Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - LONDON. Lebih dari 30 negara menggelar pertemuan militer selama dua hari di London mulai Rabu (22/4/2026) untuk mematangkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia yang terdampak krisis Iran.
Pemerintah Inggris menyatakan, forum ini bertujuan menerjemahkan kesepakatan diplomatik menjadi rencana operasional di lapangan.
Fokus utamanya adalah memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz sekaligus mendukung terciptanya gencatan senjata yang berkelanjutan.
Baca Juga: Ultimatum Keras Trump: Buka Selat Hormuz atau Pembangkit Energi Iran Hancur!
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari pembicaraan pekan lalu, ketika lebih dari selusin negara menyatakan kesiapan bergabung dalam misi internasional yang dipimpin Inggris dan Prancis untuk melindungi pelayaran di kawasan tersebut, jika kondisi memungkinkan.
Dukungan itu muncul setelah sekitar 50 negara dari Eropa, Asia, dan Timur Tengah mengikuti konferensi video.
Langkah tersebut juga dipandang sebagai sinyal kepada Amerika Serikat, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Washington tidak membutuhkan bantuan sekutu.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey menegaskan, agenda utama pertemuan kali ini adalah menyusun rencana bersama yang konkret.
“Tugas kami hari ini dan besok adalah mengubah konsensus diplomatik menjadi rencana bersama untuk menjaga kebebasan navigasi dan mendukung gencatan senjata yang bertahan lama,” ujarnya.
Baca Juga: AS–Iran Terima Kerangka Gencatan Senjata, Teheran Tolak Buka Selat Hormuz
Inggris menambahkan, pembahasan akan mencakup kesiapan kemampuan militer, skema komando dan kendali, hingga mekanisme penempatan pasukan di kawasan.
Rencana ini akan dijalankan setelah situasi memungkinkan, terutama jika gencatan senjata yang stabil telah tercapai.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak pasar energi global.













