Sumber: Al Jazeera | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nicolas Maduro, presiden Venezuela yang telah berkuasa lebih dari satu dekade dengan cengkeraman kuat, secara mengejutkan dilengserkan dari kekuasaan pada Sabtu, 3 Januari.
Dalam sebuah operasi dramatis, pasukan Amerika Serikat menculik Maduro dan istrinya, Ibu Negara Cilia Flores, lalu membawa keduanya keluar dari Venezuela.
Maduro dan Flores disebut akan diadili di pengadilan Amerika Serikat atas tuduhan terkait narkotika dan perdagangan senjata. Peristiwa ini menandai akhir kekuasaan Maduro yang panjang dan kontroversial, serta menjadi eskalasi terbesar dalam hubungan tegang antara Washington dan Caracas.
Lantas, siapa sebenarnya Nicolas Maduro? Bagaimana perjalanan hidup dan politiknya hingga mencapai puncak kekuasaan di Venezuela, dan mengapa ia akhirnya menjadi target langsung Amerika Serikat?
Latar Belakang dan Kehidupan Awal Nicolas Maduro
Nicolas Maduro Moros lahir pada 23 November 1962 di kawasan El Valle, Caracas, dari keluarga kelas pekerja. Ayahnya, Nicolas Maduro Garcia, adalah seorang pemimpin serikat buruh, sementara ibunya, Teresa de Jesus Moros, membesarkan Maduro bersama tiga saudara perempuannya: Maria Teresa, Josefina, dan Anita.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak, Penangkapan Presiden Maduro oleh AS Picu Permintaan Safe Haven
Maduro tumbuh besar dalam lingkungan yang sarat dengan pengaruh politik, terutama dari aktivitas serikat buruh ayahnya. Ia pernah mengungkapkan bahwa kakek-neneknya memiliki garis keturunan Yahudi Sephardic yang kemudian berpindah keyakinan menjadi Katolik setelah menetap di Venezuela.
Semasa muda, Maduro dikenal sebagai penggemar musik rock Barat dan kerap mengutip lirik John Lennon. Ia menempuh pendidikan di sekolah menengah negeri Liceo Jose Avalos di El Valle dan aktif dalam politik pelajar, bahkan disebut pernah menjabat sebagai ketua organisasi siswa.
Namun, tidak terdapat catatan resmi yang menunjukkan bahwa ia menyelesaikan pendidikan tersebut.
Awal Karier Politik dan Peran dalam Gerakan Buruh
Karier politik Maduro bermula dari dunia perburuhan. Pada awal 1980-an, ia diyakini bergabung dengan Liga Sosialis Venezuela, sebuah partai berhaluan Marxis-Leninis.
Pada 1986, saat berusia 24 tahun, Maduro dikirim ke Kuba sebagai perwakilan partai untuk mengikuti pendidikan politik selama satu tahun di Escuela Nacional de Cuadros Julio Antonio Mella, yang dikelola oleh Persatuan Pemuda Komunis Kuba.
Sekembalinya ke Venezuela, Maduro bekerja sebagai sopir bus di sistem metro Caracas. Dari sana, ia mendirikan dan memimpin Serikat Pekerja Metro Caracas (SITRAMECA) pada 1991. Aktivitasnya di serikat buruh transportasi menjadi pintu masuk utama ke pusat-pusat kekuasaan politik.
Sebuah kabel Kedutaan Besar AS di Caracas tahun 2006 yang dibocorkan WikiLeaks menyebut Maduro sebagai anggota komite nasional Liga Sosialis dan mengungkap klaim bahwa ia pernah menolak kontrak dari pencari bakat Major League Baseball (MLB) Amerika Serikat.
Kedekatan dengan Hugo Chavez dan Jalan Menuju Kekuasaan
Maduro kemudian terinspirasi oleh sosok Hugo Chavez, seorang perwira militer yang memimpin gerakan Bolivarian melawan sistem demokrasi dua partai Venezuela, dikenal sebagai “Puntofijismo”.
Pada awal 1990-an, Maduro bergabung dengan MBR-200, sayap sipil gerakan Chavez, dan aktif berkampanye untuk pembebasan Chavez setelah upaya kudeta yang gagal pada 1992.
