Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyindir Inggris dengan menyatakan negara itu tidak lagi pantas disebut “Great Britain”.
Menurut Lavrov, Inggris adalah satu-satunya negara di dunia yang secara resmi menyematkan kata “great” atau “agung” pada nama negaranya sendiri.
“Saya pikir Inggris seharusnya cukup disebut Britain saja, karena ‘Great Britain’ adalah satu-satunya contoh negara yang menyebut dirinya sendiri ‘great’,” kata Lavrov kepada wartawan, Selasa (20/1/2026), saat menyinggung isu kolonialisme dan komentar terkait Greenland.
Pernyataan itu disampaikan Lavrov dalam sesi tanya jawab dengan media. Juru bicaranya bahkan sempat menunjuk koresponden Sky News asal Inggris, Ivor Bennett, untuk mengajukan pertanyaan. “Tidak ada maksud menyinggung,” ujar Lavrov menambahkan.
Baca Juga: Deindustrialisasi Dini Dinilai Penyebab Mayoritas Pekerjaan di Indonesia Tak Layak
Lavrov lalu mencontohkan bahwa sebelumnya pernah ada negara lain yang menggunakan kata “great” dalam nama resminya, yakni “Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya” yang dipimpin Muammar Gaddafi. “Tapi negara itu sudah tidak ada lagi,” ujarnya.
Dalam bahasa Rusia, United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland memang lazim disebut “Velikobritaniya”, yang berarti Britania Raya atau Great Britain.
Komentar Lavrov ini muncul di tengah memburuknya hubungan Rusia dan Inggris. Di saat Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump berupaya mereset hubungan dengan Moskow dan mendorong perdamaian antara Rusia dan Ukraina, Inggris justru disebut-sebut mendapat status sebagai “musuh publik nomor satu” Rusia.
Di televisi pemerintah Rusia, Inggris kerap disebut dengan istilah “Perfidious Albion”, sebutan lama yang menggambarkan Inggris sebagai kekuatan intelijen global yang licik dan gemar bermain di balik layar.
Baca Juga: PBB Tuding Israel Berusaha Jadikan Gaza City Tak Layak Huni
Media Rusia sering menuduh London terlibat dalam berbagai manuver tersembunyi, mulai dari Washington hingga Iran, untuk melemahkan kepentingan Rusia di tingkat global.
Sebaliknya, pemerintah Inggris menilai Rusia sebagai ancaman bagi keamanan Eropa. Di tengah perang di Ukraina, Rusia dan negara-negara Barat saling menuduh melakukan operasi spionase dengan intensitas yang disebut-sebut paling tinggi sejak era Perang Dingin.













