Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur Jepang kembali mencatatkan ekspansi pada Januari 2026 setelah tujuh bulan berada di zona kontraksi.
Hal ini didorong oleh lonjakan pesanan ekspor baru yang menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat tahun terakhir, berdasarkan hasil survei sektor swasta.
Melansir Reuters Jumat (23/1/2026), Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) Manufaktur Jepang versi S&P Global flash naik ke level 51,5 pada Januari dari posisi final 50,0 pada Desember.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi US$ 5.400: Investor Siap Raup Cuan Gila?
Capaian ini menandai kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi untuk pertama kalinya sejak Juni 2025.
Sebagai catatan, level PMI di atas 50 menandakan ekspansi, sementara di bawah 50 menunjukkan kontraksi aktivitas.
Dari sisi subindeks, baik output pabrik maupun pesanan baru sama-sama mengakhiri tren kontraksi pada Januari.
Pesanan ekspor baru bahkan mencatatkan kenaikan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, sekaligus menjadi laju tercepat sejak November 2021.
Hal ini mencerminkan membaiknya permintaan luar negeri terhadap produk-produk Jepang.
Baca Juga: Inflasi Inti Jepang Melambat di Desember, Namun Tetap di Atas Target BOJ
Data pemerintah Jepang juga menunjukkan ekspor negeri Sakura tersebut meningkat selama empat bulan berturut-turut hingga Desember.
Kenaikan ini ditopang oleh permintaan terkait pusat data (data center), meski pengiriman ke Amerika Serikat tercatat menurun.
Sementara itu, PMI jasa Jepang versi flash juga mengalami perbaikan pada Januari, naik ke level 53,4 dari 51,6 pada Desember.
Ini merupakan laju pertumbuhan aktivitas jasa paling tajam sejak Juli tahun lalu. Perkembangan tersebut mendorong PMI gabungan (composite PMI) naik ke 52,8 dari 51,1 pada Desember.
Associate Director Economics S&P Global Market Intelligence, Annabel Fiddes, mengatakan peningkatan permintaan pelanggan mendorong tekanan kapasitas usaha, tercermin dari lonjakan pekerjaan tertunda (outstanding business) ke level tertinggi sejak data PMI gabungan pertama kali tersedia pada akhir 2007.
Baca Juga: Trump Klaim AS Dapat Akses Penuh ke Greenland, NATO Dorong Perkuat Keamanan Arktik
“Hal ini berdampak pada peningkatan perekrutan tenaga kerja, dengan tingkat penyerapan tenaga kerja di Jepang naik paling tajam sejak April 2019,” ujarnya.
Ke depan, baik pelaku industri manufaktur maupun jasa memperkirakan pertumbuhan output akan berlanjut, meski tingkat optimisme sedikit menurun dibandingkan Desember.
Pelaku usaha menyoroti sejumlah risiko, mulai dari kenaikan biaya, ketidakpastian ekonomi global, kekurangan tenaga kerja, hingga masalah penuaan populasi.
Dari sisi harga, inflasi biaya input di sektor manufaktur mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir. Sementara itu, tekanan biaya di sektor jasa tercatat menurun dibandingkan Desember.
Kedua sektor sama-sama menaikkan harga jual kepada konsumen dengan laju yang lebih cepat pada Januari.
Baca Juga: Gaji CEO JPMorgan Jamie Dimon Naik Menjadi Lebih dari Rp 700 Miliar pada 2025
Sejalan dengan perkembangan tersebut, Bank of Japan (BOJ) pada Jumat diperkirakan akan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dan mengisyaratkan kesiapan untuk melakukan kenaikan suku bunga berikutnya.
Pelemahan yen dan prospek kenaikan upah yang solid membuat para pembuat kebijakan tetap waspada terhadap tekanan inflasi.













