kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Nasib Mitra Dagang Iran: Siapa Paling Rugi Kena Hantaman Tarif 25% dari Trump?


Kamis, 15 Januari 2026 / 08:16 WIB
Nasib Mitra Dagang Iran: Siapa Paling Rugi Kena Hantaman Tarif 25% dari Trump?
ILUSTRASI. Turki, India, dan Pakistan masuk daftar merah tarif 25% AS. Hitung mundur sanksi dagang ini dimulai, lihat negara mana yang paling terpukul. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Al Jazeera | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan mengenakan tarif sebesar 25% terhadap negara mana pun yang tetap melakukan bisnis dengan Iran. Kebijakan ini semakin meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Iran, yang saat ini menghadapi gelombang protes terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Bertahun-tahun sanksi Barat telah memukul perekonomian Iran, hingga mengalami inflasi tinggi, pengangguran, serta anjloknya nilai mata uang rial. Gelombang protes yang sedang berlangsung dipicu oleh tekanan ekonomi yang kian berat, yang sulit diatasi pemerintah Iran, sebagian besar karena isolasi ekonomi internasional.

Mengutip Al Jazeera, sumber pendapatan utama Iran berasal dari ekspor ke China, Turki, Irak, Uni Emirat Arab, dan India.

Lalu, bagaimana ancaman Trump yang disampaikan pada Senin lalu akan memengaruhi perdagangan internasional Iran? Dan bagaimana sikap negara-negara seperti China, yang menyerap sekitar 80% ekspor minyak Iran?

Apa yang disampaikan Trump?

“Mulai berlaku segera, negara mana pun yang melakukan bisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif sebesar 25% atas seluruh kegiatan bisnisnya dengan Amerika Serikat,” tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.

“Perintah ini bersifat final dan mengikat,” lanjut Trump tanpa memberikan rincian tambahan.

Hingga kini, tidak ada dokumen resmi terkait kebijakan tersebut yang dipublikasikan di situs Gedung Putih, termasuk dasar hukum yang akan digunakan Trump untuk memberlakukan tarif itu.

Baca Juga: Bursa Australia Reli, Ditopang Saham Pertambangan yang Melonjak ke Rekor Tertinggi

Trump terus meningkatkan tekanan terhadap para pemimpin Iran, termasuk dengan ancaman penggunaan kekuatan militer.

Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Iran siap berperang jika Washington ingin “menguji” negaranya. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Arabic pada Senin.

“Jika Washington ingin menguji opsi militer, yang sebenarnya sudah pernah mereka coba, kami siap menghadapinya,” ujar Araghchi. 

Dia menambahkan bahwa dirinya berharap AS memilih “opsi yang bijak”, yakni dialog, sembari memperingatkan adanya pihak-pihak yang berusaha menyeret Washington ke perang demi kepentingan Israel.

Siapa mitra dagang utama Iran dan seberapa besar volumenya?

China

China merupakan mitra dagang terbesar Iran. Menurut data UN Comtrade, nilai perdagangan bilateral kedua negara pada 2024 melampaui US$ 13 miliar.

Namun, akibat sanksi internasional, sebagian besar transaksi berlangsung melalui “armada bayangan” dan tidak tercatat secara resmi. Data Bank Dunia tahun 2022 bahkan memperkirakan nilai perdagangan China–Iran mencapai US$ 37 miliar.

Tahun lalu, China mengimpor sekitar 80% minyak Iran, memberikan aliran pendapatan vital bagi Teheran, terutama setelah pembeli besar lain seperti India memangkas impor minyak Iran secara drastis sejak sanksi AS diberlakukan pada masa jabatan pertama Trump.

Koresponden Al Jazeera Katrina Yu melaporkan dari Beijing bahwa China telah menjadi mitra dagang terbesar Iran sejak 2016. Hubungan dagang ini disebutnya sebagai “urat nadi ekonomi” bagi Iran.

Baca Juga: Rekor Surplus US$ 1,189 Triliun: Siapa yang Paling Dirugikan China?

“China bukan hanya membeli minyak. Mereka juga mengimpor plastik, bijih besi, bahan kimia, dan merupakan pembeli utama metanol Iran. Bahkan ada laporan bahwa China mempertimbangkan untuk meningkatkan pembelian minyak Iran seiring gejolak yang terjadi di Venezuela,” ujar Yu.

Tarif baru ini, menurut koresponden Al Jazeera, akan “sangat memukul produsen China” karena akan diterapkan di atas tarif 35% yang sudah lebih dulu dikenakan AS terhadap barang-barang China.

Ancaman tarif tersebut muncul hanya beberapa bulan setelah AS dan China mengumumkan gencatan senjata dagang, yang menurunkan tarif AS atas produk China dari lebih dari 100% menjadi 35%, usai pertemuan Presiden Xi Jinping dan Trump pada Oktober lalu di sela-sela KTT APEC di Korea Selatan.

Koresponden Al Jazeera menilai ancaman tarif baru ini tidak hanya berpotensi merusak stabilitas hubungan Beijing–Washington, tetapi juga bisa mengganggu rencana kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang.

Kedutaan Besar China di Washington mengecam kebijakan Trump dan memperingatkan bahwa Beijing akan mengambil “segala langkah yang diperlukan” untuk melindungi kepentingannya. China juga menolak apa yang disebutnya sebagai “sanksi sepihak ilegal dan penerapan yurisdiksi ekstra-teritorial”.

“Sikap China terhadap penggunaan tarif secara sewenang-wenang sudah jelas dan konsisten. Tidak ada pihak yang menang dalam perang tarif atau perang dagang, dan tekanan serta paksaan bukanlah solusi,” ujar juru bicara kedutaan China melalui platform X.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning juga menegaskan, “Tidak ada pemenang dalam perang dagang.”

Tonton: Jadi Korban Timothy Ronald, Younger Ungkap Kronologi Investasi Hingga Rugi Rp 3 Miliar

“China akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah,” kata Mao kepada wartawan pada Selasa.

Ia juga menekankan bahwa China menginginkan perdamaian di Timur Tengah, mendukung Iran untuk “menjaga stabilitas nasional”, serta menentang campur tangan urusan dalam negeri negara lain maupun penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.

Turki

Berdasarkan data UN Comtrade 2024, Turki merupakan mitra dagang terbesar kedua Iran, dengan nilai perdagangan sekitar US$ 5,7 miliar.

Saat ini, Turki menghadapi tarif dasar dari AS sebesar 15%. Sejak Juni, AS juga menggandakan tarif baja dan aluminium dari sebagian besar mitra dagangnya, termasuk Turki, dari 25% menjadi 50%.

Pakistan

Pakistan menjadi salah satu tujuan utama ekspor Iran, dengan nilai total ekspor sekitar US$ 1,2 miliar pada 2024.

Produk Pakistan yang masuk ke AS saat ini dikenakan tarif sebesar 19%.

India

India juga merupakan tujuan ekspor utama Iran, dengan nilai ekspor sedikit di atas US$ 1,05 miliar pada 2024.

India menghadapi bea masuk AS sebesar 50% untuk produk baja dan aluminium. Sejumlah produk India lainnya juga dikenakan tarif 50% oleh AS.

Pekan lalu, sejumlah media melaporkan bahwa pemerintahan Trump berencana mengenakan tarif hingga 500% terhadap India karena tetap membeli minyak Rusia.

Selanjutnya: Hujan Petir Mengancam Dua Wilayah Jabar Hari Ini (15 Januari 2026)

Menarik Dibaca: Masih Lanjut Melonjak, Simak Harga Emas Galeri 24 & UBS di Pegadaian Hari Ini (15/1)




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×