kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45950,15   -24,18   -2.48%
  • EMAS989.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Penjualan properti di Singapura melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2018


Selasa, 16 Februari 2021 / 16:41 WIB
Penjualan properti di Singapura melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2018
ILUSTRASI. Penjualan properti di Singapura melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2018


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan rumah di Singapura naik ke level tertinggi dalam waktu lebih dari dua tahun pada Januari 2021. Orang-orang berdesak-desakan melakukan pembelian di tengah spekulasi bahwa pemerintah kemungkinan bakal mengambil langkah meredam kenaikan pasar properti.

Berdasarkan data Urban Redevelopment Authority yang dirilis Senin (15/2), penjualan apartemen baru yang dibangun swasta melonjak menjadi 1.609 bulan lalu dari 1.217 pada bulan Desember 2020. Itu merupakan penjualan terbesar sejak Juli 2018 ketika 1.724 unit terjual.

Pasar properti Singapura telah pulih dengan cepat setelah pandemi mengirim ekonomi ke dalam resesi terburuk, memicu spekulasi bahwa pihak berwenang dapat turun tangan untuk menenangkan sektor tersebut. Para menteri pemerintah bulan lalu memperingatkan bahwa mereka tidak ingin pasar berjalan mendahului fundamental ekonomi.

DBS Group Holdings mengatakan salah satu faktor yang mendorong tingginya permintaan properti adalah suku bunga rendah. Harga rumah telah naik 2,2% tahun lalu di Singapura. Menurut analisis bank ini, kenaikan lebih lanjut lebih dari 5% bisa mendorong terjadinya bubble properti.

Baca Juga: Penjelasan pihak Sukanto Tanoto terkait berita pembelian gedung secara ilegal

Christine Sun, Wakil Presiden Senior Penelitian dan Analitik di konsultan properti OrangeTee & Tie mengatakan, spekulasi akan ada pembatasan properti telah memicu kekhawatiran pembeli bahwa kelayakan pembelian atau batas pinjaman mereka dapat terpengaruh jika langkah-langkah pendinginan dikeluarkan.

"Beberapa investor jangka panjang mulai bertindak karena mereka mengantisipasi bahwa mungkin lebih sulit untuk memiliki properti kedua atau ketiga jika langkah-langkah pendinginan baru diterapkan," kata Christine dikutip Bloomberg, Selasa (16/2).

Langkah-langkah yang diambil pada Juli 2018 termasuk menaikkan bea atas pembelian properti tambahan dan memperketat batas pinjaman rumah.

Bahkan tanpa batasan tambahan, Christine menambahkan, pembeli mungkin masih berada dalam posisi yang lebih baik untuk menandatangani unit lebih cepat daripada nanti, karena harga rumah kemungkinan naik lebih lanjut karena ekonomi global diprediksi meningkat tahun ini.

Ekonomi Singapura diproyeksikan akan pulih seiring dengan langkah yang dilakukan negara itu mencegah penyebaran Covid-19 dan dimulainya vaksinasi. Pemerintah Singapura masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 4%-6% tahun ini.

Selanjutnya: Ciputra Development (CTRA) catatkan MTN S$ 100 juta

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental Supply Chain Planner Development Program (SCPDP)

[X]
×