kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.758   51,00   0,29%
  • IDX 6.452   -9,43   -0,15%
  • KOMPAS100 854   -1,11   -0,13%
  • LQ45 649   -1,32   -0,20%
  • ISSI 223   0,07   0,03%
  • IDX30 360   -1,28   -0,35%
  • IDXHIDIV20 449   -1,44   -0,32%
  • IDX80 98   -0,15   -0,16%
  • IDXV30 124   0,09   0,07%
  • IDXQ30 116   -0,45   -0,38%

Marak Penipuan Saham, Investor Ritel Korea Selatan Kehilangan US$250 Juta


Rabu, 16 September 2026 / 08:23 WIB
Marak Penipuan Saham, Investor Ritel Korea Selatan Kehilangan US$250 Juta
ILUSTRASI. Bursa Asia - Kopsi Korea Selatan (REUTERS/Kim Soo-hyeon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID -  Investor ritel Korea Selatan mengaku kehilangan dana sekitar US$250 juta atau setara 336 miliar won akibat penipuan investasi saham sepanjang semester I-2026. Jumlah tersebut melonjak hampir 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Mengutip Reuters Rabu (16/9/2026), data kepolisian Korea Selatan menunjukkan terdapat 3.506 kasus terkait ruang obrolan atau chatroom yang menawarkan rekomendasi saham sepanjang Januari hingga Juni 2026. Nilai dana yang terlibat mencapai 336 miliar won atau sekitar US$246,57 juta.

Jumlah kasus tersebut hanya meningkat 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, nilai dana yang terlibat melonjak 19,8%.

Baca Juga: Harga Emas Spot Tertekan Rabu (16/9) Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Penipuan tersebut marak ketika pasar saham Korea Selatan mengalami pergerakan yang tajam. Indeks KOSPI menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terbaik di dunia pada semester I-2026, sebelum kemudian terkoreksi hingga 44% dari level puncaknya pada 19 Juni.

Sejumlah pengacara yang menangani kasus penipuan finansial mengatakan, pelaku memanfaatkan fenomena fear of missing out (FOMO) di tengah reli saham untuk membujuk investor menyerahkan uang mereka. Investor ritel yang masih minim pengalaman dinilai menjadi kelompok yang rentan menjadi sasaran.

"Volatilitas menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi organisasi kriminal," kata Kim In-ho, penyelidik di Jeongbyeok Law Firm yang menangani korban penipuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pelaku penipuan di Korea Selatan banyak menggunakan modus yang berkaitan dengan mata uang kripto dan properti.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun ke US$107,82 Rabu (16/9), Stok Minyak AS Naik di Luar Dugaan

Namun, menurut para pengacara, modus tersebut berubah signifikan seiring reli pasar saham tahun ini dan mulai menyasar investor saham ritel.

Salah satu modus yang digunakan adalah meninggalkan komentar di video analis perusahaan sekuritas atau influencer keuangan terkenal. Pengikut mereka kemudian diarahkan masuk ke ruang obrolan privat.

Di dalam chatroom tersebut, sebagian pelaku mengenakan biaya berlangganan mulai dari ribuan hingga ratusan ribu dolar untuk rekomendasi saham.

Pelaku lainnya membujuk korban untuk mentransfer uang dengan alasan dana tersebut akan diinvestasikan.

Seorang pengacara mengatakan pelaku juga menggunakan reli KOSPI yang didorong oleh taruhan berbasis utang pada saham teknologi sebagai alasan untuk meyakinkan korban agar ikut berinvestasi. Satu kasus penipuan dapat melibatkan sejumlah korban sekaligus.

"Ketika volatilitas pasar meningkat, ketidakpastian juga meningkat dan saat itulah psikologi investor ritel menjadi lebih rapuh. Kelompok-kelompok ini mengeksploitasi kondisi tersebut dengan meminta masyarakat mempercayai mereka," kata Lee Tae-kyung, pengacara di Wanbong Law Firm.

