Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - MUMBAI, Mata uang rupee India dan pasar obligasi pemerintah diperkirakan tetap berada di bawah tekanan pekan ini.
Penyebab utamanya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan tajam harga minyak, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi India.
Kampanye militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah memasuki pekan kedua. Konflik tersebut mengguncang dunia usaha global dan mendorong harga energi naik tajam.
Harga minyak mentah Brent pada Senin melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini dipicu pemangkasan pasokan oleh produsen utama di Timur Tengah serta kekhawatiran gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik yang memanas.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$ 114 per barel, Bursa Global Berguguran
Beberapa negara produsen mulai menahan pasokan. Irak dan Kuwait dilaporkan memangkas produksi minyak, sementara Qatar sebelumnya telah mengurangi ekspor gas alam cair (LNG).
Analis juga memperkirakan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi bisa segera mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan minyak mereka mendekati penuh.
Situasi geopolitik juga semakin tegang setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus pemimpin tertinggi Ali Khamenei, menandakan kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran.
Lonjakan harga minyak menjadi perhatian besar bagi India, salah satu importir minyak terbesar di dunia. Harga Brent sempat mendekati US$ 95 per barel pada Jumat lalu dan telah melonjak lebih dari 25% sepanjang bulan ini.
Kenaikan harga energi ini langsung menekan nilai tukar rupee. Mata uang India itu sempat menyentuh rekor terendah pekan lalu sebelum bank sentral India (Reserve Bank of India/RBI) turun tangan menstabilkan pasar.
Baca Juga: Pertemuan Trump–Xi Diprediksi Tanpa Terobosan, Fokus Jaga Stabilitas
Namun pelaku pasar memperkirakan tekanan masih berlanjut jika harga minyak terus naik. Nilai tukar rupee diperkirakan bisa melemah menuju kisaran 92,50 per dolar AS.
Seorang dealer valas di bank besar AS mengatakan eksportir masih menahan diri untuk melakukan lindung nilai. “Eksportir memilih menunggu karena sebagian lindung nilai sebelumnya merugi secara nominal dan mereka belum yakin sejauh mana rupee akan melemah,” ujarnya.
Meski demikian, rupee masih relatif lebih kuat dibandingkan beberapa mata uang negara berkembang lain seperti won Korea Selatan dan real Brasil.
Analis menilai ketahanan rupee sejauh ini tidak lepas dari pengelolaan ketat oleh bank sentral. Namun mereka mengingatkan kebijakan tersebut tidak bisa dipertahankan terlalu lama jika guncangan global terus berlanjut.
Di sisi lain, data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan pasar tenaga kerja melemah. Ekonomi AS secara tak terduga kehilangan sekitar 92.000 pekerjaan bulan lalu, yang sempat menekan dolar meski mata uang tersebut tetap didukung permintaan aset aman.
Sementara itu, pasar obligasi India juga menghadapi tekanan. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 6,6898% pada akhir pekan lalu. Kenaikan terjadi meski ada pembelian besar dari investor institusi, termasuk bank sentral.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 8% Hari Ini, Picu Circuit Breaker Kedua di Bulan Ini
Pelaku pasar memperkirakan imbal hasil obligasi akan bergerak di kisaran 6,65%–6,75% pekan ini, dengan pergerakan harga minyak sebagai faktor penentu utama.
Untuk meredam gejolak pasar, RBI berencana membeli obligasi senilai 1 triliun rupee pekan ini dalam dua tahap. Langkah ini dinilai membantu menjaga stabilitas pasar valuta asing maupun pasar obligasi.
Penasihat ekonomi utama Union Bank of India, Kanika Pasricha, mengatakan bank sentral masih memiliki ruang kebijakan untuk menahan volatilitas. “RBI dengan berbagai instrumen kebijakan masih mampu membantu mengelola gejolak di pasar rupee dan suku bunga,” katanya.
Investor juga menantikan sejumlah data penting pekan ini, termasuk inflasi ritel India Februari yang diperkirakan berada di sekitar 3,1%. Data ekonomi Amerika Serikat seperti inflasi konsumen, perdagangan internasional, hingga produk domestik bruto juga akan menjadi perhatian pasar global.













