kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.166   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.098   -184,26   -3,49%
  • KOMPAS100 656   -29,76   -4,34%
  • LQ45 515   -24,19   -4,48%
  • ISSI 171   -5,38   -3,04%
  • IDX30 289   -13,61   -4,49%
  • IDXHIDIV20 388   -17,40   -4,29%
  • IDX80 76   -3,38   -4,28%
  • IDXV30 108   -4,36   -3,89%
  • IDXQ30 98   -4,24   -4,16%

Investor Mulai Soroti Arus Kas, Belanja AI Jadi Beban Saham Big Tech


Jumat, 30 Oktober 2026 / 06:55 WIB
Investor Mulai Soroti Arus Kas, Belanja AI Jadi Beban Saham Big Tech
ILUSTRASI. Forex - Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Arus kas kembali menjadi perhatian utama investor dalam menilai prospek perusahaan teknologi yang agresif menggelontorkan investasi untuk mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Setelah sebelumnya pasar saham memberikan apresiasi kepada perusahaan yang berani menggelontorkan belanja modal besar demi mengamankan kapasitas komputasi AI, kini investor mulai menuntut bukti bahwa investasi tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan sekaligus menopang kebutuhan pendanaan berikutnya.

Perbedaan respons pasar terhadap kinerja Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Oracle menunjukkan perubahan perhatian tersebut.

Baca Juga: 4 Tahun Tragedi Halloween Itaewon, Presiden Korsel Janji Ungkap Kebenaran

Microsoft dan Oracle mendapat respons positif karena dinilai mampu membiayai ambisi AI dengan pengelolaan arus kas yang lebih terukur. Sebaliknya, Alphabet dan Amazon mendapat tekanan akibat besarnya kebutuhan belanja modal dan arus kas yang tergerus.

Saham Alphabet bahkan anjlok lebih dari 12% pada perdagangan Kamis (29/10/2026), menjadi penurunan harian terburuk sepanjang sejarah perusahaan. Pelemahan tersebut menghapus sekitar US$ 500 miliar kapitalisasi pasar Alphabet.

Sementara itu, saham Amazon turun lebih dari 6% dalam perdagangan setelah jam bursa (after-hours) menyusul publikasi laporan keuangan kuartal III 2026.

Di sisi lain, saham Microsoft ditutup nyaris stagnan setelah sempat menguat. Pergerakannya turut dipengaruhi laporan bahwa perusahaan tersebut berencana menerbitkan obligasi investment grade senilai US$ 25 miliar di Amerika Serikat. Ini menjadi penerbitan obligasi AS pertama Microsoft dalam lebih dari sembilan tahun.

Brian Mulberry, Kepala Strategi Pasar Zacks Investment Management, mengatakan keempat perusahaan teknologi besar tersebut sama-sama mencatat pertumbuhan bisnis cloud dan permintaan perangkat AI.

Namun, Microsoft dinilai paling mampu mempertahankan kemampuan menghasilkan kas di tengah besarnya investasi.

Baca Juga: Saham Wilmar Anjlok 4,9% Usai Terseret Kasus Karhutla di Indonesia

"Di antara keempat hyperscaler, kami melihat pertumbuhan bisnis cloud dan permintaan perangkat AI. Namun, dalam menjalankan bisnisnya, Microsoft tampaknya menjadi satu-satunya yang mampu melakukan semua itu sekaligus tetap menghasilkan kas," ujar Mulberry.

Meski Microsoft mulai menghimpun pendanaan melalui utang, nilai penerbitannya masih lebih kecil dibandingkan sejumlah pesaingnya sepanjang tahun ini. Alphabet telah menghimpun lebih dari US$ 140 miliar melalui penerbitan utang dan ekuitas.

Sementara itu, Meta menghimpun US$ 62,5 miliar dan Amazon memperoleh US$ 98 miliar melalui penerbitan obligasi.

Belanja AI Tekan Arus Kas

Tekanan terhadap Amazon terlihat dari arus kas yang terkuras hingga US$ 42,4 miliar dalam periode 12 bulan yang berakhir pada 30 September 2026.

Perusahaan juga mencatat belanja modal sebesar US$ 77,26 miliar pada kuartal III 2026, jauh lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Baca Juga: Fernando Alonso Sindir Pembalap Papan Bawah F1, Sainz dan Albon Melawan

CEO Amazon Andy Jassy mengatakan, perusahaan akan menggelontorkan belanja modal yang jauh lebih besar pada 2027, setelah mengalokasikan sekitar US$ 220 miliar sepanjang tahun ini.

Meski demikian, Amazon berupaya meyakinkan investor dengan menunjukkan pertumbuhan bisnis AI yang mencapai tiga digit.

Jassy menyatakan semakin yakin investasi tersebut akan menghasilkan bisnis dengan kemampuan menghasilkan arus kas bebas yang jauh lebih besar.

Jesse Cohen, Analis Senior Investing.com menilai perhatian investor saat ini tidak hanya tertuju pada angka pertumbuhan pendapatan, tetapi juga kondisi arus kas di balik kinerja perusahaan.

