kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45700,06   2,33   0.33%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Moody's: Pertumbuhan ekonomi China hanya 5,2% akibat virus corona


Selasa, 18 Februari 2020 / 15:32 WIB
Moody's: Pertumbuhan ekonomi China hanya 5,2% akibat virus corona
ILUSTRASI. A girl runs past a man as he smokes in Beijing's central business area, China January 17, 2020. REUTERS/Jason Lee

Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Moody's kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2020. Moody's memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China hanya akan di 5,2% di tahun ini.

“Kami telah menurunkan perkiraan pertumbuhan China menjadi 5,2% untuk tahun 2020 dari sebelumnya 5,8%. Ini mencerminkan ada dampak ekonomi yang parah tapi berumur pendek, dengan efek langsung ekonomi di seluruh wilayah," jelas Christian de Guzman, Wakil Presiden Senior Moody's dalam rilis Selasa (18/2).

Baca Juga: Tiga WNI kru kapal pesiar Diamond Princess positif terinfeksi virus corona

Wabah virus corona telah merambah ke wilayah lain dan menekan pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik. Dampak yang paling dirasakan pada perdagangan dan pariwisata.

Bahkan beberapa sektor harus mengalami gangguan rantai pasokan. Gangguan ini tampak terasa perdagangan global di beberapa wilayah.

"Asumsi dasar kami adalah dampak ekonomi dari corona virus akan berlanjut untuk beberapa minggu sebelum kemudian memungkinkan kegiatan ekonomi akan kembali membaik," tutur Guzman.

Moody's juga memperkirakan Makau yang memiliki rating Aa3 stable dan Hong Kong  dengan rating Aa3 stable menjadi yang paling terpukul. Ini karena hubungan ekonomi kedua negara tersebut dengan China yang cukup erat.

Revisi pertumbuhan ekonomi dari Moody's ini menggabungkan padangan atas wabah virus corona dan permintaan domestik di India dan Thailand yang lemah.

Baca Juga: Harvard sebut Singapura terapkan standar emas deteksi virus corona, RI sebaliknya

"Permintaan dari China yang lemah ke semua wilayah Asia akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Meskipun perdagangan jasa hanya berkontribusi sepertiga," terang Guzman.

Beberapa negara lain eksportir barang dan komoditas akan paling terpapar serius penurunan permintaan China. Pusat pariwisata yang mengandalkan pengunjung dari China juga akan rentan terdampak.




TERBARU

Close [X]
×