kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Peneliti Israel sebut virus corona varian Afrika Selatan bisa menembus vaksin Pfizer


Senin, 12 April 2021 / 11:14 WIB
Peneliti Israel sebut virus corona varian Afrika Selatan bisa menembus vaksin Pfizer
ILUSTRASI. Suntikan vaksin Covid-19 produksi Pfizer/BioNTech.


Sumber: South China Morning Post | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - TEL AVIV. Sebuah penelitian terbaru di Israel menemukan bahwa virus corona varian Afrika Selatan mampu menerobos pertahanan yang dibangun vaksin Pfizer.

Varian virus korona yang ditemukan di Afrika Selatan dapat menerobos vaksin Pfizer sampai batas tertentu, meskipun prevalensinya di negara itu rendah dan penelitian tersebut belum ditinjau lebih lanjut.

Penelitian yang dirilis pada hari Sabtu (10/4) tersebut membandingkan hampir 400 orang yang dites positif Covid-19 dan telah menerima satu atau dua dosis vaksin setelah 14 hari, dengan 400 orang lainnya yang belum menerima vaksin.

Menurut penelitian oleh Universitas Tel Aviv dan penyedia perawatan kesehatan terbesar Israel, Clalit, varian Afrika Selatan alias B. 1.351 ditemukan sekitar 1 persen dari semua kasus Covid-19 di semua orang yang diteliti.

Baca Juga: Varian virus Covid-19 mutan ganda ditemukan di California, ilmuwan cemas

Tetapi di antara pasien yang telah menerima dua dosis vaksin, tingkat prevalensi varian itu delapan kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak divaksinasi, 5,4% berbanding 0,7% seperti dikutip South China Morning Post.

Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menyimpulkan vaksin itu kurang efektif melawan varian Afrika Selatan, dibandingkan dengan virus corona asli dan  varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris.

"Kami menemukan tingkat yang lebih tinggi dari varian Afrika Selatan di antara orang yang divaksinasi dengan sosis kedua, dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksin. Artinya, varian Afrika Selatan mampu, sampai batas tertentu, menembus perlindungan vaksin," ungkap Adi Stern dari Universitas Tel Aviv, seperti dikutip South China Morning Post.

Meskipun demikian, para peneliti memperingatkan bahwa studi terbaru mereka ini memiliki jumlah sample yang relatif kecil dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Jumlah kasus dengan varian Afrika Selatan juga cukup langka di Israel.

Baca Juga: China berencana mencampurkan vaksin Covid-19 demi tingkatkan kemanjuran

Lebih lanjut, mereka mengingatkan bahwa penelitian ini tidak bertujuan untuk mengukur tingkat keefektifan vaksin secara keseluruhan terhadap varian apa pun.

Pfizer sempat khawatir dengan varian Afrika Selatan

Pfizer dan mitranya, BioNTech, belum mengeluarkan pernyataan apa pun terkait penelitian dari Israel tersebut, Namun beberapa waktu lalu mereka meyakinkan publik bahwa vaksin mereka ampuh untuk melawan segala varian virus corona.

Pada 1 April lalu, perusahaan tersebut mengatakan bahwa vaksin mereka sekitar 91% efektif untuk mencegah Covid-19, mengutip data uji coba terbaru yang menyertakan peserta yang diinokulasi hingga enam bulan.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa vaksin Pfizer kurang kuat terhadap varian Afrika Selatan dibandingkan varian lain dari virus corona, tetapi masih menawarkan pertahanan yang kuat.

Di sisi lain, tim peneliti Pfizer kini mulai khawatir apakah vaksin mereka akan efektif melawan mutasi. Uji coba terbaru menunjukkan tingkat perlindungannya turun hingga dua pertiga dari sebelumnya.

Baca Juga: Pfizer dan BioNTech mulai uji coba vaksin Covid-19 ke anak di bawah 12 tahun

Dalam penelitian yang dilakukan bulan Februari lalu, Pfizer mengembangkan virus rekayasa yang mengandung mutasi yang sama dengan jenis yang beredar di Afrika Selatan.

Virus rekayasa tersebut kemudian diuji terhadap darah yang diambil dari orang yang telah diberi vaksin. Hasilnya, ada penurunan dua pertiga dalam tingkat antibodi penetral dibandingkan dengan pengaruhnya pada versi virus yang umum beredar di AS.

Meskipun demikian, tim peneliti mengatakan bahwa masih tidak jelas apakah pengurangan dua pertiga itu akan membuat vaksin tidak efektif terhadap varian yang menyebar di seluruh dunia.

Profesor Pei-Yong Shi dari University of Texas Medical Branch (UTMB) yang ikut serta dalam penelitian mengatakan, meskipun varian virus baru secara signifikan mengurangi keefektifan vaksin, vaksin seharusnya tetap mampu melindungi dari gejala yang parah dan kematian.

"Perlu lebih banyak pekerjaan untuk memahami apakah vaksin tersebut bekerja melawan varian Afrika Selatan, termasuk uji klinis dan pengembangan korelasi perlindungan," lanjut Shi, seperti dikutip Reuters.

Selanjutnya: Varian Covid-19 di Afrika Selatan bisa menurunkan kemampuan vaksin Pfizer




TERBARU

[X]
×