CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Lonjakan Inflasi Global akan Menambah Beban Industri Manufaktur


Minggu, 03 Juli 2022 / 19:24 WIB
Lonjakan Inflasi Global akan Menambah Beban Industri Manufaktur
ILUSTRASI. Pabrik DFSK yang berada di Cikande, Serang, Banten menjadi salah satu pabrik otomotif tercanggih dan modern yang dimiliki oleh Indonesia karena sudah 90 persen mengadopsi teknologi robotik di proses produksinya. Lonjakan Inflasi Global Akan Menambah Beban


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia masih berada dalam zona ekspansi karena masih di level 50. Namun laju ekspansi tersebut terus melambat pada Juni 2022.

S&P Global mencatat, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2022 berada di level 50,2, atau menurun dari Mei 2022 yang sebesar 50,8. Kondisi perlambatan ini baru terjadi setelah 10 bulan berturut-turut PMI manufaktur Indonesia berada di zona ekspansi.

Kondisi inflasi pada Juni yang begitu terasa berdampak pada kenaikan harga bahan baku yang tinggi dan menyebabkan kelangkaan, disusul juga kelangkaan produk yang meluas, sehingga mendorong biaya input yang membengkak. Selain itu, adanya inflasi global juga membuat permintaan menurun.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan bahwa pada tahun ini inflasi global akan cenderung naik hingga akhir tahun nanti. Demikian juga di nasional, tren inflasi juga akan melonjak naik yang diikuti tren melemahnya nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Dibayangi Sejumlah Risiko, Industri Otomotif Diharapkan Masih Tumbuh Positif di 2022

Sementara itu, Ia menyebut, inflasi global yang naik juga akan menambah beban manufaktur yang komponen impornya tinggi, ditambah Rupiah yang melemah akan membuat industri manufaktur yang pemasarannya hanya di dalam negeri menjadi tertekan karena ongkos produksi naik.

"Di sisi lain dari para konsumen, inflasi ini akan menggerus daya beli," ujar Eko kepada Kontan.co.id, Minggu (3/7).

Oleh karena itu, menurutnya menjaga stabilitas kurs Rupiah saat ini sama pentingnya dengan menahan lonjakan inflasi. Adapun strategi yang lebih optimal menurutnya adalah otoritas moneter lebih berfokus pada mengurangi fluktuasi kurs, sementara otoritas fiskal berfokus menahan lonjakan inflasi.

"Sejauh ini sepertinya Bank Indonesia (BI) masih lebih fokus pada urusan pengendalian inflasi, dengan berupaya keras terus menahan kenaikan suku bunga acuan, dan berharap sektor riil bergerak menyambut kredit bank. Namun, jika Rupiah berfluktuasi maka sektor riil (termasuk manufaktur) juga akan kembali menahan ekspansi," katanya.

Sementara sisi positifnya, Eko melihat di tengah naiknya inflasi justru pemulihan ekonomi Indonesia masih cukup kuat, ditopang kenaikan komoditas. Hal ini menandakan bahwa masih ada ruang manufaktur untuk terus ekspansi mengingat pemulihan ekonomi yang sedang berjalan belum kembali pada situasi sebelum pandemi.

Baca Juga: Industri Menufaktur pada Juni Melambat, Begini Tanggapan Industri Kaca Lembaran

"Karena sebenarnya pemulihan ekonomi Indonesia belum sampai ke titik awal sebelum pandemi. Ini lah yang harus dimanfaatkan oleh manufaktur untuk mendapatkan gain," katanya.

Dihubungi berbeda, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan bahwa industri manufaktur berisiko mengalami penurunan kinerja dengan proyeksi PMI kontraksi di bawah level 49.

Menurutnya, kenaikan biaya pokok pembelian bahan baku dan ongkos logistik akan menjepit pelaku industri dengan dua opsi pilihan yang sulit.

"Lakukan kenaikan harga ditingkat konsumen tapi volume penjualan melambat atau memangkas marjin tanpa merubah harga. Sejauh ini pelaku industri mulai meneruskan beban biaya produksi ke konsumen akhir," kata Bhima kepada Kontan.co.id.

Baca Juga: Sri Mulyani: Sektor Utama Penerimaan Pajak Tumbuh Positif pada Semester I-2022

Lebih lanjut Bhima mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di sisi produsen sudah menyentuh di angka 9% sejak kuartal I-2022. Namun dirinya menyebut, para pelaku usaha belum serentak membebankannya kepada konsumen.

"Mungkin mereka menunggu momentum kesiapan daya beli, tapi sekarang sudah dihadapkan pada situasi global yang beresiko khususnya di pasar ekspor utama," tambahnya.

Di sisi lain, tren kenaikan suku bunga juga menjadi tantangan yang serius bagi pelaku industri. Sebagian pembelian mesin dan modal kerja akan bergantung pada pinjaman bank maupun penerbitan surat utang. Namun menurutnya, biaya dana (cost of fund) akan naik sementara pendapatan belum semua kembali pada situasi sebelum pandemi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×