kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Kenaikan harga pangan dan bahan bakar mengancam Myanmar pasca kudeta


Selasa, 16 Maret 2021 / 15:21 WIB
ILUSTRASI. Aksi protes malam anti-kudeta di persimpangan Hledan di Yangon, Myanmar, 14 Maret 2021. (REUTERS / Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Direktur WFP, Stephen Anderson, mengatakan bahwa tanda-tanda krisis tersebut sangat mengganggu Myanmar secara menyeluruh karena masalah Covid-19 juga belum bisa teratasi.

"Jika tren negatif ini terus berlanjut setelah pandemi Covid-19 usai, maka hal ini akan sangat merusak kemampuan masyarakat miskin untuk menyediakan makanan yang cukup di meja keluarga," kata Anderson.

WFP telah hadir cukup lama di Myanmar, setidaknya selama dekade terakhir. Badan PBB ini melaporkan telah mendukung lebih dari 360.000 orang di Myanmar, kebanyakan dari mereka mengungsi akibat serangkaian konflik yang terjadi.

"Di WFP kami tahu betul bagaimana kelaparan dapat dengan ccepat terjadi ketika perdamaian dan dialog dikesampingkan," lanjut Anderson.

Myanmar yang dulu sempat menjadi lumbung beras utama Asia, kini termasuk ke dalam golongan negara termiskin di kawasan itu sejak militer merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 1962.

Pemberlakuan kebijakan menuju sosialisme yang autarkis cukup menyengsarakan Myanmar. Kondisi mulai membaik, bahkan perekonomian berkembang pesat, setelah militer mulai menarik diri dari politik satu dekade lalu.

Selanjutnya: Dewan Keamanan PBB meminta militer Myanmar setop lakukan kekerasan




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×