Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar saham Amerika Serikat (AS) bersiap menghadapi ujian penting seiring dimulainya musim laporan keuangan kuartal I/2026.
Investor akan mencermati apakah kinerja laba perusahaan masih cukup kuat menopang reli pasar, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga energi.
Musim laporan dibuka oleh sektor perbankan besar, yang dinilai menjadi barometer awal kondisi ekonomi. Sejumlah bank raksasa seperti Goldman Sachs dijadwalkan merilis kinerja pada awal pekan, disusul JPMorgan, Citigroup, dan Wells Fargo.
Selain itu, laporan dari perusahaan besar lain seperti Netflix, Johnson & Johnson, dan PepsiCo juga akan menjadi sorotan.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Naik Senin (24/11): Pasar Yakin The Fed Potong Bunga di Desember
Secara umum, ekspektasi pasar masih cukup tinggi. Laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh sekitar 14% pada kuartal pertama dibanding periode yang sama tahun lalu.
Jika tercapai, ini akan menjadi kuartal keenam berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit—rekor terpanjang sejak 2011.
Optimisme tersebut sejauh ini tetap terjaga, meski konflik antara Amerika Serikat dan Iran sempat mengguncang pasar.
Bahkan, indeks S&P 500 sudah hampir sepenuhnya pulih dari tekanan sejak aksi militer dimulai pada akhir Februari, dengan posisi saat ini hanya turun kurang dari 1%.
Namun, pelaku pasar mulai mengingatkan adanya “ujian berat” pada musim laporan kali ini. Ekspektasi yang tinggi membuat ruang kekecewaan semakin terbuka, terutama jika dampak perang mulai terasa pada kinerja fundamental perusahaan.
Baca Juga: Bursa Wall Street Jatuh Setelah Donald Trump Akan Serang Iran Lebih Agresif
“Pasar masih kuat karena estimasi laba terus naik. Tapi kalau mulai terlihat dampak negatif ke fundamental, situasinya bisa berubah cepat,” ujar Nick Giorgi, kepala strategi ekuitas Alpine Macro.
Dari sisi sektoral, pertumbuhan laba diperkirakan tidak merata. Sektor teknologi diproyeksikan menjadi motor utama dengan lonjakan laba lebih dari 40%. Sebaliknya, sektor kesehatan justru diperkirakan mencatat penurunan sekitar 10%.
Salah satu faktor kunci yang akan diamati adalah dampak kenaikan harga minyak terhadap biaya operasional perusahaan dan daya beli konsumen.