Otoritas Pengawas Keuangan Korea Selatan, Financial Supervisory Service (FSS), mengatakan tidak memiliki data mengenai kasus ruang obrolan yang memberikan rekomendasi saham secara ilegal.

Menurut FSS, penyelidikan kasus tersebut merupakan tanggung jawab aparat penegak hukum.

Baca Juga: CEO Nvidia Dikabarkan Turut Serta Dalam Jamuan Makan Malam Trump untuk Xi Jinping

Korban rugi 60 juta won

Kepolisian Seoul pada Juni menangkap 10 orang setelah membongkar jaringan penipuan yang beroperasi dari Kamboja.

Sindikat tersebut diduga menipu 59 warga Korea Selatan dengan total kerugian sekitar 9,9 miliar won selama dua tahun hingga Februari.

Polisi mengatakan anggota sindikat menyamar sebagai pegawai perusahaan sekuritas dan mendorong korban membeli saham yang disebut direkomendasikan oleh kecerdasan buatan (AI) melalui aplikasi palsu.

Pemimpin sindikat tersebut merupakan warga negara asing, sedangkan sebagian staf call center merupakan warga Korea Selatan.

Baca Juga: Dari Passion ke Profesi, TikTok LIVE Dorong Kreator Naik Kelas

Kasus tersebut telah dilimpahkan kepada jaksa dan menunggu jadwal persidangan.

Salah satu korban, Jay, pekerja logistik Korea Selatan berusia 47 tahun, mengatakan kehilangan 60 juta won setelah terjebak modus serupa pada Februari.

Ia meminta identitasnya hanya disebut menggunakan nama Inggris karena keluarganya tidak mengetahui kerugian tersebut.

Jay bergabung dengan sebuah grup chat di Naver setelah melihat video TikTok yang diyakininya diunggah oleh direktur perusahaan sekuritas ternama.

"Saat itu banyak pembicaraan mengenai jangan menaruh uang di properti, tetapi di saham. Suasana seperti itu begitu kuat dan saya terbawa tanpa menyadarinya," kata Jay.

Awalnya, grup tersebut hanya memberikan komentar mengenai kondisi pasar saham. Namun, anggota grup kemudian mulai membicarakan keuntungan besar dari investasi dengan nilai mencapai enam hingga tujuh digit dolar melalui staf perusahaan sekuritas.

Jay kemudian meminjam uang dan menginvestasikan 20 juta won. Tidak lama kemudian, anggota grup menawarkan apa yang disebut sebagai peluang langka pada sebuah perusahaan konstruksi yang diperkirakan mendapat keuntungan dari potensi pembangunan kembali Iran pascaperang.

Jay kembali mengirimkan 40 juta won kepada pengelola chatroom karena meyakini orang tersebut merupakan pegawai perusahaan sekuritas. Ia dijanjikan potensi keuntungan hingga 600%.

Namun, tak lama setelah dana dikirim, grup tersebut berhenti beraktivitas dan akhirnya ditutup pada April.

Baca Juga: Bessent Membela Kebijakan Ekonomi Trump, Ungkap Rencana Bertemu Pejabat China

Jay telah mengajukan laporan pidana kepada polisi serta gugatan perdata terhadap pemilik rekening bank yang digunakan untuk menerima dana.

Reuters tidak dapat menghubungi pemilik rekening tersebut karena Jay tidak memiliki informasi kontaknya.

Jeonbuk Bank, bank yang menaungi rekening tersebut, mengatakan mengetahui adanya kasus penipuan yang sedang berlangsung dan akan terus meningkatkan sistem pendeteksian penipuan.

Sementara itu, Naver mengatakan akan mengambil tindakan terhadap chatroom semacam itu setelah menerima laporan serta memperkuat pemantauannya.

Jay kini mengambil dua pekerjaan sampingan untuk melunasi utangnya.

"Nasihat saya kepada pendatang baru di pasar saham adalah meragukan setiap rekomendasi yang Anda terima."


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×