Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
TP-Link Systems Inc., perusahaan berbasis di California yang dipisahkan dari perusahaan China pada 2024, menegaskan bahwa mereka adalah perusahaan Amerika yang dimiliki secara independen, dengan perangkat lunak yang dikelola di AS, data yang di-host di AS, serta praktik keamanan yang sesuai standar industri AS.
“Setiap anggapan bahwa kami berada di bawah kendali asing atau menimbulkan risiko keamanan nasional adalah sepenuhnya tidak benar,” kata TP-Link.
Gedung Putih serta perusahaan telekomunikasi milik negara China, China Telecom, China Mobile, dan China Unicom, tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait kebijakan yang ditunda tersebut.
Trump berencana mengunjungi Beijing pada April dan juga telah mengundang Xi untuk berkunjung ke AS akhir tahun ini.
Kritik dari Politikus AS
Sejumlah anggota Partai Demokrat menentang penundaan kebijakan ini.
“Anda tidak bisa mengklaim ‘keras terhadap China’ sambil membiarkan Partai Komunis China membanjiri teknologi mereka ke infrastruktur dan perusahaan vital di seluruh Amerika, dari industri otomotif hingga telekomunikasi,” kata Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer.
“Dalam upayanya menyenangkan Xi, Trump mempertaruhkan keamanan nasional, industri, dan data pribadi jutaan warga Amerika,” tambahnya.
Sumber mengatakan, semua kebijakan yang kini ditunda awalnya ditujukan untuk mencegah Beijing mengakses dan mengeksploitasi data sensitif AS, baik untuk pemerasan, pencurian kekayaan intelektual, maupun potensi sabotase terhadap infrastruktur penting.
Setelah gencatan dagang Oktober lalu, pimpinan pemerintah disebut mengarahkan staf untuk lebih fokus pada Iran dan Rusia. Pergeseran fokus ini menuai kritik, karena Iran dinilai bukan ancaman teknologi sebesar China atau Rusia.
Tonton: Keuntungan Minyak Venezuela Akan Dibagi dengan AS, Trump Persilakan China Investasi
Beberapa pejabat dan pakar keamanan nasional memperingatkan bahwa penundaan ini berisiko besar. Kapasitas data center AS diperkirakan tumbuh hampir 120% hingga 2030, menurut perusahaan real estat global Jones Lang LaSalle.
David Feith, mantan pejabat pemerintahan Trump, memperingatkan bahwa perangkat keras data center yang terkait dengan China merupakan ancaman keamanan nasional yang semakin besar.
Ia menyebut data center AS berpotensi menjadi “pulau kedaulatan digital China” yang dapat dikendalikan dari jarak jauh, seiring AS secara diam-diam membangun kerentanan strategis dalam infrastruktur AI dan energi.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)