Sumber: Business Times | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Ketidakpastian geopolitik global yang kian meningkat mendorong investor kembali memburu aset-aset aman (safe haven).
UOB Global Economics & Markets Research menilai *yen Jepang, dolar Singapura, dan emas akan tetap menjadi pilihan utama sepanjang 2026, ditopang fundamental yang kuat dan prospek penguatan berkelanjutan.
1. Yen Jepang
UOB menegaskan pandangan positifnya terhadap yen Jepang sebagai aset lindung nilai. Mata uang Negeri Sakura ini diproyeksikan terus menguat terhadap dolar AS sepanjang 2026.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak, Penangkapan Presiden Maduro oleh AS Picu Permintaan Safe Haven
UOB memperkirakan nilai tukar USD/JPY berada di level 154 pada kuartal I-2026, menguat ke 151 pada kuartal II, 149 pada kuartal III, dan mencapai 147 pada kuartal IV-2026.
Proyeksi ini mencerminkan peran yen yang kembali menguat di tengah volatilitas pasar global dan pergeseran kebijakan moneter global.
2. Dolar Singapura
Selain yen, dolar Singapura (SGD) diproyeksikan tetap menjadi mata uang safe haven utama di kawasan Asean. UOB menilai jalur penguatan jangka panjang dolar Singapura masih utuh dan ditopang fundamental ekonomi yang solid.
Pada 2025, ekonomi Singapura tumbuh kuat dengan produk domestik bruto (PDB) meningkat 4,8% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong lonjakan ekonomi pada kuartal IV-2025, seiring realokasi rantai pasok global ke Asean serta booming ekspor semikonduktor dan elektronik.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Ketidakpastian Tarif Mendongkrak Permintaan Safe Haven
Ke depan, SGD diperkirakan terus menguat terhadap dolar AS dan mata uang utama Asean lainnya. UOB memproyeksikan USD/SGD turun ke 1,28 pada kuartal I-2026, 1,27 pada kuartal II, 1,26 pada kuartal III, dan 1,25 pada kuartal IV-2026.
UOB juga menilai kemampuan dolar Singapura dalam menjaga daya beli menjadi nilai tambah utama, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
3. Emas
Sementara itu, emas dinilai bukan sekadar safe haven musiman, melainkan aset lindung nilai global dengan dukungan struktural yang kuat. Meski harga emas sempat melonjak pasca operasi militer AS di Venezuela, UOB menegaskan reli emas tidak hanya dipicu faktor jangka pendek.
Menurut UOB, emas memiliki keunikan sebagai satu-satunya aset dunia nyata yang dimiliki bank sentral sebagai cadangan devisa. Faktor ini, ditambah meningkatnya volatilitas global, menjadikan emas sebagai safe haven de facto di tingkat global.
Melihat tren tersebut, UOB menaikkan proyeksi harga emas secara signifikan.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok! Optimisme Dagang AS–China Bikin Investor Lepas Aset Safe Haven
Harga emas diperkirakan mencapai US$4.400 per ounce pada kuartal I-2026, naik menjadi US$4.600 pada kuartal II, US$4.800 pada kuartal III, dan menembus US$5.000 per ounce pada kuartal IV-2026.
Dengan prospek ini, UOB menilai yen Jepang, dolar Singapura, dan emas akan menjadi tiga pilar utama perlindungan nilai aset investor di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu.













