kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   18.000   0,66%
  • USD/IDR 17.688   -130,00   -0,73%
  • IDX 6.261   252,95   4,21%
  • KOMPAS100 836   42,10   5,30%
  • LQ45 627   29,21   4,89%
  • ISSI 215   8,46   4,10%
  • IDX30 354   15,14   4,47%
  • IDXHIDIV20 435   17,23   4,13%
  • IDX80 94   4,60   5,13%
  • IDXV30 116   3,48   3,08%
  • IDXQ30 114   4,54   4,17%

Laporan Lowy Institute: Ancaman Militer China terhadap Australia Kian Nyata


Senin, 15 Juni 2026 / 09:41 WIB
Laporan Lowy Institute: Ancaman Militer China terhadap Australia Kian Nyata
ILUSTRASI. CHINA/ (POOL via REUTERS/IORI SAGISAWA)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Kemampuan militer China untuk menjangkau dan menyerang wilayah Australia diperkirakan akan meningkat signifikan dalam satu dekade ke depan.

Namun, ancaman paling dekat yang dihadapi Australia saat ini dinilai berasal dari serangan siber dan potensi gangguan terhadap kabel komunikasi bawah laut.

Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru lembaga pemikir berbasis di Sydney, Lowy Institute, yang dirilis pada Senin (15/6/2026).

Baca Juga: AS dan Iran Sepakati Kerangka Awal Perdamaian, Penandatanganan Dijadwalkan Jumat

Dalam laporannya, Lowy Institute menyebut pengembangan pesawat pengebom siluman jarak jauh baru oleh China, serta kemungkinan penempatan rudal dan pesawat tempur di pangkalan yang lebih dekat dengan Australia, dapat meningkatkan ancaman strategis secara cepat dan signifikan dalam jangka panjang.

Menurut laporan tersebut, Beijing telah berupaya menjalin pengaturan pangkalan militer di negara-negara Kepulauan Pasifik setidaknya sejak 2018.

"Keberadaan pangkalan semacam itu akan menempatkan wilayah Australia bagian tengah dalam jangkauan operasi tempur pesawat pengebom China dan memungkinkan serangan dilakukan lebih sering," tulis Lowy Institute.

Meski demikian, laporan tersebut menilai ancaman jangka pendek tidak harus berbentuk serangan konvensional.

Baca Juga: Malaysia Turunkan Harga Referensi CPO Juli, Bea Keluar Tetap 10%

China dinilai memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur perdagangan maritim Australia melalui sejumlah titik strategis di kepulauan Indonesia.

Selain itu, Lowy Institute menyebut China saat ini telah memiliki kemampuan untuk menjangkau wilayah Australia utara menggunakan rudal yang ditempatkan di pangkalan-pangkalan militernya di Laut China Selatan.

Pihak Kedutaan Besar China di Australia belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Hubungan Australia dan China memiliki dimensi yang kompleks. Di satu sisi, China merupakan mitra dagang terbesar Australia dengan porsi hampir sepertiga dari total ekspor Australia.

Namun di sisi lain, hubungan diplomatik kedua negara sempat memburuk setelah 2018 akibat berbagai isu geopolitik dan keamanan. Saat itu, Beijing memberlakukan sejumlah pembatasan terhadap produk ekspor Australia.

Baca Juga: Indeks KOSPI Korsel Melejit 5% Senin (15/6), Saham Samsung dan SK Hynix Jadi Bintang

Hubungan bilateral mulai membaik sejak pemerintahan Partai Buruh di bawah Anthony Albanese berkuasa pada 2022.

Meski demikian, Canberra tetap mewaspadai peningkatan pengaruh China di kawasan Pasifik. Australia terus memperkuat kerja sama keamanan dengan negara-negara Pasifik guna mencegah Beijing membangun kehadiran militer permanen di kawasan yang selama ini dianggap berada dalam lingkup pengaruh Australia dan Amerika Serikat.

"Modernisasi militer China sedang mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik dan akan berdampak terhadap keamanan Australia, terlepas dari kemampuan China untuk menyerang wilayah Australia secara langsung," tulis laporan tersebut.

Di kawasan Pasifik Selatan, Kepulauan Solomon menjadi sorotan karena dianggap memiliki hubungan paling dekat dengan Beijing setelah menandatangani pakta keamanan dengan China pada 2022.

Baca Juga: Damai AS-Iran Picu Euforia, Nikkei Jepang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Kesepakatan itu memicu kekhawatiran Australia dan Amerika Serikat serta meningkatkan upaya diplomatik Canberra di kawasan.

Menariknya, Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Matthew Wale, saat berkunjung ke Australia awal bulan ini menyatakan negaranya akan merundingkan perjanjian strategis komprehensif dengan Australia sekaligus meninjau kembali perjanjian keamanan dengan China.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×