kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Perang dagang, perusahaan China ramai-ramai pindahkan usaha ke Malaysia


Jumat, 09 Agustus 2019 / 10:16 WIB
Perang dagang, perusahaan China ramai-ramai pindahkan usaha ke Malaysia

Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Perusahaan di China ramai-ramai merelokasikan mayoritas operasional mereka ke Malaysia. Hal ini dilakukan di tengah terjadinya perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS). 

Mengutip The Star Online,IQI Global chief economist and global player Shan Saeed mengatakan, ada juga sebagian kecil investasi China yang hengkang ke Vietnam. 

Baca Juga: Perang mata uang, patutkah investor cemas?

"Sejumlah negara sebenarnya ada yang diuntungkan dari perang dagang ini. Jika Anda mengambil majalah Economist November lalu, disebutkan bahwa sektor yang diuntungkan adalah informasi teknologi dan komunikasi dan sektor otomotif dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam," jelasnya kepada Bernama

Dia juga menilai, perang dagang antara AS-China akan terus berlanjut. 

Beberapa waktu lalu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menerapkan pajak impor sebesar 10% terhadap barang-barang China senilai US$ 300 miliar mulai 1 September. 

Baca Juga: Pengamat: Pertumbuhan PDB China yang sebenarnya sudah di bawah 3% (1)

Sehari setelahnya, China mengingatkan bakal ada aksi balasan atas pernyataan Trump. Dan kondisi itu akan menyebabkan semakin memanasnya perang dagang antar kedua negara, dan berpotensi memukul perekonomian kedua negara.

"Pemerintah Malaysia mengontrol perekonomian mereka secara menyeluruh dan neraca dagangnya juga terlihat sangat kuat. Itu sebabnya investor melihat prospek cerah dari negara ini," katanya. 

Baca Juga: Demi jegal Trump agar tak terpilih lagi, China rela perekonomiannya merosot

Shan juga bilang, perekonomian Malaysia memiliki outlook positif dan diprediksi mampu mencetak pertumbuhan sekitar 4,5%-5% sampai akhir tahun. 

"Di sisi lain, ringgit tampak stabil mengingat pergerakan harga minyak yang volatil dan pelemahan yuan," tambahnya. 




TERBARU

Close [X]
×