kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Korea Selatan sebut Korea Utara berusaha curi data vaksin corona Pfizer


Selasa, 16 Februari 2021 / 21:15 WIB
Korea Selatan sebut Korea Utara berusaha curi data vaksin corona Pfizer
ILUSTRASI. Ilustrasi serangan siber. REUTERS/Kacper Pempel


Sumber: Yonhap,Yonhap | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Selatan mengungkapkan, Korea Utara berusaha meretas sistem komputer produsen obat negeri ginseng untuk mendapatkan informasi terkait vaksin dan pengobatan virus corona.

Pada pertemuan tertutup dengan parlemen Korea Selatan, National Intelligence Service (NIS) melaporkan, serangan dunia maya di Korea Selatan meningkat 32% menjadi sekitar 1,58 juta kasus, yang sebagian besar gagal.

Ha Tae Keung, anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat, oposisi utama Pemerintah Korea Selatan, mengatakan kepada wartawan pada Selasa (16/2), setelah pertemuan dengan NIS, seperti dikutip Yonhap.

Ha mengklaim, pembuat vaksin virus corona, Pfizer diyakini telah diserang oleh Korea Utara, mengutip dokumen yang NIS dan sumber lain berikan, tapi dia menolak untuk menjelaskannya lebih lanjut.

Baca Juga: Tumben, Korea Utara rayakan ulang tahun mendiang Kim Jong-il secara sederhana

Menurut dia, mengacu pernyataan NIS, Korea Utara telah meningkatkan tindakan kerasnya terhadap aksi anti-sosialis, dan menambah hukuman bagi yang mendistribusikan materi video dari Korea Selatan.

Siapa pun yang ketahuan menonton video dari Korea Selatan akan mendapat hukuman penjara hingga 15 tahun, menurut NIS. "Sederhananya, itu hukuman untuk Gelombang Korea," kata Ha.

Mengenai ketidakhadiran di depan umum istri Pemimpin Korea Selatan Kim Jong Un, Ri Sol Ju, NIS mengatakan, tidak ada tanda-tanda atau intelijen yang tidak biasa sejauh ini tentang hal tersebut.

Selain itu, Ha yang mengutip laporan NIS menambahkan, Korea Utara telah mengubah gelar resmi Kim Jong Un dalam bahasa Inggris menjadi "presiden" dari sebelumnya "pemimpin".

Selanjutnya: Korea Selatan dan AS bakal gelar latihan militer skala besar, respons Korea Utara?


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×