kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.085   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.040   1,68   0,03%
  • KOMPAS100 789   0,53   0,07%
  • LQ45 599   -3,49   -0,58%
  • ISSI 210   2,97   1,43%
  • IDX30 339   -1,95   -0,57%
  • IDXHIDIV20 422   -0,99   -0,24%
  • IDX80 90   0,01   0,01%
  • IDXV30 116   1,09   0,96%
  • IDXQ30 109   -0,38   -0,35%

Penjualan Bijih Besi Rio Tinto Melonjak, Harga Diesel Jadi Beban


Rabu, 15 Juli 2026 / 07:48 WIB
Penjualan Bijih Besi Rio Tinto Melonjak, Harga Diesel Jadi Beban
ILUSTRASI. Rio Tinto (REUTERSW/Luc Gnago). Penjualan bijih besi Rio Tinto kuartal II melampaui ekspektasi. Namun, kenaikan biaya bahan bakar akibat konflik global mengancam target produksi.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rio Tinto membukukan penjualan bijih besi yang melampaui ekspektasi pasar pada kuartal II 2026, ditopang kinerja operasional yang solid di tambang Pilbara, Australia.

Meski demikian, perusahaan memperingatkan kenaikan biaya bahan bakar akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran akan menekan biaya operasional hingga akhir tahun, sehingga Rio Tinto masih membutuhkan kinerja yang lebih kuat pada semester II untuk mencapai target produksi tahunan.

Berdasarkan laporan operasional yang dirilis Rabu (15/7/2026), produsen bijih besi terbesar di dunia itu mencatat penjualan bijih besi dari Pilbara sebesar 85,3 juta ton metrik (Mt) pada periode April–Juni 2026.

Baca Juga: Produksi Bijih Besi Vale ke Level Tertinggi 7 Tahun, Salip Operasi Pilbara Rio Tinto

Realisasi tersebut melampaui konsensus Visible Alpha yang memperkirakan penjualan sebesar 83,6 juta ton, sekaligus meningkat dari 79,9 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja tersebut disambut positif pasar. Saham Rio Tinto sempat melonjak hingga 2,8% ke level tertinggi dalam sepekan, mengungguli penguatan indeks saham sektor pertambangan.

Sepanjang semester pertama 2026, penjualan bijih besi Rio Tinto mencapai 157,7 juta ton, naik 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, perusahaan masih harus meningkatkan penjualan pada paruh kedua tahun ini untuk memenuhi target pengiriman bijih besi sepanjang 2026 yang dipatok di kisaran 323 juta ton hingga 338 juta ton.

Rio Tinto menyebut kenaikan harga energi telah mendorong biaya produksi bijih besi secara global, terutama bagi produsen yang sangat bergantung pada bahan bakar diesel.

Baca Juga: Rio Tinto Waspadai Risiko Rantai Pasok Timteng, Penjualan Bijih Besi Kuartal I Naik

Perusahaan mengungkapkan konflik di Timur Tengah telah meningkatkan biaya bahan bakar, yang diperkirakan masih akan membebani kinerja sepanjang tahun. Meski begitu, Rio Tinto mempertahankan proyeksi biaya tunai (unit cash cost) operasi bijih besi Pilbara pada 2026.

Di sisi lain, harga jual rata-rata bijih besi dari operasi Pilbara pada semester pertama naik menjadi US$ 85,2 per wet metric ton (wmt) secara free-on-board (FOB), dibandingkan US$ 83,2 per wmt pada periode yang sama tahun lalu.

Rio Tinto menegaskan hingga saat ini konflik di Timur Tengah belum menimbulkan gangguan berarti terhadap produksi maupun rantai pasok komoditas utamanya.

Namun, perusahaan terus memantau perkembangan di Selat Hormuz dan menyiapkan rencana antisipasi apabila terjadi eskalasi yang dapat mengganggu pasar energi maupun logistik global.

Dari sisi produksi, volume bijih besi pada kuartal II relatif stabil dibandingkan tahun lalu. Namun, jika dibandingkan kuartal pertama 2026, produksinya turun sekitar 7%.

Baca Juga: Aset Boron Rio Tinto di AS Diminati Banyak Peminat, Nilai Bisa Tembus US$ 2 Miliar

Sementara itu, produksi tembaga Rio Tinto pada kuartal II turun 7% menjadi 213.000 ton, sedikit di bawah estimasi analis sebesar 214.700 ton. Penurunan ini dipicu lebih rendahnya produksi di tambang Kennecott di Amerika Serikat serta Escondida di Chile.

Perusahaan memperkirakan gangguan pada tungku peleburan di tambang Kennecott yang terjadi pada akhir Juni akan memengaruhi produksi tembaga dan emas pada semester kedua.

Selain itu, produksi konsentrat di tambang Escondida turun 13% akibat kadar bijih yang lebih rendah.

Meski produksi tembaga melemah, Rio Tinto memangkas proyeksi biaya bersih produksi tembaga (C1 net unit cost) untuk 2026 menjadi 30 sen hingga 50 sen AS per pon, dari proyeksi sebelumnya 65 sen hingga 75 sen AS per pon.

Penurunan proyeksi biaya tersebut didorong oleh harga emas yang lebih tinggi dari perkiraan serta peningkatan produktivitas operasional.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×