Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Dua raksasa minyak dunia, Chevron dan Shell, dilaporkan semakin dekat untuk mendapatkan kesepakatan besar produksi minyak di Venezuela. Ini akan menjadi proyek minyak besar pertama sejak Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu.
Kesepakatan tersebut diyakini membuka jalan bagi kedua perusahaan untuk meningkatkan produksi minyak di wilayah-wilayah strategis Venezuela. Langkah ini juga menjadi bagian awal dari rencana besar yang disebut Presiden AS Donald Trump sebagai upaya senilai US$ 100 miliar untuk membangun kembali industri minyak Venezuela yang lama terpuruk.
Industri minyak negara itu mengalami kemunduran selama puluhan tahun akibat salah kelola dan minim investasi pada masa pemerintahan Maduro maupun pendahulunya, Hugo Chavez.
Reformasi hukum minyak buka pintu investasi asing
Melansir Reuters, pada akhir Januari lalu, Majelis Nasional Venezuela menyetujui reformasi besar terhadap undang-undang minyak negara tersebut. Aturan baru ini memberikan lebih banyak kebebasan kepada perusahaan asing untuk mengoperasikan, mengekspor, dan menjual minyak Venezuela, bahkan ketika mereka hanya menjadi mitra minoritas dari perusahaan minyak negara PDVSA.
Dalam kesepakatan awal, Chevron dan otoritas energi Venezuela disebut telah menyepakati rencana memperluas proyek minyak terbesar Chevron di negara tersebut, yaitu proyek Petropiar yang berada di kawasan sabuk minyak raksasa Orinoco Belt.
Perjanjian ini juga mencakup hak produksi Chevron di area Ayacucho 8 yang berada di selatan wilayah proyek Petropiar. Area tersebut dikenal memiliki cadangan minyak besar yang belum dikembangkan secara optimal.
Baca Juga: Israel Beli 5.000 Bom Pintar dari Boeing, Nilai Kontrak Capai US$ 289 Juta
Jika proyek ini berjalan, Chevron berpotensi meningkatkan produksi minyak ekstra-berat secara signifikan. Bahkan perusahaan tersebut bisa menjadi produsen swasta terbesar di kawasan Orinoco yang menyimpan lebih dari tiga perempat cadangan minyak Venezuela.
Sebelumnya posisi tersebut pernah dipegang oleh ConocoPhillips sebelum perusahaan itu meninggalkan Venezuela sekitar dua dekade lalu setelah gelombang nasionalisasi sektor energi.
Saat ini Chevron dan PDVSA memproduksi sekitar 90.000 barel per hari minyak mentah jenis Hamaca serta sekitar 20.000 barel per hari vacuum gasoil dari proyek Petropiar. Secara keseluruhan, produksi minyak Venezuela berada di kisaran 1,05 juta barel per hari.
Shell juga bidik proyek minyak dan gas
Di sisi lain, Shell juga menandatangani kesepakatan awal pengembangan minyak dan gas dengan pemerintah Venezuela pekan lalu ketika Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum berkunjung ke Caracas.
Berdasarkan dokumen ringkasan resmi, Shell berencana mengembangkan ladang minyak Carito dan Pirital yang berada di wilayah Monagas Utara di Venezuela timur. Kawasan ini termasuk salah satu wilayah langka di Venezuela yang mampu menghasilkan minyak ringan dan menengah serta gas alam.
Jenis minyak tersebut sangat dibutuhkan untuk mencampur minyak berat Venezuela agar lebih mudah diekspor ke pasar internasional.
Shell menyatakan telah menandatangani sejumlah kesepakatan dengan pemerintah Venezuela, perusahaan rekayasa Vepica, KBR, serta perusahaan jasa energi Baker Hughes.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Dibuka Menguat 5% pada Pagi Ini (11/3), Konflik Timur Tengah Memanas
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan gas lepas pantai, proyek minyak dan gas darat, eksplorasi, pengembangan tenaga kerja lokal, hingga penguatan industri energi domestik.
Fokus gas dan pengurangan emisi
Wilayah Monagas Utara juga dinilai cocok dengan strategi global Shell yang semakin fokus pada pengembangan gas alam. Selain dekat dengan infrastruktur gas di darat, kawasan ini juga merupakan salah satu wilayah dengan tingkat pembakaran gas (gas flaring) tertinggi di Venezuela.
Beberapa perusahaan energi sebelumnya telah merancang proyek untuk menangkap gas yang biasanya dibakar, lalu mengolah dan menyalurkannya untuk ekspor, kemungkinan melalui Trinidad and Tobago.
Area Punta de Mata yang mencakup ladang Pirital, Carito, serta El Furrial tercatat memproduksi sekitar 94.000 barel minyak per hari dan sekitar 1,03 miliar kaki kubik gas per hari. Namun sekitar 350 juta kaki kubik gas di antaranya masih dibakar.
Sebelum kesepakatan baru ini, proyek utama Shell di Venezuela adalah pengembangan gas lepas pantai Dragon yang berada dekat perbatasan maritim dengan Trinidad. Proyek tersebut sempat terhambat setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap sektor energi Venezuela pada 2019.
Banyak perusahaan minyak kembali melirik Venezuela
Selain Chevron dan Shell, beberapa perusahaan energi lain juga dilaporkan tertarik memperluas operasi di Venezuela. Di antaranya perusahaan Spanyol Repsol serta perusahaan Prancis Maurel & Prom.
Repsol bahkan disebut memiliki piutang lebih dari US$ 5 miliar di Venezuela yang menumpuk selama periode sanksi internasional.
Sementara itu pemerintah Venezuela juga sedang melakukan peninjauan ulang terhadap seluruh proyek minyak dan gas di negara tersebut. Proses ini mencakup kontrak bagi hasil yang sebelumnya ditandatangani pemerintahan Maduro.
Tonton: ALERT! Perang Iran Menguras Persenjataan AS – Apakah China Menunggu?
Perusahaan minyak negara PDVSA untuk sementara mengambil alih administrasi serta penjualan minyak dari beberapa proyek selama proses evaluasi berlangsung.
Pejabat kementerian energi Venezuela mengatakan peninjauan tersebut ditargetkan selesai pada akhir Maret. Proyek yang tidak aktif atau gagal memenuhi target investasi berpotensi dicabut izinnya.
Di sisi lain, pemerintah AS juga dilaporkan memeriksa secara ketat kredibilitas perusahaan serta kepatuhan mereka terhadap sanksi sebelum memberikan izin bagi mitra baru untuk beroperasi di sektor energi Venezuela.













