Sumber: Reuters | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China kian merambah industri otomotif. Pemerintahan Presiden Donald Trump kini menekan Ford Motor untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi, komponen, dan manufaktur dari China, langkah yang berpotensi mengubah strategi produksi industri otomotif AS.
Mengutip laporan Reuters (9/9), Menteri Transportasi AS Sean Duffy menilai kemitraan Ford dengan produsen baterai CATL serta produsen otomotif Geely dan BYD menimbulkan kekhawatiran keamanan nasional. Duffy mendesak Ford memutus hubungan dengan perusahaan-perusahaan China tersebut.
Sorotan terbesar tertuju pada teknologi baterai. Ford menggunakan teknologi berlisensi CATL di fasilitas produksi baterainya di Marshall, Michigan. Bagi Washington, ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa upaya membangun rantai pasok kendaraan listrik (EV) domestik masih bergantung pada teknologi China.
Jika tekanan pemerintah AS berujung pada pembatasan yang lebih ketat, produsen otomotif akan menghadapi tantangan untuk mengganti teknologi dan pemasok China. Dampaknya bisa berupa kenaikan biaya produksi, investasi ulang pada fasilitas manufaktur, hingga risiko gangguan pasokan baterai dan komponen EV.
Tekanan itu datang ketika produsen otomotif China justru semakin agresif berekspansi ke pasar global. Pada Agustus 2026, ekspor mobil penumpang China melonjak 77,5% secara tahunan menjadi 894.000 unit. Ekspor kendaraan listrik dan plug-in hybrid bahkan melonjak 154,7%.
Kondisi tersebut membuat persaingan semakin berat bagi produsen AS. Di satu sisi, Ford dan pemain domestik lainnya didorong untuk membangun rantai pasok yang lebih mandiri di dalam negeri. Di sisi lain, mereka harus mengejar daya saing produsen China yang memiliki skala produksi dan penguasaan teknologi EV yang kuat.
Tekanan juga meluas ke pasar AS. Sejumlah produsen otomotif besar mendesak Kongres mempercepat aturan untuk melarang kendaraan China masuk ke pasar AS dan menutup celah pengecualian bagi perusahaan seperti BYD.
Bagi industri otomotif, kebijakan tersebut berpotensi menciptakan rantai pasok otomotif yang semakin terfragmentasi. Produsen tidak lagi hanya mempertimbangkan harga dan efisiensi saat memilih pemasok, tetapi juga asal teknologi, kepemilikan perusahaan, serta risiko geopolitik.
Ford sendiri membantah kritik pemerintah. Perseroan menegaskan bahwa fasilitas baterai di Michigan dimiliki dan dikendalikan Ford, sementara perusahaan juga terus meningkatkan investasi manufaktur di AS. Namun, tekanan terbaru menunjukkan bahwa bagi Washington, kepemilikan pabrik saja tidak cukup jika teknologi dan keahlian yang digunakan masih memiliki keterkaitan dengan China.
Dengan demikian, pertarungan AS-China di sektor otomotif kini bergeser dari sekadar perang tarif menjadi perebutan teknologi dan rantai pasok. Bagi Ford dan produsen otomotif global lainnya, pilihan antara efisiensi biaya dan kemandirian rantai pasok akan menjadi semakin menentukan daya saing industri dalam beberapa tahun ke depan.














