Sumber: Al Jazeera | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
“China bukan hanya membeli minyak. Mereka juga mengimpor plastik, bijih besi, bahan kimia, dan merupakan pembeli utama metanol Iran. Bahkan ada laporan bahwa China mempertimbangkan untuk meningkatkan pembelian minyak Iran seiring gejolak yang terjadi di Venezuela,” ujar Yu.
Tarif baru ini, menurut koresponden Al Jazeera, akan “sangat memukul produsen China” karena akan diterapkan di atas tarif 35% yang sudah lebih dulu dikenakan AS terhadap barang-barang China.
Ancaman tarif tersebut muncul hanya beberapa bulan setelah AS dan China mengumumkan gencatan senjata dagang, yang menurunkan tarif AS atas produk China dari lebih dari 100% menjadi 35%, usai pertemuan Presiden Xi Jinping dan Trump pada Oktober lalu di sela-sela KTT APEC di Korea Selatan.
Koresponden Al Jazeera menilai ancaman tarif baru ini tidak hanya berpotensi merusak stabilitas hubungan Beijing–Washington, tetapi juga bisa mengganggu rencana kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang.
Kedutaan Besar China di Washington mengecam kebijakan Trump dan memperingatkan bahwa Beijing akan mengambil “segala langkah yang diperlukan” untuk melindungi kepentingannya. China juga menolak apa yang disebutnya sebagai “sanksi sepihak ilegal dan penerapan yurisdiksi ekstra-teritorial”.
“Sikap China terhadap penggunaan tarif secara sewenang-wenang sudah jelas dan konsisten. Tidak ada pihak yang menang dalam perang tarif atau perang dagang, dan tekanan serta paksaan bukanlah solusi,” ujar juru bicara kedutaan China melalui platform X.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning juga menegaskan, “Tidak ada pemenang dalam perang dagang.”
Tonton: Jadi Korban Timothy Ronald, Younger Ungkap Kronologi Investasi Hingga Rugi Rp 3 Miliar
“China akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah,” kata Mao kepada wartawan pada Selasa.
Ia juga menekankan bahwa China menginginkan perdamaian di Timur Tengah, mendukung Iran untuk “menjaga stabilitas nasional”, serta menentang campur tangan urusan dalam negeri negara lain maupun penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.
Turki
Berdasarkan data UN Comtrade 2024, Turki merupakan mitra dagang terbesar kedua Iran, dengan nilai perdagangan sekitar US$ 5,7 miliar.
Saat ini, Turki menghadapi tarif dasar dari AS sebesar 15%. Sejak Juni, AS juga menggandakan tarif baja dan aluminium dari sebagian besar mitra dagangnya, termasuk Turki, dari 25% menjadi 50%.
Pakistan
Pakistan menjadi salah satu tujuan utama ekspor Iran, dengan nilai total ekspor sekitar US$ 1,2 miliar pada 2024.
Produk Pakistan yang masuk ke AS saat ini dikenakan tarif sebesar 19%.
India
India juga merupakan tujuan ekspor utama Iran, dengan nilai ekspor sedikit di atas US$ 1,05 miliar pada 2024.
India menghadapi bea masuk AS sebesar 50% untuk produk baja dan aluminium. Sejumlah produk India lainnya juga dikenakan tarif 50% oleh AS.
Pekan lalu, sejumlah media melaporkan bahwa pemerintahan Trump berencana mengenakan tarif hingga 500% terhadap India karena tetap membeli minyak Rusia.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
