Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Krisis energi global kian mendekati titik genting. Setelah lebih dari tujuh pekan konflik di Teluk Persia, kemampuan negara-negara importir utama Asia untuk meredam dampaknya mulai menipis.
Laporan Bloomberg (22/4), selama ini, dua raksasa energi Asia yakni China dan India masih mampu berkelit dari tekanan pasokan. Keduanya mengandalkan berbagai jalan alternatif, mulai dari kesepakatan bilateral dengan Iran hingga menyerap kargo minyak Rusia dan Iran yang sudah mengapung di laut. Strategi ini sempat menjaga stabilitas pasokan, bahkan membantu meredam dampak ke negara-negara lain yang juga berburu minyak.
Pasokan minyak terapung atau floating storage yang sebelumnya menjadi bantalan mulai menyusut tajam. Data menunjukkan, cadangan minyak Rusia di laut yang siap dijual anjlok drastis dari sekitar 20 juta barel pada pertengahan Februari menjadi hanya sekitar 3 juta–5 juta barel saat ini. Di saat bersamaan, jalur vital Selat Hormuz praktis lumpuh, memperburuk distribusi energi global.
Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik. Bahkan kapal-kapal yang sebelumnya tetap beroperasi meski masuk daftar hitam kini memilih menahan diri, khawatir terhadap potensi blokade Amerika Serikat (AS).
Di antara dua negara tersebut, India menjadi pihak yang paling rentan. Ketergantungan Negeri Bollywood pada kawasan Teluk tidak hanya untuk minyak mentah, tetapi juga liquefied petroleum gas (LPG) untuk kebutuhan rumah tangga, membuat tekanan terasa lebih dalam. Kelangkaan LPG pun mulai terjadi.
Baca Juga: Inflasi Inggris Melonjak Menjadi 3,3%, Dampak Perang Iran Mulai Terasa
Strategi India dan China
Dengan cadangan terbatas, India meningkatkan impor minyak dari Rusia sebagai solusi jangka pendek. Namun langkah ini tidak sepenuhnya aman. Selain harga yang tidak lagi semurah pasca invasi Rusia ke Ukraina, volume pasokan juga terus menipis.
“Untuk jangka pendek, kebutuhan masih aman. Tapi tekanan harga dan keterbatasan suplai menjadi risiko nyata,” ujar pelaku industri pengolahan minyak.
Situasi semakin kompleks setelah dua kapal India diserang saat melintasi Selat Hormuz. Pemerintah India langsung merespons dengan memanggil duta besar Iran dan menunda pengiriman kapal kosong ke kawasan Teluk. Ketegangan ini praktis menutup opsi impor energi dari Iran, apalagi setelah izin sementara dari Amerika Serikat untuk transaksi minyak Iran resmi berakhir.
Dampaknya mulai terasa ke dalam negeri. Konsumen India bersiap menghadapi kenaikan harga diesel pertama dalam empat tahun. Tekanan ini berpotensi memicu inflasi, terutama di tengah pelemahan nilai tukar yang akan memperbesar biaya impor energi.
Ke depan, risiko pembatasan ekspor energi juga semakin terbuka. Beberapa negara, termasuk China, mulai mengambil langkah protektif guna menjaga pasokan domestik. Kondisi ini berpotensi memperketat pasar global dan menekan negara-negara yang lebih kecil.
Meski demikian, posisi China relatif lebih kuat. Negeri Tirai Bambu ini telah lama memperkuat ketahanan energinya, termasuk dengan cadangan lebih dari 1 miliar barel. Namun, China tidak sepenuhnya kebal. Penyusutan pasokan global yang diperkirakan mencapai 10% akibat terganggunya Selat Hormuz mulai mendorong kenaikan harga dan memaksa kilang milik negara mengurangi aktivitas.
Tekanan juga dirasakan oleh kilang swasta China yang selama ini mengandalkan minyak Iran. Dengan tidak adanya pengecualian terhadap pembatasan Hormuz, mereka kini menghadapi dua tekanan sekaligus yakni harga yang melonjak dan pasokan yang kian terbatas.
Situasi ini menegaskan satu hal, krisis energi kali ini bukan sekadar gangguan sementara, melainkan ujian serius bagi ketahanan energi global. Tanpa solusi geopolitik yang cepat, tekanan terhadap harga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi berpotensi semakin dalam, terutama bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada impor energi.
Baca Juga: Pasokan Minyak Jerman Terancam: Kazakhstan Hentikan Ekspor Mei 2026













