kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,67   6,06   0.79%
  • EMAS888.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.17%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.12%

Pakar: Skenario terburuk India, 2 dari 10 warga terfeksi virus corona


Selasa, 24 Maret 2020 / 05:43 WIB
Pakar: Skenario terburuk India, 2 dari 10 warga terfeksi virus corona
ILUSTRASI. Warga mengenakan masker di India. REUTERS/Danish Siddiqui

Sumber: South China Morning Post | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Seorang pakar kesehatan masyarakat terkemuka AS sebelumnya memperingatkan bahwa skenario virus corona terburuk India dapat melihat 60% dari 1,35 miliar penduduknya, atau 800 juta orang, akan terinfeksi corona. Namun, dia telah merevisi angka ini menjadi angka yang lebih rendah mengingat langkah-langkah seperti penguncian di beberapa negara bagian sudah dilakukan.

Melansir South China Morning Post, Dr Ramanan Laxminarayan, direktur Pusat Dinamika Penyakit, Ekonomi dan Kebijakan AS, mengatakan ia telah merevisi angka skenario terburuknya menjadi angka infeksi 20% atau 300 juta pasien. Ini dapat diartikan juga dua dari sepuluh warga India terinfeksi corona. Dia mempertahankan sebagian besar infeksi ini akan menjadi "sangat ringan".

“Pemodelan ini didasarkan pada bagaimana penularan virus di India. Jika sama menularnya seperti di Italia dan Iran, kami melihat angka 60%. Jika sama menularnya seperti di beberapa negara lain, kami melihat 20%," demikian peringatan Laxminarayan, seraya menambahkan India tidak berbeda posisi dengan AS atau Inggris, di mana proyeksi suram serupa telah dibuat.

Baca Juga: Kini, pengguna WhatsApp bisa kirim pesan langsung ke WHO untuk informasi virus corona

Akan tetapi, untuk India -di mana orang tinggal di kota-kota penuh sesak dan bepergian dengan transportasi umum yang sangat padat dengan sedikit atau tanpa pemahaman tentang jarak sosial- bisa memiliki 300 juta orang sakit, dengan enam hingga delapan juta yang membutuhkan perawatan medis intensif. Hal itu diprediksi bakal membebani sistem layanan kesehatannya.

Data yang dihimpun SCMP menunjukkan, hingga Minggu (22/3/2020), India memiliki 359 kasus yang dikonfirmasi dan tujuh kematian, dan pada hari Senin dikonfirmasi kasus naik menjadi 415. 

Tetapi para ahli kesehatan di luar pemerintah dengan suara bulat setuju bahwa jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi karena kurangnya pengujian luas. Pihak berwenang mengatakan ini diperlukan untuk mencegah kepanikan massal.

Baca Juga: India putuskan lockdown lebih dari 75 kotanya, seperti apa kebijakannya?

Pada hari Senin, jutaan orang sudah dikunci di sekitar 80 distrik tempat ditemukannya kasus Covid-19 yang dikonfirmasi.

Ini termasuk semua kota besar seperti Delhi, Mumbai, Bangalore, Hyderabad, dan Chennai. Di sana, hanya layanan penting seperti apotek dan toko kelontong yang diizinkan beroperasi. Jaringan kereta api, jalur kehidupan komuter India yang membawa sekitar 9 miliar penumpang setiap tahun, menangguhkan semua kereta penumpangnya hingga akhir Maret.

Kebijakan itu menyusul diberlakukannya kebijakan jam malam satu hari pada hari Minggu, yang disebut sebagai "Jam malam Janata" oleh Perdana Menteri Narendra Modi untuk melambangkan tindakan yang dipaksakan sendiri, yang dianggap sebagai percobaan untuk penguncian yang lebih luas.



TERBARU

[X]
×