kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Kinerja DBS Q4 2025: Laba Melorot, Pasar Waspadai Tekanan NIM Bank


Senin, 09 Februari 2026 / 17:30 WIB
Kinerja DBS Q4 2025: Laba Melorot, Pasar Waspadai Tekanan NIM Bank
ILUSTRASI. ATM Bank DBS (KONTAN/Muradi)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. DBS Group, bank terbesar Singapura mulai musim laporan keuangan 2025 dengan catatan yang kurang menggembirakan. Laba bersih kuartal IV 2025 turun 10% secara tahunan, menandai tekanan nyata dari menyempitnya margin bunga dan melemahnya pendapatan pasar.

Melansir Reuters (9/2), DBS membukukan laba bersih sebesar S$ 2,26 miliar pada periode Oktober–Desember 2025, turun dari S$ 2,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini juga meleset dari ekspektasi analis yang memperkirakan laba hampir S$ 2,55 miliar.

Tekanan utama datang dari penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang menyusut ke level 1,93%, dari sebelumnya 2,15%. Penurunan suku bunga domestik Singapura turut memangkas pendapatan bunga bersih, sementara imbal hasil ekuitas (return on equity) ikut merosot menjadi 13,5%.

Analis CGS International menilai kinerja kuartal IV DBS tertahan oleh pendapatan perdagangan pasar yang lebih lemah dari perkiraan, mencerminkan volatilitas pasar global yang belum sepenuhnya berpihak pada sektor perbankan.

Di pasar saham, respons investor cenderung hati-hati. Saham DBS sempat turun hampir 2% sebelum ditutup melemah 1,1%, meski indeks acuan Singapura justru menguat.

Baca Juga: Terbaru! Ini Target Harga Emas dari Bank-Bank Besar Global

Di tengah tekanan tersebut, DBS masih mencatat pertumbuhan kuat di segmen pengelolaan kekayaan. Aset kelolaan (AUM) naik 19% secara mata uang konstan dan menembus rekor baru sebesar S$ 488 miliar pada kuartal IV, menegaskan peran nasabah kaya sebagai penopang bisnis di tengah siklus suku bunga yang berbalik.

Namun, risiko kredit mulai menunjukkan peningkatan. Pencadangan kredit bermasalah melonjak 81% menjadi S$ 415 juta, terutama akibat eksposur ke sektor properti. Kendati demikian, DBS juga membalikkan sebagian cadangan umum sebesar S$ 206 juta, sehingga tekanan terhadap laba tidak sepenuhnya berlipat ganda.

Manajemen DBS tetap bersikap konservatif menatap 2026. Bank ini memperkirakan laba bersih tahun berjalan akan sedikit lebih rendah dibandingkan 2025, sejalan dengan ketidakpastian arah suku bunga global dan volatilitas pasar keuangan.

Kendati prospek laba menurun, DBS masih menjaga daya tarik bagi investor lewat dividen. Bank ini menetapkan dividen reguler sebesar S$ 0,66 per saham dan dividen pengembalian modal sebesar S$ 0,15 per saham untuk kuartal IV, serta berencana melanjutkan skema dividen tersebut hingga 2027.

Analis menilai kebijakan dividen ini menjadi penyangga utama valuasi saham DBS, di tengah ruang pertumbuhan laba yang kian terbatas. Sebagai bank pertama yang melaporkan kinerja di Singapura, hasil DBS berpotensi menjadi indikator awal arah kinerja perbankan regional di tengah fase penyesuaian suku bunga global.

Baca Juga: Bank Sentral China Borong Emas untuk Bulan ke-15, Nilai Cadangan Melonjak!

Selanjutnya: Kepala BGN: MBG di Jakarta Capai 60 Persen,475 SPPG Sudah Beroperasi

Menarik Dibaca: Pantau 5 Kripto Top Gainers di Pasar yang Melemah 24 Jam Terakhir


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×