Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai kendali atas Selat Hormuz sudah dekat namun belum cukup untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, sementara Uni Emirat Arab menyatakan Iran telah menghantam kapal lain di wilayah itu.
Mengutip Reuters, Minggu (9/8/2026), kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai selat tersebut dipandang krusial bagi kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang menyebabkan Teheran menguasai dan membatasi akses di jalur ekspor energi utama tersebut.
Seorang pejabat AS, yang meminta namanya tidak disebutkan, pada hari Jumat mengatakan bahwa Washington memperkirakan akan segera tercapai kesepakatan antara Iran dan Oman—yang terletak di kedua sisi selat tersebut—sehingga lalu lintas minyak dapat kembali normal.
Baca Juga: Microsoft Ungkap Negara yang Paling Gemar Gunakan AI, Indonesia Posisi 77
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa Iran dan Oman sudah "sangat dekat" dengan kesepakatan mengenai rute pelayaran baru melalui selat tersebut, namun pembukaan kembali jalur itu akan bergantung pada kondisi lain, termasuk pemberian kompensasi dari AS kepada Iran.
Sekretaris badan keamanan nasional tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, merinci tuntutan lain yang mencakup penghentian ancaman AS terhadap Iran, penghentian agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, pencabutan blokade dan sanksi terhadap Iran, serta pembebasan aset-aset Iran. Oman Melaporkan Negosiasi Positif, Mengutuk Serangan terhadap Kapal
Oman mengutuk serangan berulang terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut—tanpa menunjuk pihak mana pun sebagai pelaku—dan menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran mengenai pengaturan pelayaran melalui Selat Hormuz berjalan "positif dan konstruktif".
"Oman menekankan pentingnya menghindari tindakan apa pun yang dapat mempengaruhi negosiasi ini serta kemajuan yang telah dicapai, dengan cara yang tetap mempertimbangkan kepentingan semua pihak," demikian pernyataan kementerian luar negeri Oman.
Araqchi mengatakan bahwa skema pemisahan lalu lintas pelayaran sebelumnya di selat tersebut tidak lagi dapat diterima oleh Teheran, dan bahwa Iran sedang membahas rute sementara dengan Oman sembari menyelesaikan masalah teknis dan hukum terkait rute permanen.
Baca Juga: Peringkat Negara Paling Aman untuk Investasi 2026: Singapura Terbaik di Asia
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dikenal sebagai sosok yang relatif moderat, menyatakan keyakinannya bahwa saat ini adalah waktu terbaik untuk mencapai kesepakatan.
"Ada kohesi, kekuatan, dan persatuan di dalam negeri, dan sejauh yang saya tahu, Iran dianggap sebagai pihak yang menang dan kuat dalam perang ini," demikian kutipan pernyataan Pezeshkian oleh kantor berita Iran.
Iran merespons serangan AS dengan menargetkan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk dan Yordania, serta menyerang kapal-kapal yang melintasi selat sempit tersebut—jalur yang sebelum perang mengangkut seperlima dari pasokan minyak dan gas dunia.
Pada hari Sabtu, UEA menyatakan bahwa Iran telah menyerang sebuah kapal yang berafiliasi dengan perusahaan minyak negara UEA menggunakan rudal saat kapal itu melintasi Selat Hormuz; tidak ada laporan korban luka dalam insiden terbaru yang menyasar pelayaran di wilayah tersebut.
Lembaga pemantau perdagangan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan bahwa sebuah kapal terbakar setelah terkena proyektil tak dikenal, namun api berhasil dipadamkan dan tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan.
Belum ada komentar langsung dari pihak berwenang Iran.
Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump berulang kali mengisyaratkan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut sudah dekat, namun Iran justru membantah adanya perundingan yang sedang berlangsung. Belum jelas apakah rangkaian negosiasi terbaru ini akan menghasilkan pengaturan yang lebih permanen.
"Begitu kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan diumumkan, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran," ujar pejabat AS tersebut kepada Reuters pada hari Jumat. Tindakan AS akan bergantung pada pelaksanaan komitmen Iran, ujarnya.
Komando Pusat AS pada hari Sabtu menyatakan telah mengizinkan lebih dari 30 kapal yang membawa bantuan kemanusiaan untuk melintas sejak blokade saat ini dimulai.
Baca Juga: Houthi Serang Marib Lagi, PBB Peringatkan Yaman di Ambang Konflik Lebih Luas
Pasukan AS telah menolak masuk 53 kapal, melumpuhkan dua kapal, dan menaiki dua kapal lainnya, demikian disampaikan Komando Pusat dalam sebuah pernyataan di media sosial.
Korps Garda Revolusi Iran—yang telah menargetkan kapal-kapal tersebut—pada hari Sabtu juga menyatakan bahwa pembukaan kembali selat itu bergantung pada kesediaan Washington menerima syarat-syarat Iran dan tidak terkait dengan negosiasi antara Iran dan Oman.
"Kapan pun Amerika Serikat menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali," kata juru bicara Garda Revolusi, Hossein Mohebbi, sebagaimana dilaporkan kantor berita Iran, Tasnim.
Iran Akan Diberi Kendali
Usulan kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri konflik lima bulan antara Iran dan AS akan memberikan kendali kepada Teheran atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui selat tersebut, menurut seorang pejabat senior Iran.
Sebuah sumber dan dua pejabat regional mengatakan kepada Reuters pada hari Rabu bahwa ini merupakan salah satu konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Iran.
Para pejabat AS telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah menyetujui Iran mengendalikan akses ke jalur perdagangan pasokan energi terpenting di dunia tersebut. Tidak jelas apakah mereka telah berupaya mengubah ketentuan kesepakatan itu.
Iran telah memanfaatkan situasi permusuhan tersebut untuk membenarkan pengenaan biaya (tol) terhadap kapal tanker minyak. Tindakan itu, serta penembakan terhadap kapal-kapal yang mencoba melintasi selat tersebut tanpa izin Iran, telah sangat mengganggu pengiriman global, menyebabkan lonjakan harga energi dan memicu inflasi.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
