Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Iran mengecam sanksi ekonomi terbaru yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS) dan mendesak negara-negara lain untuk tidak ikut menerapkannya.
Pada saat yang sama, upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz terus dilakukan karena status jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya mengakhiri perang.
Melansir Reuters, Kementerian Luar Negeri Iran pada Jumat (28/8/2026) menyebut sanksi baru AS sebagai bentuk "terorisme negara".
Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil Jelang Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole
Iran juga menyatakan negara lain memiliki kewajiban berdasarkan hukum internasional untuk tidak menerapkan sanksi tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada Senin memperingatkan negara-negara yang tetap melakukan hubungan bisnis dengan Iran akan menghadapi sanksi sekunder.
Washington menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari kampanye tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Namun, Departemen Keuangan AS belum benar-benar menjatuhkan hukuman kepada negara atau perusahaan yang dimaksud.
Trump pada Kamis kembali mengatakan AS tidak sedang berunding dengan Iran. Gedung Putih juga menegaskan kampanye tekanan ekonomi akan terus dilakukan hingga Teheran bersedia "datang ke meja perundingan secara berarti".
Kementerian Luar Negeri Iran menilai seluruh negara berdasarkan hukum internasional berkewajiban menolak penerapan sanksi AS terhadap Teheran.
Iran bahkan menyebut langkah terbaru Washington sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan" karena dinilai berpotensi mengancam kesehatan dan mata pencaharian jutaan warga sipil.
Baca Juga: Harga Seng Tembus Level Tertinggi Empat Tahun, Naik 7,4% pada Agustus
Iran: Tekanan Tidak Berhasil
Di tengah kampanye tekanan ekonomi AS, sejumlah negara berupaya menghidupkan kembali jalur diplomasi untuk mengakhiri perang.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan, dalam pembicaraan dengan para pemimpin Iran di Teheran pada Kamis, dirinya menekankan pentingnya mengembalikan kondisi pelayaran melalui Selat Hormuz seperti sebelum perang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai pembicaraan yang "kreatif".
Ia kembali menyerukan kepada AS untuk menghentikan tekanan militer dan ekonomi serta kembali ke meja perundingan.
"Menempatkan diplomasi kembali ke jalurnya bukanlah sesuatu yang mustahil. Hal itu bergantung pada pemahaman AS terhadap satu fakta sederhana: tekanan tidak berhasil," kata Araqchi melalui media sosial X.
Qatar dan Pakistan sebelumnya turut membantu memediasi nota kesepahaman pada Juni yang menghasilkan gencatan senjata.
Namun, kesepakatan tersebut dengan cepat runtuh akibat perbedaan pandangan antara Iran dan AS terkait Selat Hormuz.
Baca Juga: Ekspor Melonjak, Laba BYD Naik 29,8% pada Kuartal II 2026
Iran Siapkan Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam negosiasi karena jalur tersebut sebelumnya menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum perang dimulai enam bulan lalu.
Setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran, Teheran mengancam akan menyerang kapal yang melintasi selat tanpa izin.
Ancaman tersebut menyebabkan lalu lintas pelayaran turun dan harga minyak meningkat, sekaligus memberikan Iran posisi tawar dalam negosiasi.
Sebaliknya, AS menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka sebagai jalur perairan internasional.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan pada Kamis bahwa Iran tengah menyiapkan daftar persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Manar melalui penerjemah, Rezaei mengatakan Iran telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koridor pelayaran melalui selat tersebut. Sebagian jalur akan berada di perairan Oman dan sebagian lainnya di perairan Iran.
Menurut dia, kapal dapat menggunakan jalur tengah yang telah ditentukan jika AS memenuhi persyaratan Iran.
Sebelumnya, tuntutan Iran mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, kompensasi, serta pencabutan sanksi.
Namun, belum jelas apakah Teheran akan mengubah tuntutan tersebut agar dapat diterima Washington.
Baca Juga: China Ubah Sistem Penjualan Rumah, Dorong Penjualan Hunian yang Sudah Jadi
AS Klaim Jalur Pelayaran Mulai Terbuka
Komandan militer AS mengatakan pasukan Amerika telah membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz yang sebelumnya dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran.
"Intinya, hari ini jalur pelayaran internasional terbuka dan momentum terus terbentuk," kata Laksamana Brad Cooper, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), dalam pesan video yang diunggah ke media sosial.
Cooper mengatakan pasukan AS dalam beberapa bulan terakhir telah membantu sekitar 1.500 kapal komersial yang mengangkut hampir 750 juta barel minyak mentah untuk melintasi selat tersebut.
Namun, meski Trump berulang kali menyatakan Selat Hormuz telah terbuka, banyak kapal masih memilih tidak melintasi jalur tersebut karena ancaman Iran.
Layanan pelacakan kapal memperkirakan aktivitas pelayaran masih berada pada kisaran 5% hingga 15% dari volume normal.
Data awal pelayaran yang dirilis Jumat menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Jumlah tersebut turun dari 17 kapal sehari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal.
Baca Juga: Korban Banjir Nepal-China Tembus 552 Orang, Operasi Penyelamatan Dilanjutkan
Di sisi lain, negara-negara eksportir energi di kawasan Teluk mulai mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz dengan menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun infrastruktur alternatif, termasuk jaringan pipa energi dan pelabuhan.
Sebagian perdagangan kini dialihkan ke pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah serta pelabuhan di pantai timur Uni Emirat Arab (UEA), meski kapasitasnya masih lebih kecil.
Harga minyak relatif stabil pada Jumat, tetapi masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan.
Analis menilai terdapat tanda-tanda lebih banyak minyak mulai mengalir melalui Selat Hormuz meskipun kebuntuan diplomatik masih berlangsung.
Produsen energi di kawasan Teluk juga semakin beradaptasi dengan perubahan kondisi geopolitik dan jalur perdagangan di kawasan tersebut.