Menurut dia, laporan Amazon menjadi kekecewaan ganda bagi pasar karena besarnya pengeluaran kas disertai proyeksi kinerja yang belum cukup meyakinkan investor.

Tekanan serupa dialami Alphabet. Pada kuartal III 2026, belanja modal perusahaan mencapai 121,4% dari arus kas operasional. Sebagai perbandingan, rasio belanja modal Microsoft hanya 68% dari arus kas operasional, tidak termasuk sewa pembiayaan.

Baca Juga: Starbucks Proyeksikan Laba di Atas Ekspektasi, Siapkan Buyback US$ 1 Miliar

Rasio belanja modal yang lebih rendah menunjukkan perusahaan memiliki ruang kas lebih besar untuk membiayai pembelian kembali saham, membagikan dividen, atau membayar utang.

Sebaliknya, rasio di atas 100% berarti belanja modal melampaui kas yang dihasilkan dari aktivitas operasional sehingga perusahaan perlu menggunakan cadangan kas atau mencari pendanaan tambahan.

Melissa Otto, Kepala Riset S&P Global Visible Alpha, menilai kinerja Microsoft dan Alphabet menunjukkan perbedaan yang mencolok.

Microsoft dinilai mampu menjaga disiplin pertumbuhan, sedangkan Alphabet menghadapi tekanan akibat besarnya pengeluaran kas dan kinerja bisnis inti yang berada di bawah ekspektasi.

Kekhawatiran investor terhadap Alphabet juga dipicu perlambatan pertumbuhan pendapatan Google Search. Pendapatan bisnis pencarian tersebut tumbuh 12% pada kuartal III 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 14,7%.

Padahal, CEO Alphabet Sundar Pichai menyebut jumlah pencarian di Google tumbuh dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun, Harapan Damai AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan

Namun, bisnis pencarian yang selama ini menjadi sumber pendanaan utama ekspansi AI Alphabet menghadapi persaingan dari chatbot dan agen AI yang mengubah cara masyarakat mencari informasi.

Di tengah tekanan tersebut, Alphabet diperkirakan menggelontorkan belanja modal hingga US$ 205 miliar sepanjang tahun ini. Chief Financial Officer Alphabet Anat Ashkenazi juga menyampaikan bahwa belanja modal perusahaan akan meningkat signifikan pada 2027.

Besarnya investasi itu turut mendorong pertumbuhan Google Cloud. Pendapatan bisnis cloud Alphabet meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 30,71 miliar. Namun, tingginya pengeluaran membuat arus kas perusahaan tertekan hingga mencatat arus kas negatif pada kuartal III 2026.

Microsoft Unggul dalam Menghasilkan Kas

Berbeda dengan Alphabet dan Amazon, Microsoft menunjukkan kemampuan menghasilkan kas yang lebih kuat di tengah ekspansi infrastruktur AI.

Pada kuartal pertama tahun fiskal 2027, Microsoft membukukan arus kas bebas sebesar US$ 18,6 miliar. Angka tersebut hampir US$ 10 miliar lebih tinggi dari ekspektasi Wall Street, meskipun perusahaan menggelontorkan US$ 45,2 miliar untuk memperluas infrastruktur komputasinya.

Baca Juga: Bersiap Situasi Darurat, 33 Negara Imbau Warga Siapkan Stok Makanan, Air & Obat

Bisnis cloud Azure juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 48%, melampaui perkiraan pasar. Microsoft bahkan memproyeksikan pertumbuhan bisnis cloud yang lebih cepat pada kuartal berjalan.

CEO Microsoft Satya Nadella menilai pasar AI mulai bergerak melampaui tahap eksperimen penggunaan model AI terbaru dan paling canggih. Semakin banyak perusahaan mulai mengadopsi teknologi tersebut melalui kontrak jangka panjang.

Perkembangan ini membuka peluang pasar yang lebih luas bagi Microsoft, tidak hanya bergantung pada sejumlah pelanggan besar seperti OpenAI yang selama ini membutuhkan kapasitas komputasi dalam jumlah besar.

Sementara itu, Oracle mendapat apresiasi investor setelah menyampaikan rencana membatasi pendanaan eksternal dan memperkirakan arus kas perusahaan akan kembali positif pada paruh kedua tahun fiskal 2028. Saham perusahaan tersebut menguat hampir 11% pada perdagangan reguler Rabu (28/10/2026).

Perubahan respons pasar tersebut memperlihatkan bahwa besarnya investasi AI tidak lagi cukup menjadi daya tarik bagi investor.

Kemampuan perusahaan mengonversi investasi menjadi pertumbuhan pendapatan dan arus kas yang berkelanjutan kini menjadi faktor penting dalam menentukan valuasi saham perusahaan teknologi.

Baca Juga: Sudah Dipenjara Seumur Hidup, Mantan Presiden Ini Dituntut Hukuman Mati


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×