kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.163   -11,00   -0,06%
  • IDX 7.559   -34,73   -0,46%
  • KOMPAS100 1.040   -10,36   -0,99%
  • LQ45 744   -12,17   -1,61%
  • ISSI 273   -1,59   -0,58%
  • IDX30 401   -0,83   -0,21%
  • IDXHIDIV20 487   -2,68   -0,55%
  • IDX80 116   -1,41   -1,20%
  • IDXV30 139   0,63   0,45%
  • IDXQ30 128   -0,94   -0,72%

Lonjakan Harga Minyak Dorong Permintaan Biofuel di Tengah Konflik Iran


Selasa, 21 April 2026 / 17:00 WIB
Lonjakan Harga Minyak Dorong Permintaan Biofuel di Tengah Konflik Iran
ILUSTRASI. Konflik Timur Tengah mendongkrak harga minyak lebih dari 30%. Biofuel kini jadi alternatif ekonomis. Akankah Asia bebas dari krisis energi? (REUTERS/Abdul Saboor)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan harga minyak akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mendorong kembali permintaan biofuel di berbagai negara. Kenaikan harga energi fosil dinilai membuat biofuel menjadi alternatif yang lebih ekonomis, meski kekhawatiran soal dampaknya terhadap harga pangan tetap muncul.

Konflik di Timur Tengah telah mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia yang biasanya melewati Selat Hormuz. Sejak akhir Februari, sebelum perang dimulai, harga minyak mentah melonjak lebih dari 30%.

Sebaliknya, harga jagung—salah satu bahan baku utama biofuel—hanya naik sekitar 5%. Kondisi ini membuat biofuel lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.

Biofuel, yang diproduksi dari bahan organik seperti jagung, tebu, dan minyak nabati, umumnya dicampurkan ke bensin atau digunakan sebagai pengganti solar. Ketika harga minyak naik, penggunaan biofuel menjadi lebih menarik karena dapat membantu menekan harga bahan bakar dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.

Asia Tingkatkan Pemakaian Biofuel

Negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah mulai mempercepat penggunaan biofuel sejak perang pecah. Asia membeli sekitar 80% minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz, yang kini sebagian besar tertutup bagi pelayaran.

Vietnam memutuskan untuk sepenuhnya beralih ke bensin campuran etanol mulai April, lebih cepat dari target sebelumnya pada 1 Juni. Etanol umumnya diproduksi dari jagung atau tebu.

Sementara itu, Indonesia berencana menaikkan kewajiban pencampuran biodiesel berbahan baku minyak sawit menjadi 50% dari sebelumnya 40%. Indonesia sendiri merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia.

Baca Juga: Investasi Global di Industri Antariksa Cetak Rekor pada Kuartal I-2026

Menurut analis biofuel Kpler, Beata Wojtkowska, negara-negara Asia melihat biofuel sebagai solusi ganda, yakni mengurangi impor energi sekaligus meningkatkan pendapatan petani lokal.

Selain memperluas penggunaan biofuel, sejumlah negara Asia juga mulai menerapkan langkah penghematan energi seperti pembatasan bahan bakar, pengurangan hari kerja, dan sistem berkendara bergilir.

India dan Thailand Siapkan Langkah Serupa

Ekonom senior International Sugar Organization, Peter de Klerk, memperkirakan krisis energi akan memberi dorongan besar bagi sektor biofuel Asia.

India disebut tengah merencanakan peningkatan kadar etanol dalam bensin, sementara Thailand juga sedang mengevaluasi opsi perluasan penggunaan etanol.

Kekhawatiran Soal Harga Pangan

Meski begitu, peningkatan produksi biofuel kembali memunculkan perdebatan lama mengenai “pangan versus energi”. Saat krisis harga pangan 2007–2008, kebijakan subsidi dan kewajiban penggunaan biofuel banyak dikritik karena dianggap mendorong kenaikan harga pangan.

Produksi biofuel memang menyerap porsi besar hasil pertanian. Sekitar 40% produksi jagung di AS digunakan untuk membuat etanol, sementara Brazil menggunakan sekitar 50% tebu untuk biofuel.

Kenaikan biaya energi, transportasi, dan pupuk akibat perang telah mendorong harga pangan dunia mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada Maret. Penggunaan biofuel yang lebih besar dikhawatirkan dapat mendorong harga pangan semakin tinggi.

Namun, Direktur Kampanye Asia Tenggara dari Mighty Earth, Phil Aikman, menilai kenaikan harga pangan yang signifikan baru akan terjadi jika industri membangun pabrik biofuel baru dalam skala besar, yang memerlukan waktu bertahun-tahun.

Selain itu, pasokan gandum dan minyak nabati global saat ini masih cukup melimpah sehingga perdebatan pangan versus energi tidak seintens krisis 2007–2008.

Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Harga Plastik hingga 40%, Industri Barang Konsumen Tertekan

Biofuel Belum Bisa Gantikan Minyak Sepenuhnya

Saat ini, biofuel hanya memenuhi sekitar 4% kebutuhan bahan bakar transportasi global. Konsultan BMI, bagian dari Fitch, memperkirakan kontribusi biofuel akan meningkat menjadi 5% pada 2035.

Meski demikian, keterbatasan kapasitas pabrik, pasokan bahan baku, dan batas pencampuran bahan bakar diperkirakan akan menghambat lonjakan permintaan biofuel dalam waktu cepat.

“Biofuel dapat membantu menekan harga bahan bakar, tetapi tidak dalam skala besar,” ujar Wojtkowska.

Uni Eropa Jadi Pengecualian

Berbeda dengan Asia, Uni Eropa justru membatasi penggunaan biofuel karena khawatir dapat mendorong kenaikan harga pangan dan deforestasi.

Pembatasan ini menjadi bagian dari kebijakan energi terbarukan Uni Eropa yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump di AS telah memerintahkan kilang minyak untuk mencampurkan biofuel dalam jumlah rekor tahun ini.

Sementara itu, Brasil mempertimbangkan menaikkan campuran etanol dalam bensin menjadi 32% dari 30% pada akhir Juni. Pabrik gula di negara itu juga diperkirakan akan mengalokasikan lebih banyak tebu untuk memproduksi etanol karena dinilai lebih menguntungkan dibandingkan gula.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×