Kekayaan Orang-orang Terkaya di China Menyusut di Tengah Krisis Ekonomi Global

Selasa, 08 November 2022 | 11:07 WIB Sumber: Reuters
Kekayaan Orang-orang Terkaya di China Menyusut di Tengah Krisis Ekonomi Global

ILUSTRASI.  Zhong Shanshan, orang terkaya di China.


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Orang-orang terkaya di China mulai merasakan dampak dari krisis ekonomi global. Penurunan kekayaan yang mereka alami tahun ini bahkan jadi yang terbesar dalam dua dekade.

Hurun Report, sebuah lembaga riset yang mencatat daftar orang-orang terkaya di China, mengatakan hanya ada 1.305 orang yang berhasil masuk ke daftarnya tahun ini.

Hurun Rich sendiri hanya memasukkan orang yang memiliki kekayaan minimal 5 miliar yuan atau sekitar Rp 10,8 triliun. 

Jumlah orang kaya baru yang masuk ke daftar itu turun 11% dari tahun lalu. Total kekayaan mereka pun turun 18% dari tahun sebelumnya.

Baca Juga: Xi Jinping Ajak Jerman Bekerja Sama di Masa yang Penuh Gejolak

Di saat yang sama, jumlah orang yang memiliki kekayaan hingga US$10 miliar berkurang 29 orang menjadi 56 orang saja. Jumlah orang yang masuk ke golongan miliarder pun berkurang hingga 239 menjadi 946 di tahun ini.

"Tahun ini terjadi penurunan terbesar dalam Hurun China Rich List dalam 24 tahun terakhir," kata Rupert Hoogewerf, ketua dan kepala peneliti dari firma riset Hurun Report, seperti dikutip Reuters.

Zhong Shanshan, pemimpin perusahaan air Nongfu Spring dan pengembang vaksin Beijing Wantai Biological Pharmacy Enterprise, menempati urutan pertama dalam daftar orang terkaya di China dalam dua tahun berturut-turut. Kekayaannya tumbuh 17% menjadi US$65 miliar.

Di peringkat kedua ada pendiri ByteDance yang merupakan induk perusahaan TikTok, Zhang Yiming. Sayang, kekayaannya turun 28% menjadi US$35 miliar karena penurunan penilaian ByteDance.

Baca Juga: Eskpor-Impor China Kompak Menyusut di Bulan Oktober, Terburuk Sejak 2020

Tren pertumbuhan ekonomi global yang buruk tahun ini jelas dipengaruhi oleh perang di Ukraina. China merasakan dampak lebih buruk karena masih menerapkan kebijakan anti-Covid yang sangat ketat sehingga membatasi aktivitas ekonomi domestik.

Perusahaan teknologi besar seperti Alibaba Group dan Tencent Holdings yang terlihat sangat stabil pun ikut merasakan dampak yang sangat keras.

Kekhawatiran bahwa Presiden Xi Jinping akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi demi kebijakan politiknya pun membuat investor mulai ragu. Pasar saham Hong Kong dan China daratan mulai jatuh dalam beberapa pekan terakhir.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru