kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45769,82   10,44   1.37%
  • EMAS915.000 -0,44%
  • RD.SAHAM -0.01%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.03%

Penasihat Beijing: China sudah melakukan berbagai cara, kini semua terserah Trump


Selasa, 03 September 2019 / 11:59 WIB
Penasihat Beijing: China sudah melakukan berbagai cara, kini semua terserah Trump
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump

Sumber: CNBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Melansir CNBC, penasihat pemerintah Beijing Wang Huiyao, mengatakan, saat ini terserah pada Presiden AS Donald Trump apakah ingin mengakhiri perang dagang dan mencapai kata sepakat dengan China atau sebaliknya.

Menurut Wang, China sudah melakukan seluruh upaya -termasuk mengeluarkan undang-undang baru tentang investasi asing pada Maret- untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang telah dikeluhkan oleh komunitas pebisnis asing.

Pendiri sekaligus presiden Center for China and Globalization ini juga menguraikan kepada CNBC, undang-undang terbaru ini memaksa dilakukannya transfer teknologi dari pebisnis asing di China dan merupakan langkah untuk melindungi properti intelektual.  

Baca Juga: Bea masuk tambahan ke AS diimplementasikan, China mengadu ke WTO

Dia mengatakan, undang-undang itu akan memberikan posisi yang sama bagi perusahaan luar negeri dengan perusahaan domestik. Ini merupakan solusi dari hal yang menjadi perhatian pemerintah AS.

"Tidak realistis untuk mengubah seluruh hukum di China. Tidak ada satu pun negara yang bisa melakukan itu. Namun, kita bisa mengeluarkan undang-undang baru. Jadi, saya rasa ada hal yang bisa digarap di sini, yang merupakan solusi dari hal yang menjadi perhatian pemerintah AS," paparnya seperti dikutip dari CNBC.

Namun, sejumlah analis mengatakan, undang-undang baru itu (yang akan berlaku efektif pada Januari tahun depan) tidak akan berdampak banyak dan belum cukup untuk memuaskan Washington.

Baca Juga: Sembilan sinyal resesi Amerika ini kembali menyala merah

Selang dua bulan setelah mengeluarkan undang-undang tersebut, Trump menyalahkan China karena melanggar sejumlah komitmen yang disepakati dalam negosiasi sebelumnya.

Trump bilang, "Beijing melanggar kesepakatan." Hingga akhirnya, Washington kembali menaikkan tarif atas barang-barang China.

Sejak saat itu, perang dagang kembali memanas. Kedua belah pihak saling berbalas dengan menaikkan pajak. Kondisi ini mendorong sejumlah pengamat untuk menurunkan ekspektasi mereka bahwa kedua negara besar dunia ini akan mencapai kata sepakat sebelum pemilihan umum AS 2020.

Baca Juga: Pasar saham global dibayangi perang dagang dan krisis Argentina

Wang mengatakan, ada kejanggalan dengan cara Trump menaikkan lagi dan lagi pajak terhadap barang-barang China. "Namun Beijing masih membuka pintu perundingan. Jadi terserah AS untuk terus lanjut dan lebih fleksibel dan tidak mengambil langkah keras atas masalah ini," jelas Wang.

Sejumlah pengamat mengatakan, isu yang diangkat AS mengenai praktek bisnis China memang ada benarnya. Kendati demikian, cara pemerintahan Trump dalam mengatasi masalah tersebut -seperti mengkritik di area publik dan menyudutkan China- tidak akan efektif.



TERBARU

[X]
×