kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.535   -123,00   -0,70%
  • IDX 6.669   -17,54   -0,26%
  • KOMPAS100 876   -1,21   -0,14%
  • LQ45 663   -2,40   -0,36%
  • ISSI 234   0,08   0,03%
  • IDX30 369   -2,55   -0,69%
  • IDXHIDIV20 456   -2,39   -0,52%
  • IDX80 100   -0,26   -0,26%
  • IDXV30 127   -0,28   -0,22%
  • IDXQ30 118   -0,60   -0,50%

Iran Serang Pangkalan AS di Yordania, Perang Teluk Makin Memanas


Rabu, 09 September 2026 / 14:08 WIB
Iran Serang Pangkalan AS di Yordania, Perang Teluk Makin Memanas
ILUSTRASI. Konflik antara Iran dan AS memasuki fase yang semakin panas setelah IRGC mengklaim meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania (via REUTERS/U.S. Central Command)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – KAIRO/WASHINGTON. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki fase yang semakin panas setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim meluncurkan rudal balistik ke pangkalan yang digunakan militer AS di Yordania. Iran juga menyatakan telah menyerang 10 kapal di kawasan Selat Hormuz.

Serangan tersebut terjadi setelah militer AS sebelumnya menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran. Rangkaian aksi saling serang ini meningkatkan eskalasi perang yang telah berlangsung selama enam bulan dan kembali mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah.

Peningkatan serangan AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir mengakhiri periode relatif tenang selama sekitar satu bulan. Konflik kini mulai menyasar aset militer, kapal niaga, hingga infrastruktur energi, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Harga minyak pun kembali menguat. Harga minyak mentah Brent bahkan mendekati level US$100 per barel pada perdagangan awal Rabu (9/9), dipicu kekhawatiran terganggunya lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting dunia.

Baca Juga: Harga Emas Spot Naik 1%, Investor Cermati Data inflasi AS dan Konflik Timur Tengah

AS Hancurkan Lima Kapal Tanker Iran

Militer AS pada Selasa (8/9) mengatakan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran. Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) juga merilis video serangan tersebut.

Washington menyebut serangan itu sebagai respons atas tindakan Garda Revolusi Iran yang dua kali menargetkan kapal perang Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik dalam dua hari sebelumnya. AS menyatakan tidak ada personelnya yang terluka dalam serangan tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran harus menghadapi konsekuensi atas upayanya menyerang kapal militer AS.

"Iran terus mencoba menyerang kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukannya, mereka akan kehilangan kapal tanker," kata Rubio kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Kolombia.

Menurut CENTCOM, kapal tanker yang dihancurkan merupakan bagian dari jaringan perdagangan minyak bayangan yang digunakan untuk membiayai Garda Revolusi Iran dan kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya di kawasan.

Iran Balas Serang Pangkalan AS di Yordania

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran mengatakan telah meluncurkan serangan rudal balistik terhadap pangkalan yang digunakan pasukan AS di dekat Al Azraq, Yordania.

IRGC mengklaim serangan tersebut menyebabkan kerusakan berat. Namun, pemerintah Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 18 dari 20 rudal Iran yang ditembakkan ke wilayah tersebut.

Dua rudal lainnya dilaporkan jatuh di kawasan yang tidak berpenghuni. Pemerintah Yordania menyatakan tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka akibat serangan tersebut.

Seorang pejabat AS juga mengatakan serangan Iran terhadap pangkalan di Yordania tidak efektif. Seluruh personel militer AS yang berada di lokasi dilaporkan telah terdata dan dalam kondisi aman.

Iran sebelumnya beberapa kali menargetkan aset AS dan negara-negara sekutunya di kawasan selama perang berlangsung. Salah satu serangan di Yordania pada Juli lalu bahkan menewaskan sedikitnya dua personel militer AS.

Baca Juga: OpenAI Perkuat Kerja Sama dengan Samsung, Bidik Pengembangan Chip AI

Iran Serang 10 Kapal di Selat Hormuz

Selain menyerang pangkalan yang digunakan pasukan AS, Garda Revolusi Iran pada Rabu mengatakan pihaknya menyerang 10 kapal yang berusaha melintasi kawasan Selat Hormuz.

Menurut IRGC, kapal-kapal tersebut terdiri dari dua kapal milik AS dan delapan kapal tanker minyak. Iran menyebut kapal-kapal itu berusaha memasuki wilayah yang dinyatakan sebagai area "terlarang dan tidak aman".

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik karena merupakan jalur utama perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pasokan minyak dan harga energi global.

Iran juga dilaporkan mengancam kapal tanker minyak yang berada di pelabuhan Kuwait dan Bahrain.

Sementara itu, sumber keamanan maritim mengatakan sebuah kapal tanker gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) mengalami kerusakan di pelabuhan Khor Fakkan, Uni Emirat Arab. Namun, belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Serangan Houthi ke Arab Saudi Perburuk Risiko Pasokan Minyak

Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi pada Selasa.

Serangan tersebut melukai 73 orang dan memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak. Aksi ini dinilai sebagai salah satu perluasan konflik paling signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Houthi mengklaim telah melancarkan operasi besar-besaran jauh ke dalam wilayah Arab Saudi menggunakan drone dan rudal.

Sasaran serangan mencakup pangkalan udara Saudi di Khamis Mushait, wilayah selatan negara tersebut, serta aset perusahaan minyak negara Saudi Aramco di Abha, Najran, dan Jazan.

Otoritas Arab Saudi melaporkan terjadi kebakaran di sejumlah lokasi dan mengatakan perempuan serta anak-anak termasuk di antara korban luka.

Kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di Yaman, termasuk ibu kota Sanaa. Kelompok tersebut selama ini juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap sekutu AS dengan mengganggu pelayaran di sisi lain Semenanjung Arab, terutama di pintu masuk Laut Merah.

Arab Saudi telah memimpin koalisi negara-negara Arab dalam konflik melawan Houthi di Yaman selama lebih dari satu dekade. Konflik tersebut sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir, tetapi gencatan senjata yang sebelumnya berlaku kini kembali runtuh.

Baca Juga: DeepSeek Bersiap IPO, Sudah Tunjuk CITIC Securities untuk Mempersiapkan

AS dan Iran Saling Tekan Lewat Blokade

Perang yang lebih luas di kawasan Teluk kini berkembang menjadi pertarungan kekuatan antara AS dan Iran. Kedua negara berusaha menggunakan tekanan ekonomi dan pembatasan jalur perdagangan untuk memaksa lawannya mengalah.

Washington berupaya menjaga aliran minyak menuju pasar global dengan mengarahkan kapal-kapal melewati Selat Hormuz. Di sisi lain, AS juga berusaha menekan ekspor minyak Iran melalui kebijakan blokade.

Situasi tersebut membuat Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik. Setiap gangguan terhadap jalur pelayaran dapat meningkatkan risiko pasokan energi sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi semakin memperbesar kekhawatiran pasar. Investor kini menghadapi risiko gangguan pasokan dari sejumlah titik strategis, mulai dari Teluk Persia hingga Laut Merah.

Garda Revolusi Iran selama ini mendukung jaringan kelompok yang disebut Teheran sebagai "Poros Perlawanan" atau "Axis of Resistance". Jaringan tersebut mencakup kelompok Islam Palestina Hamas, Hezbollah di Lebanon, sejumlah kelompok milisi Syiah di Irak, serta Houthi di Yaman.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×