi selama 17 bulan berturut-turut. 

Beberapa ahli menilai bahwa inflasi jauh lebih tinggi daripada angka resmi dan telah menempatkan tingkat tahunan pada level 185%.

Melansir CNBC, Institut Statistik Turki melaporkan, lonjakan inflasi dipicu oleh kenaikan harga makanan sebesar 99%. Angka ini lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Selain itu, inflasi juga terdorong oleh inflasi perumahan yang naik 85% dan transportasi naik 117%.

Indeks harga produsen domestik menunjukkan kenaikan 157,69% setiap tahun dan naik 7,83% secara bulanan. Kenaikan bulanan harga konsumen adalah 3,54%.

Kenaikan dramatis dalam biaya hidup untuk negara berpenduduk 85 juta ini terus berlanjut selama hampir dua tahun, seiring dengan devaluasi signifikan mata uang Turki, lira.

Baca Juga: Turki Berjanji Bangun Pusat Gas Internasional untuk Memasok Gas Rusia ke Eropa

Mengutip Euronews, sejumlah analis mengatakan tingkat inflasi yang tinggi dipicu oleh pandemi COVID-19 dan perang Ukraina, serta keyakinan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahwa suku bunga tinggi mendorong inflasi dan menyebabkan harga lebih tinggi.

Secara kontroversial, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak untuk menaikkan suku bunga. Dia bersikeras bahwa kondisi itu akan merugikan ekonomi. 

Sebaliknya, bank sentral di seluruh dunia telah secara agresif menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang melonjak.

Ekonom dan kritikus mengatakan, kebijakan Erdogan terus memukul lira dan mendorong inflasi, sehingga memicu krisis mata uang.

Baca Juga: UEA: Keputusan Bulat OPEC+ Tidak Terkait Politik & Tidak Untuk Mengerek Harga Minyak

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru