Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak terbatas pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Penurunan harga minyak yang mendorong imbal hasil obligasi turun menjadi salah satu sentimen pasar.
Sementara investor menanti laporan kinerja Nvidia yang menjadi penentu arah perdagangan saham teknologi.
Harga minyak turun setelah Iran menyatakan kembali melakukan pembicaraan dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut memunculkan harapan pasokan energi global dapat kembali mengalir melalui jalur strategis tersebut.
Baca Juga: Ringgit Malaysia Memimpin Penguatan Mata Uang Asia Rabu (26/8), Rupiah Naik 0,08%
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun lebih dari 2% menjadi sekitar US$86,41 per barel pada Rabu. Brent telah mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut.
Penurunan harga minyak turut menekan imbal hasil obligasi. Yield US Treasury 10 tahun berada di 4,634% setelah turun 6,5 basis poin pada perdagangan Selasa.
Analis J.P. Morgan mengatakan pasar dengan cepat memperhitungkan optimisme terhadap kemungkinan kesepakatan sementara terkait Selat Hormuz, meskipun belum ada kemajuan konkret maupun detail mengenai kesepakatan Iran-Oman.
"Meski belum ada kemajuan atau detail nyata dari kesepakatan Iran-Oman, pergerakan harga menunjukkan pasar dengan cepat memperhitungkan optimisme terkait pengumuman sementara," tulis analis J.P. Morgan dalam catatannya.
Baca Juga: Meta Dikabarkan Bahas Penyelesaian Gugatan Bahaya Media Sosial terhadap Remaja
Investor Menanti Kinerja Nvidia
Di pasar saham, investor cenderung berhati-hati menjelang laporan keuangan kuartal II Nvidia yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu Amerika Serikat.
Kinerja Nvidia menjadi perhatian utama karena perusahaan tersebut merupakan salah satu barometer utama bagi keberlanjutan ledakan investasi kecerdasan buatan (AI).
Investor akan mencermati apakah lonjakan belanja AI masih berkelanjutan dan mampu menghasilkan keuntungan yang cukup untuk memenuhi ekspektasi pasar.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,12% pada awal perdagangan dan berada di jalur kenaikan sekitar 2% sepanjang Agustus.
Baca Juga: Inflasi Australia Juli di Atas Perkiraan, Risiko Kenaikan Suku Bunga RBA Meningkat
Sementara itu, indeks Nikkei Jepang turun 0,4%, sedangkan indeks KOSPI Korea Selatan melemah 0,2%. Kontrak berjangka Nasdaq juga turun 0,5%, sementara kontrak berjangka saham Eropa bergerak datar.
Chief Investment Strategist Saxo di Singapura Charu Chanana mengatakan, Nvidia kini berada pada kondisi ketika mengalahkan ekspektasi pasar sudah menjadi sesuatu yang diharapkan.
"Nvidia mendekati titik di mana mengalahkan ekspektasi sudah menjadi sesuatu yang diharapkan. Karena itu, angka utama saja mungkin tidak menentukan respons pasar," kata Chanana.
Menurut dia, investor kini lebih memperhatikan seberapa besar Nvidia mampu melampaui ekspektasi serta apakah panduan kinerja perusahaan cukup kuat untuk kembali meningkatkan proyeksi laba.
Analis memperkirakan, Nvidia akan memproyeksikan kenaikan penjualan kuartal III sebesar 82,8% secara tahunan menjadi US$104,20 miliar. Margin kotor yang disesuaikan untuk kuartal II dan III diperkirakan tetap berada di sekitar 75%.
J.P. Morgan memperkirakan laporan keuangan Nvidia kemungkinan masih akan mendukung saham-saham terkait AI, meskipun belum tentu memberikan dorongan besar dalam jangka pendek bagi sektor semikonduktor.
Baca Juga: Dolar Bergerak Sempit Rabu (26/8) Jelang Data Inflasi AS dan Jackson Hole
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Selain Nvidia, perhatian investor juga tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pada Rabu. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting menjelang simposium Jackson Hole akhir pekan ini.
Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama berada di level 98,934 dan masih menuju penurunan sekitar 1% sepanjang Agustus.
Investor juga mencermati langkah Departemen Keuangan AS yang kembali memperluas program pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah guna mengurangi tekanan terhadap yield obligasi tenor panjang.
Ekonom Commonwealth Bank of Australia Kristina Clifton mengatakan, kebijakan tersebut memang dapat mengurangi beban bunga secara marginal.
Namun, langkah tersebut tidak mengubah faktor fundamental yang mendorong kenaikan pembayaran bunga pemerintah AS, yakni meningkatnya utang pemerintah dan kekhawatiran mengenai dominasi fiskal serta independensi Federal Reserve.
Baca Juga: Militer AS Serang Kapal di Karibia, Empat Orang Tewas
Tekanan tersebut turut mengalihkan perhatian investor dari pasar obligasi ke dolar AS. Kondisi ini kembali mendorong strategi debasement trade, yakni pembelian aset seperti emas dan bitcoin sebagai lindung nilai terhadap potensi penurunan nilai mata uang akibat tingginya belanja dan utang pemerintah.
Harga emas spot berada di sekitar US$4.646,08 per ons troi, hanya sedikit di bawah level tertinggi dalam tiga bulan yang dicapai pada perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, harga bitcoin naik 0,6% menjadi sekitar US$78.704.