Baca Juga: Tokoh Pro-Bitcoin Maria Corina Machado Masuk Bursa Pengganti Maduro di Venezuela
Di masa inilah Maduro bertemu Cilia Flores, yang kala itu memimpin tim hukum yang berhasil membebaskan Chavez pada 1994.
Setelah Chavez mendapat amnesti, Maduro bergabung dengan Gerakan Republik Kelima pada 1997 dan terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante dalam Pemilu 1998, bersamaan dengan terpilihnya Chavez sebagai presiden.
Maduro menjadi figur dekat Chavez dalam perumusan konstitusi baru pada 1999. Kariernya terus menanjak hingga diangkat menjadi Menteri Luar Negeri, dan pada Oktober 2012 ditunjuk sebagai Wakil Presiden Venezuela saat kesehatan Chavez memburuk akibat kanker.
Konsolidasi Kekuasaan di Caracas
Pada Desember 2012, Chavez secara terbuka menunjuk Maduro sebagai penerus politiknya sebelum berangkat ke Kuba untuk perawatan medis. Setelah Chavez wafat, Maduro memenangkan pemilu presiden April 2013 dengan selisih suara tipis.
Sejak awal masa jabatannya, Maduro mengambil sikap konfrontatif terhadap Amerika Serikat dengan mengusir diplomat AS dan menuduh Washington sebagai musuh historis Venezuela. Ia juga menuding oposisi domestik sebagai kelompok “fasis” yang ingin memecah belah negara.
Cilia Flores kemudian menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai jaksa agung dan pimpinan parlemen. Maduro mewarisi kendali kuat atas militer, Mahkamah Agung, dan media negara—institusi yang sebelumnya telah dibentuk ulang oleh Chavez.
Namun, tidak seperti pendahulunya, Maduro dinilai kurang memiliki karisma. Pemerintahannya dihadapkan pada krisis ekonomi parah, hiperinflasi, serta gelombang protes besar yang dipimpin tokoh oposisi seperti Maria Corina Machado, peraih Nobel Perdamaian 2025.
Penindakan keras aparat keamanan menewaskan sedikitnya 43 demonstran.
Pada 2017, Maduro membentuk Majelis Konstituante pro-pemerintah untuk melumpuhkan parlemen yang dikuasai oposisi. Protes kembali pecah dan lebih dari 100 orang dilaporkan tewas. Di tengah krisis, ekonomi Venezuela runtuh, pasokan kebutuhan pokok langka, dan produksi minyak anjlok drastis.
Baca Juga: China Kecam Penangkapan Maduro, Tolak Negara Bertindak sebagai Hakim Dunia
Maduro kembali dinyatakan menang dalam pemilu 2018 tanpa pesaing kuat. Namun, 45 negara, termasuk Amerika Serikat, menolak mengakui hasil tersebut. Sejumlah tokoh oposisi dipenjara atau diasingkan.
Pemilu 2024 kembali dimenangkan Maduro dalam proses yang dinilai tidak transparan, memicu demonstrasi massal dan penindakan brutal.
Alasan Amerika Serikat Menyingkirkan Maduro
Ketegangan memuncak setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS untuk masa jabatan kedua pada Januari tahun lalu.
Pemerintahan Trump meningkatkan tekanan dengan memberlakukan tarif 25 persen terhadap Venezuela, menggandakan hadiah bagi penangkapan Maduro, serta menjatuhkan sanksi kepada anggota keluarganya.
Sejak September, pasukan AS juga melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di lepas pantai Venezuela yang dituduh terlibat dalam aktivitas “narko-terorisme”.
Puncaknya terjadi pada Sabtu, 3 Januari, ketika pasukan khusus Amerika Serikat menculik Nicolas Maduro dan Cilia Flores, membawa keduanya ke AS untuk menghadapi persidangan atas dakwaan narkoba dan senjata.
Peristiwa ini menutup babak panjang kekuasaan Maduro dan membuka fase baru yang penuh ketidakpastian bagi masa depan Venezuela.













