kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Nasib Yen, BOJ Terjepit Inflasi dan Tekanan Politik Takaichi


Minggu, 18 Januari 2026 / 19:15 WIB
Nasib Yen, BOJ Terjepit Inflasi dan Tekanan Politik Takaichi
ILUSTRASI. JAPAN-ECONOMY/BOJ (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Nilai tukar yen Jepang kembali berada di bawah sorotan menjelang rapat Bank of Japan (BOJ) akhir pekan ini. Kombinasi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga dan memanasnya situasi politik membuat pasar bersiap menghadapi potensi gejolak baru di pasar mata uang global.

Sebanyak 52 ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan BOJ akan menahan suku bunga acuannya pada level 0,75% dalam rapat Jumat (23/1). Level ini merupakan yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir, setelah BOJ menaikkan suku bunga bulan lalu. Namun, langkah tersebut belum cukup ampuh menahan tekanan pelemahan yen, meski selisih suku bunga dengan Amerika Serikat sudah sedikit menyempit.

Kondisi ini membuat pernyataan Gubernur BOJ Kazuo Ueda menjadi sangat krusial. Pasar menunggu sinyal lanjutan, apakah bank sentral Jepang akan tetap agresif menaikkan suku bunga, atau justru kembali berhati-hati. Jika komunikasi Ueda dinilai terlalu lunak, bukan tidak mungkin yen kembali menjadi sasaran aksi jual.

Masalahnya, tekanan inflasi Jepang belum juga mereda. Data terbaru diperkirakan akan menunjukkan bahwa inflasi telah berada di atas target 2% selama empat tahun berturut-turut. Ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga sudah semakin mengakar di perekonomian Jepang.

Di sisi lain, pelemahan yen yang berkepanjangan sebagian besar dipicu oleh suku bunga riil yang masih negatif berisiko mempercepat laju inflasi. Jika dibiarkan, BOJ bisa semakin tertinggal dalam mengendalikan tekanan harga.

Tak heran, hampir 60% ekonom yang disurvei menilai BOJ sebenarnya sudah terlambat dalam menormalisasi kebijakan moneternya. Pandangan serupa juga datang dari Amerika Serikat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan kembali menekankan pentingnya perumusan dan komunikasi kebijakan moneter yang solid  dari Jepang, usai membahas volatilitas nilai tukar dengan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama.

Mayoritas pengamat memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sekitar setiap enam bulan sekali, yang berarti langkah berikutnya berpotensi terjadi pada Juni atau Juli. Namun, sekitar tiga perempat responden menilai pelemahan yen bisa menjadi faktor yang memaksa BOJ bergerak lebih cepat.

Sinyal itu disebut-sebut mulai menguat di internal BOJ. Meski belum ada jalur kebijakan yang baku, pelemahan yen yang semakin dalam dan memicu inflasi bisa mendorong bank sentral untuk mempercepat pengetatan moneter.

Baca Juga: Inflasi Inti Jepang Terus Mendekati Target 2%, BOJ Siap Menaikkan Suku Bunga

“Kami melihat kenaikan suku bunga berikutnya kemungkinan terjadi pada Juli,” Taro Kimura, Ekonom Senior Bloomberg Economics. Dengan Perdana Menteri Takaichi yang tampaknya siap mengumumkan pemilu dadakan, Gubernur Ueda kemungkinan akan bermain aman dan tetap berpegang pada panduan kebijakan terbaru agar tidak memancing kegaduhan pasar.

Ia menambahkan, Ueda kemungkinan akan menghindari pernyataan spesifik soal nilai tukar, dengan menegaskan bahwa kebijakan kurs merupakan kewenangan pemerintah, bukan bank sentral.

Faktor politik memang menjadi variabel baru yang mengganggu stabilitas yen. Munculnya Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang dikenal kritis terhadap kebijakan kenaikan suku bunga BOJ, dinilai ikut menekan yen. Rencana pemilu dadakan paling cepat bulan depan membuat pasar berspekulasi bahwa jika Takaichi menang, ruang belanja fiskal akan melebar dan proses normalisasi kebijakan moneter bisa melambat.

Bagi Kazuo Ueda, situasi ini jelas bukan kabar baik. Pemilu dini menjadi gangguan tambahan yang membuatnya harus ekstra hati-hati menyusun pernyataan pasca-rapat BOJ. Salah langkah sedikit saja, pasar bisa bereaksi berlebihan, dan yen kembali terperosok lebih dalam.

Dengan tekanan inflasi, pelemahan mata uang, dan risiko politik yang menumpuk, arah kebijakan moneter Jepang kini semakin menjadi perhatian pelaku pasar global.

Baca Juga: Pasar Kecewa Sikap BOJ, Yen Melemah ke Level Terendah dalam 17 Bulan

Selanjutnya: WEF Ungkap 5 Risiko Utama Indonesia 2026–2028, Pengangguran di Urutan Pertama

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×