Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat mengklaim telah melancarkan serangan besar terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu waktu setempat.
Langkah ini menandai eskalasi dramatis ketegangan geopolitik global, setelah Washington selama berbulan-bulan menuduh Maduro terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba serta memerintah secara tidak sah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi tersebut berhasil dan Maduro, bersama istrinya, telah ditangkap serta diterbangkan keluar dari Venezuela. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Trump melalui akun Truth Social miliknya.
“Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut,” tulis Trump.
Baca Juga: Penangkapan Nicolas Maduro oleh AS Picu Ketidakpastian Kekuasaan Venezuela
Jika klaim ini dikonfirmasi, maka ini akan menjadi intervensi langsung Amerika Serikat yang paling signifikan di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 untuk menggulingkan pemimpin militer Manuel Noriega, yang kala itu juga dituduh terlibat perdagangan narkoba.
Dalam konferensi pers di klub Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih pengelolaan Venezuela bersama sebuah kelompok, dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio ditugaskan untuk mengatur detail teknis dan kebijakan lanjutan.
Di saat yang sama, Trump juga kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran. Ia mengancam akan membantu para pengunjuk rasa di negara tersebut apabila aparat keamanan Iran menembaki warga sipil.
Ancaman itu muncul di tengah gelombang kerusuhan di Iran yang telah menewaskan sejumlah orang dan disebut-sebut sebagai tantangan internal terbesar bagi otoritas Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, perhatian pasar global juga tertuju pada pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu. Kelompok eksportir minyak tersebut mencakup Venezuela dan Rusia, dan akan membahas kebijakan produksi minyak mentah di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Reaksi Ekonom dan Investor Global
Pelaku pasar keuangan dan analis ekonomi memberikan beragam pandangan terkait dampak peristiwa ini terhadap pasar global, khususnya sektor energi.
Jamie Cox, Managing Partner Harris Financial Group di Richmond, Virginia, menilai reaksi pasar secara keseluruhan kemungkinan masih terbatas. Namun, ia melihat potensi pergerakan signifikan dari sektor energi.
Baca Juga: Trump Klaim AS Ambil Alih Sementara Venezuela Usai Penangkapan Nicolas Maduro
“Reaksi pasar secara umum akan relatif tenang. Pergerakan besar mungkin baru muncul setelah pertemuan OPEC. Saham perusahaan minyak besar dan pengeboran berpeluang menguat, seiring spekulasi mengenai manfaat potensial dari pembangunan kembali industri minyak Venezuela,” ujarnya.
Helima Croft, Head of Global Commodity Strategy and MENA Research RBC Capital Markets di New York, mengingatkan bahwa upaya membangkitkan kembali sektor energi Venezuela bukanlah perkara mudah.
“Ini merupakan pekerjaan yang sangat besar, mengingat penurunan sektor minyak selama puluhan tahun. Selain itu, rekam jejak Amerika Serikat dalam perubahan rezim dan pembangunan negara tidak selalu berakhir dengan keberhasilan yang jelas,” katanya.
Brian Jacobsen, Chief Economic Strategist Annex Wealth Management di Brookfield, Wisconsin, menyebut langkah ini sebenarnya hanya soal waktu.
“Ini bukan soal apakah akan terjadi, melainkan kapan. Dari perspektif investasi, ini berpotensi membuka cadangan minyak dalam jumlah besar dalam jangka panjang. Ini juga bisa menjadi peringatan bagi kepemimpinan Iran, bahkan Rusia, tentang kesediaan dan kemampuan presiden untuk menciptakan perubahan,” jelas Jacobsen.
Ia menambahkan bahwa pasar biasanya beralih ke mode menghindari risiko saat konflik diperkirakan terjadi, tetapi sering kali kembali ke mode berani mengambil risiko setelah konflik benar-benar dimulai.
“Dengan cepatnya peristiwa ini berlangsung, kemungkinan hanya pasar minyak yang bereaksi signifikan. Selama ini sudah banyak proyeksi kelebihan pasokan minyak global, dan ini bisa semakin memperkuat tren tersebut,” tambahnya.
Marchel Alexandrovich, ekonom Saltmarsh Economics di London, menilai kejadian ini menegaskan bahwa ketegangan geopolitik kembali menjadi faktor utama penggerak pasar.
“Mulai dari sengketa dagang AS, Ukraina, Iran, Taiwan, hingga kini Venezuela, pasar harus menghadapi risiko geopolitik yang jauh lebih besar dibandingkan era pemerintahan AS sebelumnya,” ujarnya.
Baca Juga: Dewan Keamanan PBB Gelar Rapat Darurat Usai AS Serang Venezuela
Sementara itu, Tina Fordham, pendiri sekaligus ahli strategi geopolitik Fordham Global Foresight di London, melihat adanya euforia awal yang kemungkinan muncul di pasar, meski realitas transisi politik sering kali tidak mulus.
“Akan ada rasa seperti ‘bonanza’ atau peluang besar, meskipun sejarah transisi pasca-otoritarian cenderung berliku dan tidak linear. Ada optimisme besar terhadap Venezuela pasca-Maduro dan pasca-Chavez, tetapi kenyataannya kemungkinan akan jauh lebih rumit,” jelasnya.
Menurut Fordham, pembukaan pasar pasca konflik di Venezuela dan potensi perubahan di Iran bisa memicu “animal spirits” investor pada pembukaan pasar awal pekan.
“Ini adalah dua negara produsen energi sekaligus pasar konsumen yang selama ini tertutup bagi investor internasional, dan berpotensi mulai terbuka,” pungkasnya.
Perkembangan ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan utama pasar keuangan global, mengingat implikasinya terhadap stabilitas geopolitik, harga energi, serta arah investasi internasional dalam beberapa waktu ke depan.













